Tanpa Sponsor Modal Swadaya, Warga Gerongan Pasuruan Pasang Tiang Bambu 15 Meter Demi Negara Idola
Oleh:
Hilmi Husain, Pasuruan
Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko memang baru akan memulai sepak mula (kick-off) dalam hitungan hari.
Namun, atmosfer kemegahannya sudah menjalar hebat hingga ke kawasan pesisir utara Kabupaten Pasuruan.
Tepatnya di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, demam sepak bola sejagat itu meledak dalam rupa lautan bendera raksasa yang menghiasi langit desa.
Jika melintas di jalur tersebut, siapa pun akan dibuat terperangah. Alih-alih suasana sepi khas perkampungan nelayan, pengunjung justru akan disambut pemandangan kolosal.
Ratusan bendera negara-negara raksasa sepak bola mulai dari Brasil, Argentina, Portugal, Jerman, Prancis hingga Inggris berkibar gagah di atas tiang-tiang bambu setinggi 10 hingga 15 meter.
Warga setempat menjuluki wilayah mereka sebagai ‘Kampung Gibol’ alias Gila Bola. Sebuah predikat yang sama sekali tidak berlebihan jika melihat bagaimana totalitas warga setempat setiap kali hajatan empat tahunan ini menyapa.
“Kalau sudah urusan Piala Dunia, warga di sini langsung kompak tanpa perlu disuruh. Ini sudah jadi tradisi turun-temurun setiap empat tahun sekali,” kata Samian (35), salah seorang warga saat ditemui Bhirawa, Rabu (10/6).
Yang membuat geleng-geleng kepala, seluruh atribut yang terpasang di sepanjang jalan desa hingga masuk ke gang-gang sempit tersebut murni berasal dari swadaya masyarakat.
Tidak ada suntikan dana dari sponsor kakap, apalagi kucuran anggaran pemerintah desa.
Warga rela merogoh kocek pribadi yang tidak sedikit demi membeli kain bendera berkualitas dan berukuran besar. Untuk satu bendera raksasa, biayanya berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000.
Angka itu belum termasuk biaya membeli bambu panjang sebagai tiang penopang.
Namun, bagi masyarakat Gerongan yang mayoritas bekerja di sektor tambak dan perikanan, urusan biaya seolah menjadi nomor sekian demi sebuah gengsi dan kepuasan batin.
Muhammad Samsul (32), pemuda setempat, menceritakan tradisi ini sejatinya sudah mengakar sejak era kakek-nenek mereka. Bedanya, dulu gaung Kampung Gibol belum terekspos luas seperti di era media sosial saat ini.
“Persiapan biasanya kami lakukan seminggu sebelum turnamen. Warga bergotong-royong. Ada yang bagian mencari bambu, menjahit kain bendera yang robek, sampai pasang bersama-sama di depan rumah sesuai negara idola masing-masing,” papar Samsul yang musim ini konsisten menjagokan Portugal.
Sisi menarik lain dari Kampung Gibol bisa ditemukan di kediaman Muhammad Syafi’i (58). Di halaman rumahnya, bendera Albiceleste Argentina berkibar paling dominan. Syafi’i adalah potret loyalis sepak bola lintas generasi.
Cintanya pada Argentina lahir sejak era 1980-an, tepatnya saat ia terhipnotis oleh aksi magis mendiang Diego Maradona di Piala Dunia 1986.
Kini, tongkat estafet kekagumannya berlanjut pada sosok Lionel Messi. Syafi’i bahkan masih ingat betul bagaimana langkah terseok-seok Argentina di laga perdana Piala Dunia Qatar empat tahun lalu sebelum akhirnya keluar sebagai juara dunia.
“Tim besar itu justru bagus kalau mendapat pelajaran di awal turnamen. Saya yakin tahun ini mereka bisa mempertahankan status juara,” cetus Syafi’i optimistis.
Demi mendukung tim kesayangannya di Piala Dunia 2026 yang mayoritas laganya disiarkan pagi hari WIB, Syafi’i bahkan rela menyiasati waktu kerjanya.
“Pekerjaan di tambak bisa diatur ulang jalurnya. Kalau Argentina main pagi, saya pilih pulang lebih cepat atau meluangkan waktu khusus untuk nonton. Pokoknya tidak boleh kelewatan,” kata Syafi’i sembari tertawa.
Bagi warga Gerongan, esensi dari julukan ‘Kampung Gibol’ sebenarnya bukan sekadar estetika bendera yang bertebaran, melainkan riuhnya kebersamaan saat menggelar nonton bareng (nobar).
Di desa yang memiliki lima dusun ini, sedikitnya ada 50 titik lokasi nobar yang tersebar di pelataran rumah, warung kopi, hingga pos kamling.
Setiap kali pertandingan berlangsung, suasana desa langsung hidup dan berubah menjadi riuh. Apalagi, pelaksanaan Piala Dunia kali ini berdekatan dengan momen libur sekolah, sehingga dipastikan penonton dari kalangan anak-anak hingga orang tua akan membeludak.
Aksi saling goda dan saling ledek (psywar) antartetangga menjadi bumbu yang paling dinanti. Pendukung tim yang kalah harus siap mental menjadi sasaran candaan rekan sekampung keesokan harinya.
Namun, semua itu tetap dalam koridor guyub dan mempererat silaturahmi. Dan uniknya, kemegahan bendera-bendera ini memiliki tenggat waktu tersendiri melalui hukum seleksi alam.
Sekretaris Desa Gerongan, Kashani, menjelaskan pemandangan lautan bendera ini hanya akan utuh selama fase grup.
“Nanti kalau sudah masuk babak gugur, warga yang tim jagoannya kalah atau tersingkir biasanya akan menurunkan benderanya sendiri secara sukarela karena malu. Jadi, makin mendekati babak final, benderanya makin habis. Sampai nanti tersisa dua bendera dari negara yang masuk final saja,” kata Kashani membeberkan kebiasaan unik warganya.
Kini, Kampung Gibol bukan lagi sekadar ruang berekspresi warga Gerongan. Saban empat tahun sekali, desa di pesisir Pasuruan ini bertransformasi menjadi jujukan wisata dadakan.
Banyak warga luar daerah sengaja datang hanya untuk berfoto di bawah kibaran ratusan bendera internasional. Sebuah bukti nyata bahwa dari pinggiran pesisir Pasuruan, gairah sepak bola dunia bisa dirayakan dengan begitu megah dan merakyat. [hil.gat]


