27 C
Sidoarjo
Wednesday, March 25, 2026
spot_img

Pasuruan Kota dan Kabupaten Terkepung Banjir, Ketinggian Air Capai 1,2 Meter

Kabupaten Pasuruan, Bhirawa
Sukacita perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di wilayah Pasuruan Raya, berubah menjadi kecemasan. Memasuki hari keempat Lebaran, Rabu (25/3), ribuan warga di Kabupaten dan Kota Pasuruan terpaksa berjibaku dengan banjir akibat luapan sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tak mampu menampung tingginya debit air hujan sejak Selasa malam.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan menunjukkan, sedikitnya sembilan kecamatan terdampak genangan dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga titik terdalam yang melampaui 120 sentimeter. Intensitas hujan ekstrem di wilayah hulu disinyalir menjadi pemicu utama meluapnya sungai-sungai utama yang membelah wilayah ini.

Bagi warga terdampak, banjir kali ini terasa lebih menyesakkan karena terjadi di tengah suasana Lebaran. Sulaiman (45), warga Kedungboto, Kecamatan Beji, menceritakan bagaimana air mulai merangsek masuk ke dalam rumahnya saat keluarga sedang beristirahat setelah seharian menerima tamu.

”Airnya masuk cepat sekali sekitar jam 10 malam. Padahal kue-kue Lebaran masih di meja, pakaian baru anak-anak juga belum sempat disimpan. Semuanya basah. Tahun ini kami tidak silaturahmi, tapi sibuk menguras air dan menyelamatkan barang,” ujar Sulaiman dengan nada getir saat ditemui sedang membersihkan sisa lumpur, Rabu (25/3) pagi.

Hal serupa dirasakan Aminah (52), warga Winongan. Menurutnya, meski wilayahnya merupakan langganan banjir, luapan kali ini termasuk yang paling tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Berita Terkait :  Khofifah Siapkan Pendirian SPBN Masuk Prioritas 100 Hari Kerja jadi Solusi Kelangkaan BBM

”Biasanya hanya semata kaki di dalam rumah, sekarang sampai selutut lebih. Padahal kami baru saja senang-senang merayakan Idul Fitri. Sekarang rasanya lemas melihat rumah kotor semua,” kata Aminah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi menyatakan, banjir kali ini memiliki cakupan wilayah yang cukup luas.

Hingga Selasa pukul 22.50 WIB, wilayah yang terendam meliputi Kecamatan Rejoso, Bangil, Beji, Winongan, Grati, Gondangwetan, Kejayan, Kraton hingga Pasrepan.

”Curah hujan tinggi menyebabkan beberapa DAS meluber ke kawasan permukiman. Kami terus melakukan pemantauan intensif di lapangan karena kondisi cuaca masih fluktuatif,” kata Sugeng Hariyadi.

Kecamatan Beji menjadi wilayah terdampak paling parah dengan ketinggian air mencapai 1,2 meter di beberapa titik. Sementara di pusat ekonomi seperti Bangil dan Rejoso, air menggenangi akses jalan utama dan permukiman dengan ketinggian 20 hingga 60 sentimeter, yang sempat menghambat mobilitas warga yang hendak bepergian.

Kondisi tak kalah pelik terjadi di wilayah Kota Pasuruan. Sekretaris BPBD Kota Pasuruan, Luthfan Asysyam, menjelaskan seluruh kecamatan di wilayah kota terdampak akibat meluapnya tiga sungai utama. Yakni, Sungai Welang, Sungai Petung dan Sungai Gembong. Banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga sempat melumpuhkan urat nadi transportasi di Jalur Pantura.

”Beberapa tanggul dilaporkan jebol karena tidak kuat menahan arus. Dampaknya merata,” kata Luthfan Asysyam.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap dalam status waspada. Prediksi BMKG menunjukkan potensi hujan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko banjir susulan tetap terbuka lebar.

Berita Terkait :  PCU Luncurkan DompetNgedol.ly, Bantu Pengrajin Batik Eks Lokalisasi Dolly Kelola Keuangan

Sementara itu, Pemkab Pasuruan bersama Pemprov Jawa Timur mulai merancang kajian teknis mendalam untuk menanggulangi persoalan banjir tahunan yang merendam pemukiman warga. Langkah itu diambil menyusul curah hujan tinggi yang memicu luapan air dengan volume terbesar dalam beberapa waktu terakhir, terutama di kawasan pesisir dan dataran rendah.

Wakil Bupati Pasuruan, HM Shobih Asrori, saat meninjau lokasi terdampak di Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Rabu (25/3) siang, menyatakan mitigasi jangka panjang tidak bisa lagi ditunda. Desa Kedungringin selama ini dikenal sebagai wilayah langganan banjir setiap kali intensitas hujan meningkat tajam, seperti yang terjadi pada Selasa malam sebelumnya.

”Bisa dibilang, banjir yang terjadi mulai kemarin malam sampai hari ini adalah yang terbesar. Maka dari itu, kajian teknis harus terus dilakukan agar ke depannya volume banjir tidak sebesar ini dan tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat,” papar Gus Shobih panggilan akrabnya di sela-sela kunjungannya.

Wakil Bupati didampingi Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto dan Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi. Selain memantau kondisi debit air yang merendam rumah warga, rombongan juga menyerahkan bantuan logistik darurat berupa makanan siap saji dan kebutuhan pokok lainnya.

Selain meninjau pemukiman, fokus pemantauan juga diarahkan pada kesiapan hilir di Shelter Kebencanaan yang berlokasi di Bangil.

Di tempat ini, para petugas dan relawan tampak sibuk menyiapkan ribuan porsi makanan untuk didistribusikan ke titik-titik isolasi warga yang terjebak genangan.

Berita Terkait :  Pemkab Kediri Siapkan Kelengkapan Administrasi Hibah Tanah Sekolah Rakyat

Gus Shobih menilai keberadaan shelter pusat ini krusial dalam masa tanggap darurat. Kecepatan distribusi air minum dan konsumsi menjadi prioritas utama karena akses warga untuk memasak mandiri di rumah umumnya lumpuh total saat air meninggi.

”Keberadaan shelter sangat efektif untuk memenuhi kebutuhan kedaruratan yang mendesak, khususnya nasi bungkus dan air bersih. Kami sangat mengapresiasi dedikasi para petugas dan relawan yang bekerja tanpa henti di lapangan,” kata Gus Shobih. [hil.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!