Surabaya, Bhirawa
Berbagai program terobosan inivasi untuk meningkatakan pelayanan pendidikan di Jawa Timur mendapat apresiasi dari Gubes Fakultas Ekonomi Prodi S2 Manajemen Universitas Sriwijaya Prof Dr Dyah Natalisa.
Dalam kunjungan sebagai saat menghadiri pemaparan inovasi Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur dalam rangka pemantapan Innovation Government Award (IGA) Kemendagri, Prof Dyah mengapresiasi program unggulan East Java Innovation Education Summit (EJIES).
Prof Dyah menilai budaya inovasi di Jawa Timur, khususnya di sektor pendidikan, telah terbentuk dengan baik dan menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, inovasi menjadi faktor penting untuk mempercepat akselerasi pembangunan dan pelayanan publik.
“Kalau hanya berjalan biasa-biasa saja, akselerasinya tidak akan cepat. Karena itu dibutuhkan terobosan melalui inovasi,” ujar Dyah.
Ia mengatakan, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan inovasi. Namun tantangan terbesar adalah memastikan inovasi tersebut dapat ditindaklanjuti dan benar-benar memberikan dampak nyata sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.
Dyah mengapresiasi capaian Jawa Timur yang hingga kini memiliki indeks inovasi terbaik tingkat provinsi di Indonesia. Bahkan, menurutnya, berbagai inovasi yang lahir di Jawa Timur selalu selangkah lebih maju dibanding daerah lain.
“Saya menyebut Jawa Timur selalu one step ahead,” katanya.
Secara khusus, Dyah menyoroti berbagai inovasi yang dikembangkan Dindik Jatim karena dinilai tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan guru dan murid.
Menurutnya, Dindik Jatim juga berhasil membangun ekosistem inovasi melalui proses kurasi dan kompetisi inovasi antar sekolah di Jawa Timur. Dari proses tersebut, inovasi terbaik kemudian dipilih untuk diikutsertakan dalam ajang IGA Kemendagri tahun 2025.
“Budaya inovasi itu sudah terbentuk. Ini yang sulit. Karena kadang orang ingin berinovasi tetapi khawatir dengan risikonya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berbagai inovasi yang dikembangkan juga telah masuk dalam proses pembelajaran dan memberikan dampak positif terhadap murid maupun guru. Selain meningkatkan literasi teknologi, inovasi tersebut juga dinilai mampu mendukung peningkatan ekonomi dan kebahagiaan peserta didik.
Meski demikian, Dyah mengingatkan pentingnya melembagakan inovasi agar program-program yang sudah terbukti berhasil tidak berhenti ketika terjadi pergantian pimpinan.
“Inovasi yang baik harus dilembagakan sehingga siapapun pemimpinnya, praktik-praktik baik yang sudah berdampak nyata tetap bisa dilanjutkan dan dikembangkan,” tegasnya.
Ia juga mendorong Dindik Jatim untuk memperkuat integrasi teknologi digital serta transformasi guru berbasis kewirausahaan dalam pengembangan inovasi pendidikan ke depan.
Selain itu, Dyah menyarankan agar Dindik Jatim melakukan survei penerima manfaat terhadap berbagai program inovasi yang telah dijalankan, seperti Program Proteg maupun East Java Innovative Education Summit (EJIES), guna mengukur dampak langsung inovasi bagi masyarakat. [ina.gat]


