28 C
Sidoarjo
Monday, June 1, 2026
spot_img

Waka BGN Instruksikan KSPPG Belanja Telur Langsung ke Peternak

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang ketika berbicang dengan salahsatu peternak telur di kawasan wisata Refugia, Magetan. Achmad Tauriq/bhirawa

Kunjungi Ratusan Pelaku Usaha di Kawasan Wisata Refugia, Magetan

Magetan, Bhirawa
Mendukung pertumbuhan perekonomian rakyat dan menjaga kestabilan rantai pasok pangan di daerah tetap aman dan terkendali.
Direktorat Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat, Badan Gizi Nasional dan Pemerintah Daerah Magetan menggelar pertemuan dan turun ke pasar untuk menjaga stabilitas harga pangan dan memantau laju ekonomi lokal.

Untuk itu Direktorat Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat, Badan Gizi Nasional dan Pemerintah Daerah Magetan menggelar pertemuan dan turun ke pasar untuk menjaga stabilitas harga pangan dan memantau laju ekonomi lokal.

Adapun kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang dan Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti mengunjungi pasar dan bertemu muka dengan ratusan pelaku usaha di kawasan wisata Refugia, Kabupaten Magetan.

Menindaklanjuti atas terjadinya aksi demonstrasi bagi-bagi telur gratis oleh para peternak ayam petelur di Kawasan simpang empat Alun-Alun Magetan pada awal bulan Mei lalu.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang menginstruksikan kepada seluruh KSPPG untuk membeli telur langsung ke para peternak maupun koperasi.

“Apabila nanti diketemukan ada mitra yang tidak membeli telur ke peternak atau koperasi maka akan kami suspend,” tegasnya.

Nanik menambahkan saat ini Pemerintah Tengah berupaya membangun kebijakan yang lebih kolaboratif antara SPPG dengan para pelaku ekonomi lokal sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan rantai pasok bahan pangan Makan Bergizi Gratis yang mendukung perekonomian warga setempat.

Berita Terkait :  Tanam 435 Bibit Pohon, PLN UIT JBM Hijaukan Bantaran Sungai Kalibokor Surabaya

Untuk meningkatkan penghasilan para peternak telur ketika harga telur anjlok, Nanik mengimbau kepada SPPG untuk menggunakan telur.

“Yang awalnya hanya satu sampai dua kali, maka ditingkatkan sampai 3-4 kali menggunakan telur sampai harga kembali stabil ditingkat peternak,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kebijakan pemenuhan gizi nasional mendorong program Makan Bergizi Gratis memberikan dampak perekonomian yang nyata dan signifikan bagi kesejahteraan Masyarakat.

Dapur MBG (SPPG) tampil lebih responsif dengan memprioritaskan belanja bahan baku kepada pelaku usaha terdekat di sekitarnya untuk membangun ekosistem perekonomian yang mensejahterakan secara berkelanjutan.

Fasilitasi sinergi ekonomi kerakyatan serupa telah dilaksanakan oleh Badan Gizi Nasional di berbagai tempat, sebelumnya di daerah Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat, upaya sinergu pusat dan daerah tersebut mendapat dukungan positif.

Termasuk di Magetan Pemerintah Kabupaten Magetan menyambut positif relevan dengan fenomena terjadinya surplus produksi dan lemahnya serapan pasar yang menyebabkan stok telur melimpah dan kondisi yang sama dapat terjadi terhadap produk pangan lainnya.

Maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus bergandengan tangan mendukung usaha rakyat dan menjaga iklim dan stabilitas harga yang sehat serta mendukung produktivitas pertanian dan peternakan masyarakat yang lebih berkembang dan berdaya saing.

Adapun langkah strategis ini menandai fase kebijakan Program MBG yang mampu mendorong pertumbuhan baru tidak hanya dalam menyerap tenaga kerja atau relawan, namun mulai menunjukkan dampak terhadap pasar.

