Oleh:
Choirul Anam Djabar
Ketua DPW Jam’iyah Tilawatil Qur’an Provinsi Jatim
Tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi hamba yang bertaqwa. agar kalian bertaqwa (QS. Al Baqarah : 183). Agar tujuan utama tersebut berhasil, maka seseorang harus menahan, sesuai dengan pengertian puasa menurut bahasa adalah “al-imsak” : Menahan.
Tentu tidak hanya menahan dari makan dan minum dan hubungan suami istri disiang hari. Tetapi disempurnakan dengan menahan diri dari prilaku akhlak yang kurang terpuji. Alias puasa lahir batin. Para Hukama’ membagi puasa dalam 3 tingkatan.
Pertama, uasanya orang biasa. Puasa orang biasa adalah menahan perut dari makan dan kemaluan dari syahwat. Konsentrasinya yang penting secara fiqih terpenuhi syarat rukunnya dan sah. Kedua, puasanya orang istimewa. Puasa orang istimewa adalah menahan telinga dari gunjingan, puasa mata dari penglihatan yang terlarang, puasa mulut dari perkataan yang dilarang, tangan, kaki dan semua organ tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasanya orang teristimewa. Puasa orang-orang teristimewa adalah puasanya hati dari hal-hal yang hina dan pikiran dunia, dan mencegah dari hal selain Allah secara total.
Sedangkan kita sudah cukup ideal menjadi orang istimewa di posisi kedua. Nabi Muhammad SAW ersabda: “Hakikat puasa bukan dari makan dan minum. Puasa yang sempurna adalah dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan buruk” (HR Hakim dan Baihaqi dari Abu Hurairah ra)
Sahabat Jabir rodliallahu ‘anh berkata: “Jika engkau berpuasa maka puasalah telingamu, pandanganmu dan mulutmu dari dusta dan perbuatan dosa. Jangan sakiti pembantu. Lakukanlah puasamu dengan semangat dan ketenangan. Jangan sampai sama saja dirimu antara tidak puasa dan puasa”. [*]


