33.2 C
Sidoarjo
Thursday, May 7, 2026
spot_img

Saat Lahan Industri Lama Mulai Penuh, Koridor Timur Jabodetabek Muncul Jadi Magnet Baru Investor

Surabaya, Bhirawa

Pasar kawasan industri di Jabodetabek dan sekitarnya tengah memasuki babak baru. Di tengah keterbatasan lahan di kawasan industri matang seperti Bekasi dan Karawang, koridor timur Jakarta yang meliputi Purwakarta hingga Subang mulai mencuri perhatian pelaku usaha sebagai lokasi ekspansi berikutnya.

Pergerseran arah ini tercermin dari laporan terbaru Quarterly Property Market Report Q1 2026, Jakarta Sektor Kawasan Industri, dari Colliers. Laporan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri kian bergerak ke wilayah yang masih memiliki cadangan lahan luas, infrastruktur yang terus membaik, serta potensi pengembangan jangka panjang yang lebih besar.

Penyerapan lahan industri pada kuartal pertama 2026 tercatat mendekati 90 hektar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap kawasan industri tetap kuat, meski para investor kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya stabil, pasar industri Indonesia justru menunjukkan ketahanan. Namun, keterbatasan pasokan di kawasan yang sudah mapan membuat pelaku industri mulai melirik wilayah baru yang menawarkan ruang tumbuh lebih longgar.

“Keterbatasan lahan di kawasan matang mendorong penyewa untuk mempertimbangkan lokasi lebih ke timur, di mana lahan luas dan harga yang lebih kompetitif masih tersedia,” terang Ferry Salanto, Head of Industrial & Logistics Services Colliers Indonesia, Kamis (7/5/2026).

Berita Terkait :  Raih Top Brand Award 2025, Yantje Wongso: Air Minum Biru Dipercaya Konsumen

Purwakarta menjadi salah satu wilayah yang mulai menunjukkan daya tariknya. Pada Q1 2026, wilayah ini mencatat transaksi lahan seluas 22 hektar di Jatiluhur Industrial Smart City (JISC), dengan aktivitas yang didominasi perusahaan manufaktur lokal.

Sementara itu, Subang dipandang sebagai kawasan dengan prospek paling menjanjikan ke depan. Kehadiran pabrik BYD dan dukungan Pelabuhan Patimban membuat wilayah ini semakin diperhitungkan sebagai pusat pertumbuhan industri baru di timur Jakarta.

Perubahan lanskap industri ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya minat dari sektor non-manufaktur. Selain manufaktur, sektor pusat data dan kimia menyumbang lebih dari 36 persen dari total akuisisi lahan pada kuartal tersebut. Transaksi terbesar bahkan terjadi di koridor barat, tepatnya Cilegon, seluas 26 hektar untuk industri petrokimia dan pipa.

Dari sisi harga, pasar lahan industri juga menunjukkan tren naik. Rata-rata harga permintaan lahan industri kini mencapai USD 181,59 per meter persegi. Kenaikan paling terasa terjadi di wilayah berkembang seperti Subang, seiring perbaikan infrastruktur dan menguatnya momentum investasi.

“Pertumbuhan harga paling terlihat di wilayah berkembang seperti Subang, yang didorong oleh perbaikan infrastruktur dan momentum investasi yang terus menguat,” pungkasnya. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!