27 C
Sidoarjo
Thursday, March 5, 2026
spot_img

Hearing Komisi C, Josiah Michael Sempat Bersitegang dengan Kepala DSDABM

DPRD Surabaya, Bhirawa
Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kota Surabaya melalui Komisi C, Kamis (5/3/2026), berlangsung memanas saat membahas aduan warga terkait rencana perluasan Boezem Simomulyo Baru oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Ketegangan terjadi ketika anggota dewan dari Fraksi PSI, Josiah Michael, terlibat adu argumen dengan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Surabaya (DSDABM), Hidayat Syah.

RDP yang dipimpin Ketua Komisi C Eri Irawan ini awalnya berjalan kondusif. Sejumlah anggota dewan secara bergiliran menyampaikan pandangan mereka, di antaranya Herlina Harsono Nyoto dan Achmad Nurdjayanto.

Namun suasana mulai memanas ketika Josiah Michael menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait rencana perluasan boezem yang disebut akan berdampak pada permukiman warga.

Dalam penyampaiannya, Josiah mempertanyakan perbedaan data luasan lahan yang disebutnya mencapai lebih dari 10 ribu meter persegi antara dokumen yang disampaikan dinas dengan data lain yang diterima dewan.

Ia mengaku meragukan keabsahan data tersebut dan meminta pemerintah kota melakukan kajian ulang sebelum mengambil keputusan yang berdampak pada warga.

Menurutnya, pencabutan izin pemanfaatan tanah oleh pemerintah kota tidak bisa hanya dilihat dari aspek administrasi atau kebutuhan proyek semata.

Ia menilai Pemkot harus mempertimbangkan dampak sosial yang muncul jika rumah warga digunakan untuk perluasan boezem.

Josiah menyoroti bahwa kawasan tersebut tidak hanya dihuni warga, tetapi juga menjadi tempat berbagai usaha perdagangan dan jasa yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Berita Terkait :  UPT RSBN Malang Uji Coba Tongkat Penuntun Adaptif Kemensos Lewat Inovasi MLT

Ia juga menyinggung keberadaan rumah ibadah di lokasi yang direncanakan terdampak proyek.

“Kalau izin dicabut, apakah sudah dihitung dampak sosialnya? Di sana bukan hanya rumah tinggal, ada usaha, ada pekerja yang menggantungkan hidupnya. Bagaimana nasib mereka?” ujarnya dalam rapat.

Ia juga menilai pemerintah kota seharusnya lebih dulu memanfaatkan lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (PSU) dari pengembang yang belum diserahkan kepada pemerintah, sebelum mengambil lahan yang ditempati warga.

Ketegangan meningkat ketika Hidayat Syah memberikan tanggapan. Ia menegaskan bahwa lokasi yang direncanakan telah melalui kajian teknis dan dianggap paling memungkinkan untuk pengembangan boezem guna mengendalikan aliran air dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, pemerintah juga harus melihat dampak yang lebih luas, termasuk potensi banjir yang bisa terjadi jika sistem pengendalian air tidak diperkuat.

Namun jawaban tersebut memicu reaksi keras dari Josiah. Merasa pandangannya dianggap remeh, ia langsung menggebrak meja rapat.

Dengan nada tinggi, ia menegaskan bahwa sebagai anggota dewan dirinya sedang menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

“Saya ini sedang menjalankan hak dewan untuk melakukan pengawasan. Kalau tidak bersedia diawasi, silakan mundur dari ASN,” tegasnya.

Situasi yang sempat memanas itu membuat pimpinan rapat, Eri Irawan, segera mengambil langkah cepat untuk meredakan ketegangan. Ia meminta kedua pihak menahan diri agar forum tetap berjalan kondusif.

Berita Terkait :  Kerja Bakti, Semangat Gotong-royong Warga RT 10 Sepanjang Jalan Kyai Sulaiman

Setelah suasana kembali tenang, rapat dilanjutkan dengan pembahasan teknis mengenai rencana proyek serta aspirasi warga yang meminta pemerintah kota meninjau ulang rencana perluasan boezem tersebut. [dre]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!