Pasuruan, Bhirawa
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengunjungi sentra jeruk siam di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (3/1).
Dalam kunjungannya, ia menyatakan jeruk siam Tutur Pasuruan memiliki keunggulan dari sisi rasa, ukuran, hingga kualitas. Sehingga, sangat layak menjadi andalan konsumsi masyarakat nasional.
Apalagi, ia terkesan dengan perkembangan jeruk di kawasan Tutur yang dinilainya semakin pesat dibandingkan kunjungan sebelumnya. Buah jeruk tampak tumbuh lebat dengan ukuran besar dan warna yang cerah.
“Jeruk Siam di Desa Tutur ini sangatlah unggul. Dua bulan lalu saya ke sini, kemudian hari ini datang lagi, saya terkesima lihat buahnya yang tumbuh lebat. Kulitnya agak tebal berwarna orange, size nya besar, rasanya manis sekali serasa bercampur madu,” ujar Khofifah Indar Parawansa.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur adalah provinsi dengan produksi jeruk tertinggi secara nasional.
Capaian itu menjadi kekuatan strategis Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong kemandirian ekonomi petani.
Berdasarkan data BPS Jatim, total produksi jeruk di Jawa Timur pada triwulan III Tahun 2025 mencapai 959.231,31 ton, dengan kontribusi 36,22 persen terhadap nasional di periode yang sama.
“Jadi, produksi jeruk di Jawa Timur merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Ini adalah potensi besar yang harus kita jaga bersama. Salah satunya dengan meningkatkan konsumsi jeruk lokal dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada impor,” tegas Khofifah Indar Parawansa.
Menurut Khofifah, kunjungan itu menjadi simbol dukungan konkret Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada petani jeruk lokal.
Makanya, ia mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan mengonsumsi produk pertanian dalam negeri.
“Kami akan terus dukung petani jeruk siam, ini salah satu ikhtiar memperkenalkan ke masyarakat supaya jeruk siam lebih banyak lagi peminatnya,” tambah Khofifah Indar Parawansa.
Ia menegaskan kualitas jeruk siam dari kawasan Tutur dan sekitarnya tidak kalah dengan produk impor, baik dari sisi rasa, kesegaran, maupun kandungan gizinya.
Selain itu, membeli jeruk lokal berarti turut menggerakkan roda ekonomi petani dan perekonomian daerah.
“Masyarakat harus coba, kalau berkunjung ke Pasuruan. Saya rasa faktor alam lingkungan di sini sangat mendukung buah jeruk tumbuh subur dan melimpah. Dan kalau kita konsumsi jeruk lokal, kita tidak hanya mendapatkan produk segar dan sehat, tapi juga ikut menggerakkan ekonomi petani kita sendiri. Ini bagian dari gerakan cinta produk dalam negeri,” jelas Khofifah Indar Parawansa.
Pejabat nomer satu di Jawa Timur ini menjelaskan penguatan pasar jeruk lokal menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga hasil pertanian, memperluas lapangan kerja, serta mendorong pengembangan sektor agribisnis di Jawa Timur.
Serta kegiatan petik jeruk di Desa Kebek itu juga dimanfaatkan Gubernur Khofifah untuk berdialog langsung dengan para petani terkait tantangan produksi, distribusi, hingga peluang peningkatan nilai tambah komoditas jeruk ke depan.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus hadir mendampingi petani, mulai dari peningkatan kualitas produksi hingga penguatan akses pasar agar jeruk Jawa Timur semakin berdaya saing,” kata Khofifah Indar Parawansa.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi penegasan posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan produksi jeruk tertinggi di Indonesia serta ajakan kepada masyarakat untuk semakin mencintai produk lokal dan mengurangi ketergantungan pada jeruk impor. [hil.gat]

