Kediri Raya, Bhirawa. – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri dibekali keterampilan merajut yang diarahkan menjadi kegiatan produktif bernilai ekonomi. Bahkan, hasil rajutan warga binaan kini telah dikirim ke Solo untuk masuk dalam proses produksi PT Arta Jayandra Perkasa. Pembinaan kemandirian tersebut dilakukan melalui kerja sama Lapas Kediri dengan PT Arta Jayandra Perkasa. Pelatihan digelar rutin setiap pekan dan diikuti 14 warga binaan, terdiri atas tujuh perempuan dan tujuh laki-laki.
Dalam pelatihan itu, warga binaan tidak hanya diajari teknik dasar merajut. Mereka juga dilatih memenuhi standar produksi, mulai dari ketepatan teknik, presisi pola, kerapian hingga kualitas akhir produk. Pemilik sekaligus CEO usaha kerajinan rajut, Manda Handayani, didatangkan dari Solo untuk memberikan pendampingan secara langsung. Pendampingan dilakukan agar warga binaan mampu menguasai proses produksi hingga menghasilkan produk yang memenuhi standar dan layak jual.
Hasil pembinaan tersebut mulai terlihat dari produk yang telah dihasilkan warga binaan. Sepanjang September ini, Lapas Kediri telah mengirimkan puluhan hasil rajutan ke Solo untuk diproses lebih lanjut oleh PT Arta Jayandra Perkasa.
Produk yang dihasilkan antara lain tas, dompet, boneka dan berbagai kerajinan lainnya. Warga binaan yang mampu menghasilkan karya sesuai standar produksi juga berpeluang mendapatkan premi atau upah dari hasil kerjanya.
Komisaris PT Arta Jayandra Perkasa, Arja Rusli, mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) dengan Lapas Kediri. Menurut dia, warga binaan yang telah mahir dan mampu memenuhi standar produksi berpeluang terus dilibatkan dalam proses produksi perusahaan. “Kami berharap kegiatan ini menjadi jalan baru bagi warga binaan untuk berkarya dan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Arja, Sabtu (26/9).
Sementara itu, Kalapas Kediri Gatot Tri Rahardjo mengatakan pembinaan kemandirian diarahkan agar keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat. “Kami ingin setiap pelatihan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi menjadi bekal produktif yang dapat dikembangkan setelah warga binaan kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Gatot menilai kerja sama dengan pihak swasta menjadi salah satu upaya untuk memberikan pengalaman produksi secara nyata kepada warga binaan. Dengan demikian, keterampilan yang dipelajari tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.[van.nov.ca]


