Kota Batu,Bhirawa
Budidaya jamur yang ada di Desa Tulungrejo, Kota Batu merupakan potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi tempat edukasi. Potensi ini menginìsiasi destinasi wisata Mikutopia menjadikannya konsep wisata berbasis pembelajaran. Dengan membuat inovasi yang melibatkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal desa, kini wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu bisa mendapatkan pengalaman edukasi budidaya jamur.
Untuk mewujudkan wisata edukasi budidaya jamur, manajemen Mikutopia menggandeng SDM Desa Tulungrejo yang tergabung dalam Sahabat Mikutopia. Kelompok ini sekaligus menjadi komunitas pemberdayaan masyarakat desa sekaligus memperkuat ekosistem wisata berbasis komunitas.
Inovasi inipun diwujudkan dalam bentuk program edukasi bertajuk ‘Mikutopia Mushroom Edu Experience’. “Program ini merupakan sebuah konsep wisata berbasis pembelajaran budidaya jamur yang dikembangkan bersama masyarakat sekitar,”ujar Panji Akbar Ramadani, Manajer Operasional Mikutopia, Selasa (21/4).
Dengan adanya program, kini petani dan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton. Kini mereka bisa berperan aktif dalam pengembangan destinasi wisata edukasi pertanian. “Program ini kami bangun bersama Sahabat Mikutopia yang merupakan warga lingkungan sekitar. Kami ingin masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut tumbuh bersama berkembangnya destinasi wisata ini,” jelas Panji.
Melalui program edukasi jamur ini, pengunjung tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga menambahvwawasan tentang budidaya jamur. Dalam edukasi yang diberikan, peserta dikenalkan berbagai jenis jamur, mulai dari jamur konsumsi, jamur obat, hingga jamur beracun.
Dalam konsep wisata edukasi, pemberian wawasan kepada wisatawan tidak berhenti banyak pada teori. Tetapi mereka juga diajak melihat langsung proses budidaya jamur menggunakan media tanam baglog. Pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang interaktif sekaligus aplikatif sehingga wisatawan bisa melakukan praktek langsung.
Selain memberikan pengalaman baru bagi wisatawan, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kegiatan menjadi bagian dari strategi pengembangan wisata berkelanjutan.
Dan konsep ini dikemas dengan berdurasi sekitar 30 – 60 menit. Dengan durasi yang tidak terlalu lama membuatnya cocok sebagai edukasi kepada rombongan siswa sekolah, komunitas, maupun keluarga. “Bagi peserta usia dini, kegiatan dikemas secara kreatif dan menyenangkan. Seperti, anak-anak diajak mewarnai gambar jamur, mengenal bentuk dan warna, hingga mengerjakan lembar aktivitas edukatif,” tambah Panji.
Ditambahkan Koordinator Sahabat Mikutopia, Achmad Artur J Tampi bahwa program ini diyakini mampu memberikan dampak nyata. Bagi para wisatawan yang ingin belajar banyak tentang budidaya jamur sangat tepat dengan mengikuti edukasi ini.
“Harapan kami, wisata ini tidak hanya ramai pengunjung, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi warga. Anak-anak bisa belajar, wisatawan merasa senang, dan perekonomian masyarakat lokal juga ikut terangkat,” ujar Artur.[nas.hel]