Sehingga meyakinkan publik bahwa program MBG yang menjadi andalan Presiden Prabowo tidak berhenti berbicara tentang gizi dan kesehatan serta Pendidikan generasi anak di masa depan, namun juga terbukti berdampak pada laju dan denyut perekonomian di masing-masing wilayah seluruh Indonesia.

Berita Terkait :  DPR RI Menilai Pentingnya Penguatan Literasi Nasional Hadapi Tantangan Era Informasi

Badan Gizi Nasional 30 Mei 2026 mencatat jumlah relawan yang bertugas di SPPG telah mencapai 1,3 juta, dengan penerima manfaat berjumlah 62,78 juta dan total supplier berjumlah 146.817, diantaranya supplier dari UMKM berjumlah 61.834 dan koperasi berjumlah 13.514.

Jumlah tersebut akan terus mengalami peningkatan secara cepat sehingga Program MBG selain difokuskan pada pemenuhan gizi untuk meningkatkan kualitas Kesehatan dan mempercepat daya saing dalam bidang pendidikan juga mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat.

Anggaran Badan Gizi Nasional yang selama ini dinilai signifikan langsung masuk ke dapur produksi MBG dan diserap oleh usaha-usaha warga dan diolah untuk kesehatan Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita (3B) serta anak-anak didik dibangku sekolah tingakat Pendidikan usia dini hingga tingkat sekolah menegah atas.

Hal ini senada dengan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak ekonomi ganda (multiplier effect) yang sangat luar biasa, menggerakkan ekonomi akar rumput, serta menyerap ratusan ribu tenaga kerja.

Selanjutnya ditegaskan oleh Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat, Badan Gizi Nasional, Tengku Syahdana bahwa SPPG harus mampu memberdayakan warga masyarakat sekitar SPPG dengan minimal harus memiliki daftar belanja kepada 15 supplier lokal sehingga MBG benar-benar menjadi bagian dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton namun harus menjadi bagian ekosistem program Makan Bergizi Gratis.

Berita Terkait :  Turunkan Angka Stunting, Sejumlah Daerah di Jatim Terima Penghargaan BKKBN

Bupati Magetan, Hj. Nanik Endang Rusminiarti, M.Pd.. menerangkan bahwa Kabupaten Magetan merupakan Kabupaten terkecil kedua setelah Sidoarjo. Namun, seiring dengan kondisi infrastruktur khususnya jalan yang sudah baik dan tidak adanya Medan yang ekstrem membuat banyak mitra yang minat mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Magetan.

“Di Kabupaten Magetan ini sudah ada 71 SPPG tapi yang 12 kena suspend sehingga yang beroperasional 59 perlu kami laporkan bahwa kami juga sudah menyediakan satu gedung yang strategi tepatnya di utara alun-alun Magetan ini sebagai kantor pelayanan pemenuhan gizi sekaligus menjadi sekretariat satgas MBG sehingga masyarakat tidak lagi kebingungan untuk mendapatkan informasi tentang program MBG di Kabupaten Magetan,” terangnya.

Bupati Magetan, Nanik memaparkan di kabupaten ini semua bahan pangan segar ada kecuali ikan laut untuk beras produksi mencapai 227.000 ton per tahun dan untuk konsumsi hanya 56.000 ton per tahun, produksi telur 25.600 ton per tahun dan untuk konsumsinya hanya 11.190 ton per tahun dan sayuran 95.500 per tahun untuk konsumsinya hanya 23.500 ton per tahun.

“Artinya masih mampu mencukupi kebutuhan MBG di Kabupaten Magetan bahkan bisa mencukupi di Kabupaten sekitar seperti Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Pacitan bahkan sampai ke Wonogiri karena kebetulan kita juga berbatasan dengan Wonogiri,” ujarnya.

Nanik berharap adanya penekanan kepada seluruh SPPG di Kabupaten Magetan untuk memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari Magetan sendiri. “Karena kalau semua ini berjalan kami yakin selain mampu menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pangan juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat secara luas,” pungkasnya. [riq.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!