Kota Malang, Bhirawa
Keterbatasan fasilitas di masa lalu bukan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan di masa depan. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Umar Sjaifudin MSi, yang kini sukses meniti karier hingga ke puncak birokrasi.
Sebagai alumni angkatan ketiga Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB), Umar menjadi bukti nyata bahwa lulusan kampus tersebut mampu bersaing dan memimpin instansi vertikal yang strategis di daerah. Secara pribadi, yang bersangkutan bangga sebagai alumni MIPA UB dan membagikan kisah inspiratifnya saat mengenyam bangku kuliah.
Mengingat masa lalunya yang penuh keterbatasan, Umar berpesan agar mahasiswa MIPA UB yang saat ini masih aktif kuliah tidak perlu merasa minder atau takut menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
“Jujur, zaman saya kuliah dulu serba terbatas. Bahkan waktu awal masuk, kami belum tahu banyak arahnya mau ke mana. Untuk menulis skripsi saja, fasilitas sangat minim dan mencari data itu perjuangannya luar biasa, tidak semudah sekarang yang tinggal klik,” kenang Umar bernada nostalgia.
Ia menceritakan bahwa tantangan berat di masa kuliah justru membentuk mentalitas dan ketajaman berpikir yang sangat berguna di dunia kerja. Oleh karena itu, ia menyayangkan jika mahasiswa era digital saat ini-yang difasilitasi kemudahan akses data-justru kalah visioner.
Secara khusus, Umar menaruh harapan besar pada adik-adik tingkatnya, terutama dari jurusan Statistika yang sedang menempuh tugas akhir atau penelitian. Ia menilai mahasiswa MIPA UB memiliki potensi luar biasa untuk membantu mengurai dinamika sosial di Kota Malang lewat ilmu yang mereka pelajari.
“Saya ingin ada ikatan emosional dan kontribusi nyata dari kampus tempat saya dibesarkan ini. BPS punya gudang data yang luar biasa, tapi kami di birokrasi sering kali kehabisan waktu untuk menganalisisnya secara makro dan mikro karena kesibukan operasional,” jelasnya.
Ia mencontohkan, keahlian analitis anak-anak MIPA sangat dibutuhkan untuk membedah anomali di Kota Malang. Salah satunya adalah mengapa angka kemiskinan di Kota Malang tergolong rendah di Jawa Timur, namun angka penganggurannya justru meroket tinggi.
“Ini tantangan untuk almamater saya. Ayo teman-teman mahasiswa dan dosen MIPA, gunakan data BPS. Bantu saya, bantu kota ini untuk mendeteksi dan menganalisis fenomena tersebut. Saya tunggu karya dan kontribusi nyata dari kampus tercinta,” pungkas Umar optimis. [mut.wwn]


