Berharap Solusi dan Keselamatan kepada Presiden dan Anggota DPR Serta Bupati
Oleh:
Sawawi, Kabupaten Situbondo
Sejak dua hari ini Kota Santri Situbondo dihebohkan oleh kemunculan sebuah video singkat di media sosial yang sangat memprihatinkan. Adalah Fira Ningsih (39) seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mengalami kebingungan di tengah kecamuk perang di Timur Tengah (Timteng) antara Israel-Iran.
Fira Ningsih sempat menangis dalam video yang berdurasi beberapa menit kemarin. Wanita asal Dusun Krajan, Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo itu ketakutan akibat perang Israel-Iran.
“Dalam rekaman yang viral di jagat maya tersebut, Ratna Ningsih, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Situbondo, memohon pertolongan kepada Presiden Prabowo Subianto dan anggota DPR RI, Nasim Khan serta Bupati Situbondo Mas Rio, untuk dipulangkan dari Arab Saudi,” tegas Tim Nasim Khan Indonesia (NKI), Agung Hariyanto.
Kata Agung, pihaknya bergerak cepat melakukan penelusuran mulai Senin (2/3), tim menyambangi rumah sederhana milik keluarga Fira Ningsih, di Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, Situbondo.
“Ini kami lakukan kunjungan untuk mengurai benang kusut yang menjerat Ratna Ningsih,” terang Agung Hariyanto.
Agung Hariyanto, mencium adanya aroma tidak beres dalam kasus ini. Berdasarkan penelusuran awal, kuat dugaan bahwa Ratna diberangkatkan secara nonprosedural atau ilegal.
“Kami menduga Ratna merupakan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok pengiriman tenaga kerja. Jika benar ia berangkat secara ilegal, ini adalah pelanggaran hukum serius yang harus diusut tuntas,” papar Agung.
Kasus Ratna Ningsih ini, di mata Agung, merupakan sebuah potret buram perlindungan pekerja migran Indonesia. Demi impian ekonomi, jalur-jalur berisiko seringkali ditempuh tanpa menyadari bahaya yang mengintai di negara penempatan.
Agung memastikan bahwa seluruh temuan di lapangan akan segera dilaporkan kepada Nasim Khan di Jakarta untuk dikoordinasikan dengan otoritas terkait. Meski prosedur lintas negara tidaklah sederhana, Tim NKI berkomitmen mencari jalan keluar terbaik.
‘Kini, di sebuah sudut desa di Situbondo, Fira hanya bisa memeluk harapannya dengan optimis. Dia menunggu kepastian bahwa ibunya bukan sekadar angka dalam statistik pekerja migran, melainkan nyawa yang harus segera diselamatkan dan segera dipulangkan ke kampungnya,” kupas Agung Hariyanto.
Di depan pintu rumahnya, imbuh Agung, dirinya disambut Fira (20), putri sulung Ratna Ningsih. Wanita muda itu menyambut tim dengan mata sembab. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bergetar, menceritakan komunikasi sembunyi-sembunyi yang ia lakukan dengan sang ibu di tanah rantau, Timur Tengah.
“Ibu menghubungi saya dengan cara sembunyi-sembunyi di kamar mandi. Biasanya jam 2 atau 3 dini hari karena takut ketahuan majikan,” ungkap Fira terisak.
Sementara itu Ratna, yang baru tiga hari bekerja, mengaku mengalami perlakuan yang jauh dari kata manusiawi. Isak tangis menjadi latar belakang tetap setiap kali suara Ratna terdengar di seberang telepon. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
Kepedihan Fira kian berlipat saat pihak penyalur atau sponsor meminta uang tebusan yang fantastis jika ingin ibunya pulang. Angka Rp 60 juta hingga Rp 65 juta dipasang sebagai harga kebebasan Ratna.
“Kami tidak punya uang sebanyak itu. Saya di sini sendirian mengurus anak, bapak sudah cerai dengan ibu. Ibu sepertinya diperjualbelikan di sana (Saudi Arabia),” ucap Fira. [awi.gat]


