26 C
Sidoarjo
Monday, March 2, 2026
spot_img

Ketua KNPI Jombang Ajak Mahasiswa Kritis dan Adaptif di Era AI

Jombang, Bhirawa
Dinamika demokrasi di tingkat lokal hingga nasional menuntut peran aktif generasi muda, khususnya mahasiswa. Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Jombang (DPD KNPI Jombang) , Rohmadi, M.Pd, dalam Forum Talk Show bertema ‘Penguatan Peran Mahasiswa dalam Demokrasi dan Sistem Ketatanegaraan’ yang digelar Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa Kabupaten Jombang (IKABEMJO) di Aula Bung Tomo Pemkab Jombang, Minggu petang (01/03).

Dalam Talk Show itu menghadirkan 3 pembicara yakni, Rohmadi selaku Ketua KNPI Jombang, Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan dan A. Baha’ur Rifqi selaku Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara.

Dalam forum yang dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jombang itu, Rohmadi menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.

“Mahasiswa adalah penjaga nurani publik. Perannya bukan sekadar demonstrasi, tetapi memastikan kebijakan pemerintah berjalan sesuai kepentingan rakyat,” ujar Rohmadi.

Sebagai Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jombang, Rohmadi memahami betul dinamika gerakan mahasiswa. Dia mengingatkan agar sikap kritis tetap dibangun di atas landasan ilmiah dan intelektual. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus berbasis data, riset, dan argumentasi yang kuat.
“Gerakan mahasiswa harus rasional, bukan emosional. Kritik harus disampaikan dengan kajian akademik, bukan sekadar ikut arus,” tandasnya.

Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang itu juga menyoroti pentingnya implementasi nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Berita Terkait :  Jaga Kesehatan Mental dan Psikologis WBP, Rutan Situbondo Beri Aneka Hiburan

Rohmadi menilai, mahasiswa tidak cukup hanya aktif dalam ruang kelas atau diskusi internal kampus. Mereka harus turun langsung mengidentifikasi persoalan masyarakat dan menghadirkan solusi berbasis penelitian.

“Tri Dharma itu bukan slogan. Pendidikan membentuk nalar kritis, penelitian melahirkan solusi, dan pengabdian memastikan ilmu itu dirasakan masyarakat,” ungkap Rohmadi.

Rohmadi mendorong mahasiswa di Kabupaten Jombang agar lebih banyak melakukan riset-riset kecil terkait kebijakan daerah, seperti isu pendidikan, pengangguran, UMKM, hingga tata kelola pemerintahan desa.

Tak hanya soal demokrasi, Rohmadi juga menyinggung percepatan teknologi dan arus informasi yang kian masif, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, mahasiswa tidak boleh gagap teknologi. Justru, mereka harus menjadi kelompok terdepan dalam memanfaatkan AI untuk riset, analisis data, hingga advokasi kebijakan.

“Era sekarang adalah era percepatan informasi. Mahasiswa harus adaptif dengan AI dan teknologi digital. Gunakan untuk memperkuat argumen, bukan untuk menyebarkan hoaks,” kata Rohmadi.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris PWI Jombang mengingatkan bahaya fenomena fear of missing out (FOMO) terhadap isu-isu nasional yang viral di media sosial.

Rohmadi menilai, mahasiswa sering kali terjebak dalam perdebatan nasional tanpa memahami konteks lokal.

“Jangan FOMO. Isu nasional penting, tapi kebijakan daerah juga harus diawasi. Bahkan itu lebih dekat dan bisa langsung disampaikan kepada kepala daerah,” ucap Rohmadi.

Berita Terkait :  Polres Probolinggo Kota Bongkar Jaringan Narkoba, 10 Tersangka Ditahan

Rohmadi juga mengajak mahasiswa untuk lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah daerah di Jombang.

Menurutnya, ruang dialog dengan kepala daerah terbuka lebar dan dapat dimanfaatkan secara konstruktif.

“Kalau ada kebijakan yang perlu dikritisi, sampaikan dengan kajian akademik. Temui kepala daerah, ajukan solusi. Mahasiswa harus menjadi mitra kritis pemerintah,” ujar Rohmadi.

Rohmadi menambahkan, demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi aktif mahasiswa sebagai penyeimbang kekuasaan. Tanpa kontrol sosial, kebijakan berpotensi melenceng dari kepentingan publik.

Rohmadi menegaskan, masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada kualitas intelektual dan integritas generasi mudanya.

“Kalau mahasiswa kuat secara nalar, moral, dan teknologi, maka demokrasi kita juga akan kuat. Jangan pernah berhenti belajar, meneliti, dan mengabdi,” pungkas Rohmadi. [rif.dre]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!