Surabaya, Bhirawa
Pasar Induk Puspa Agro, salah satu pusat distribusi komoditas pangan terbesar di Jawa Timur, tengah mengembangkan aplikasi online terintegrasi.
Aplikasi ini dirancang untuk mencatat penjualan secara real-time, memantau ketersediaan stok produk, serta mengotomatisasi proses manajemen operasional.
Inisiatif ini diharapkan memperkuat struktur pengelolaan bagi ratusan pedagang yang beroperasi di pasar tersebut.
Direktur Utama PT Puspa Agro, M. Diah Agus Muslim, menyampaikan hal ini saat dikonfirmasi Bhirawa pada Kamis (5/3).
“Aplikasi ini bakal diluncurkan tahun 2026 ini. Saat ini masih dalam proses pengembangan, dan dalam waktu dekat kita akan launching,” ujarnya.
Menurut Agus Muslim, aplikasi tersebut akan memudahkan manajemen Pasar Induk Puspa Agro dalam mengawasi aktivitas pedagang. Sistem ini dapat diakses dari mana saja, sehingga tim pengelola bisa memantau stok produk secara langsung tanpa terbatas lokasi.
“Misalnya, manajemen Pasar Puspa ingin memantau stok produk, bisa dilakukan di mana saja,” tambahnya.
Aplikasi ini juga menjadi alat strategis untuk mengatasi perilaku tidak patuh dari sebagian pedagang. Agus Muslim menekankan bahwa fitur integrasi data akan meminimalkan kebocoran pelaporan stok komoditas.
“Kami dapat memantau para pedagang dan meminimalisir kebocoran pada pelaporan ketersediaan stok di Puspa Agro. Jadi, kita bisa tegur jika ada yang tidak sesuai, karena data bisa dipantau secara langsung via aplikasi,” tegasnya.
Dengan ratusan pedagang di Pasar Induk Puspa Agro, aplikasi ini memungkinkan pengecekan cepat terhadap kondisi stok.
“Kita mudah melakukan pengecekan siapa saja pedagang yang stoknya habis dan siapa yang kelebihan stok,” terang Agus Muslim.
Pengembangan aplikasi ini sangat relevan mengingat peran vital Pasar Induk Puspa Agro sebagai pemasok utama komoditas pangan di Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, kebutuhan harian sayur di wilayah ini mencapai sekitar 2.500 ton, sementara buah sekitar 1.800 ton. Pasar Puspa Agro menyumbang 30-40 persen pasokan utama, menjadikannya tulang punggung distribusi ke seluruh Jatim.
Di tengah fluktuasi musiman yang sering memicu lonjakan harga, integrasi digital seperti ini berpotensi menstabilkan pasar.
Pedagang UMKM, yang mayoritas mengandalkan pasar ini, akan mendapat dukungan melalui efisiensi distribusi dan transparansi stok.
Hal ini sejalan dengan program pemberdayaan UMKM di Jawa Timur, di mana digitalisasi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi kerugian akibat pemborosan stok.
Lebih jauh, aplikasi terintegrasi ini bisa menjadi model bagi pasar induk lain di Indonesia. Dengan fitur pencatatan penjualan otomatis, pedagang dapat fokus pada bisnis inti tanpa repot laporan manual.
Bagi konsumen akhir, manfaatnya terasa melalui harga yang lebih stabil dan ketersediaan barang yang terjamin. Proyeksi BPS untuk 2026 memperkirakan peningkatan permintaan pangan sebesar 5-7 persen akibat pertumbuhan populasi, sehingga inovasi seperti ini krusial untuk menjaga ketahanan pangan regional.
Agus Muslim optimistis peluncuran aplikasi akan membawa transformasi besar. “Ini bukan hanya alat pengawasan, tapi juga pemberdaya bagi pedagang kita,” pungkasnya. [aya.kt]


