27 C
Sidoarjo
Tuesday, April 21, 2026
spot_img

Mengusung Tema ‘Kartini Dulu dan Kartini Sekarang’ SD Muhammadiyah 9 Gelar Kartinian


Siswa Diajak Kenang Perjuangan Lewat Budaya dan Cita-cita
Surabaya, Bhirawa
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SD Muhammadiyah 9 Sukolilo, Kenjeran, Surabaya menggelar peringatan Hari Kartini bertema ‘Kartini Dulu dan Kartini Sekarang’, Selasa (21/4) kemarin. Acara ini dikemas secara edukatif dan menyenangkan untuk mengenalkan makna perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini kepada para siswa.

Menurut Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 9 Surabaya, Ustadzah Aris Wahyuningsih SPd, kegiatan ini bertujuan menanamkan pemahaman kepada anak-anak bahwa perjuangan RA Kartini di masa lalu untuk membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan. Sedangkan tugas perempuan masa kini untuk melanjutkan perjuangan RA Kartini dengan mempertahankan semangat belajar dan meraih cita-cita setinggi mungkin.

“Tugas perempuan masa kini untuk melanjutkan perjuangan RA Kartini dengan mempertahankan semangat belajar dan meraih cita-cita setinggi mungkin,” kata Ustadzah Ayu-sapaan akrab Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 9 Surabaya.

Ustadzah Ayu berharap, melalui kegiatan ini, para siswa dapat memaknai peringatan Hari Kartini tidak sekadar sebagai seremonial berkebaya dan berkonde. ”Kami ingin anak-anak memahami bahwa semangat RA Kartini adalah semangat untuk terus belajar, berani bermimpi dan menjadi pribadi yang bermanfaat, tanpa melupakan budaya bangsa sendiri,” tuturnya.

Rangkaian acara Peringatan Hari Kartini diawali seluruh siswa dengan penuh semangat mengiringi arak-arakan Tunas Bahari Drumband yakni drumband SD Muhammadiyah 9 Surabaya, Fashion Show Kartini yang diperagakan para siswa kelas VI. Mereka tampil dalam dua konsep, yakni Kartini masa lalu yang anggun dengan balutan kebaya, serta Kartini modern yang hadir dalam beragam profesi seperti dokter, guru, wartawan dan perawat.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Pastikan SPMB Transparan, Akuntabel dan Berkeadilan

“Penampilan para siswi ini menjadi simbol bahwa perempuan saat ini memiliki kebebasan untuk berkarya dan menentukan jalan hidupnya, termasuk memilih peran sebagai ibu rumah tangga yang mulia,” tandasnya Ustadzah Ayu.

Tak hanya itu, suasana kian meriah dengan alunan Tembang Dolanan seperti Jaranan dan Cublak-cublak Suweng. Para siswa juga diajak kembali ke akar budaya melalui Festival Permainan Tradisional dengan dipandu Kakak-kakak yang tergabung dalam Sanggar Griyo Maos. Berbagai permainan seperti bekel, lompat tali, gasing atau kekean dan engklek, gobak sodor dihadirkan kembali di tengah maraknya permainan modern, agar nilai-nilai kearifan lokal tetap lestari di hati anak-anak.

“Tujuannya untuk memperkenalkan anak-anak tentang Tembang Dolanan yang mulai tergerus zaman termasuk dengan permainan tradisional yang sekarang anak-anak sudah tidak mengenalnya lagi, mereka lebih asik dengan permainanan modern, seperti game yang ada di dalam aplikasi HP. Jadi kami memajukan anak-anak dari mainan modern, kami juga mengambil permainan tradisional diangkat untuk diperkenalkan kepada anak seperti bekel, lompat tali, gasing atau kekean dan engklek, gobak sodor. Sedangkan permainan modern jenis digital yang positif juga diperkenalkan kepada para siswa seperti game edukatif dan ular tangga,” jelas Ustadzah Ayu.

Salah satu siswa kelas IV, Arsyal mengaku senang bisa berkesempatan memainkan permainan tradisional. Menurutnya, dirinya senang bisa bermain gasing atau kekean, engklek dan gobak sodor bersama temannya. ”Seru bisa bermain permainan tradisional. Kalau di sekolah bermain dengan teman sekolah kalau di rumah bermain dengan teman-teman dilingkungan sekolah. Pokoknya seru bisa bermain permainan tradisional ini,” katanya. [fen]

Berita Terkait :  IGTKI Sidoarjo Serukan Bahaya Kecanduan Gadget bagi Anak Usia Dini

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!