29 C
Sidoarjo
Wednesday, September 30, 2026
spot_img

Waspada Influenza A

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya.

Akhir-akhir ini masyarakat harus waspada terhadap penyebaran penyakiat influenza tipe A atau Influenza A. Secara kasus, jumlah pasien influenza yang memerlukan perawatan rawat inap di rumah sakit melesat 47 persen pada Januari hingga Agustus 2026 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per 26 September 2026 yang mencatatkan proporsi positif influenza pada Surveilans Influenza-Like Illness minggu ke-37 menyentuh 58,59 persen, naik dari 53,71 persen pada pekan sebelumnya. Meski tidak semuanya disebabkan oleh influenza A namun tren kasus tersebut perlu diwaspadai. Apalagi secara karakteristik penyakit yang disebabkan melalui perantara udara (airborne disease) diprediksi akan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap potensi bahaya dan risiko pemberatan terhadap penyakit lainnya.

Secara patologis Influenza A ini berbeda dari flu biasa yang cenderung ringan dan sembuh sendiri. Influenza A dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia, gagal napas, bahkan kematian, terutama pada kelompok rentan (lanjut usia, bayi, balita dan anak-anak serta kelompok komorbid (penyakit penyerta). Pada umumnya hampir semua orang pernah mengalami flu, demam tiba-tiba, badan pegal, tenggorokan sakit, hidung tersumbat, sehingga dapat sembuh dalam beberapa hari. Nmaun demikian, karena sering dianggap ringan, flu kerap tidak mendapat perhatian serius, bahkan sering ditangani sendiri tanpa pemeriksaan ke dokter. Dalam konteks medis, flu dengan batuk, pilek dapat dibedakan. Apabila demam, batuk, dan pilek pada tahap awal belum dapat disebut influenza. Keluhan tersebut dapat masuk dalam kategori selesma atau common cold, sementara istilah influenza digunakan ketika penyebabnya memang virus influenza. Kasus inflenza ibarat penyakit yang biasa terjadi di masyarakat.

Berita Terkait :  Urgensi Digitalisasi Kesehatan di Era Disrupsi

Dalam penelitian WHO dsebutkan bawa setiap tahun terjadi sekitar satu miliar kasus flu musiman di seluruh dunia, termasuk 3 hingga 5 juta kasus dengan tingkat keparahan tinggi, dan menyebabkan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahunnya. Angka ini menempatkan influenza sebagai salah satu ancaman kesehatan masyarakat global yang paling konsisten dan tidak boleh dianggap remeh. Virus influenza dikatagorikan menjadi empat tipe utama mengacu pada aspek karakteristik protein internalnya yakni : A, B, C, dan D. Influenza A secara khusus mendapat perhatian lebih dari para ahli kesehatan dunia, termasuk memiliki tingkat probabilitas berevolusi secara agresif dan memiliki kemampuan untuk menyeberang dari hewan ke manusia. Komposisi subtipe influenza A yang saat ini bersirkulasi secara rutin pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2). Terdapat subtipe yang berasal dari hewan dan dapat menginfeksi manusia, seperti H5N1 yang dikenal sebagai flu burung dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.

Karakteristik
Masyarakat awam menyebut flu yang sering terjadi selama ini merupakan jenis selesma atau common cold yakni infeksi yang disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (hidung dan tenggorokan). Kelompok virus yang menyerang sendiri cukup beragam, namun yang paling sering menyerang yaitu dari kelompok rhinovirus. Berbeda dengan influenza yang disebabkan oleh virus influenza, meskipun secara gejala (symtoma) cenderung mirip yang nantinya dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium. Virus flu terus bermutasi sehingga muncul berbagai varian, salah satunya virus influenza A. Virus influenza A menyebar melalui percikan ingus atau liur (droplet) yang dihasilkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Droplet ini dapat terhirup oleh orang lain atau menempel pada permukaan benda di sekitar penderita. Penularan yang relatif sangat cepat, terutama di musim tertentu, seperti musim hujan dimana kondisi udara yang relatif lembab memungkinkan penyebaran virus menjadi lebih cepat.

Berita Terkait :  Libur Lebaran, BPJS Kesehatan Gresik Pastikan Layanan JKN Buka

Di sisi lain tren kasus musiman influenza terasa lebih intens di beberapa wilayah serta terjadi peningkatan kasus di banyak negara secara bersamaan. Meskipun demikian, berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, varian ini tidak terbukti memiliki tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan influenza musiman yang sudah ada sebelumnya. Setidaknya terdapat faktor-faktor lingkungan dan perilaku yang berkontribusi terhadap penyebaran cepat pada musim-musim ini meliputi pertama, suhu dingin dan kelembapan rendah. Terdapat studi yang menunjukkan virus influenza bertahan lebih lama di udara dan di permukaan benda pada kondisi udara yang dingin dan kering sehingga kondisi ini diperkiraan berkembang cepat pada bulan-bulan ini. Kedua, perilaku berkumpul di dalam ruangan dan disertai dengan kontak erat serta kepadatan di ruangan.

Secara perilaku, orang akan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan yang berventilasi buruk saat cuaca dingin atau hujan sehingga meningkatkan kontak dekat dan risiko penularan dari orang ke orang. Ketiga, sistem kekebalan (imunitas) tubuh. Paparan terhadap suhu dingin yang ekstrem dapat memengaruhi respons kekebalan tubuh terhadap virus pernafasan. Berkaca pengalaman kasus Covid-19 yang menyebar sangat cepat antar wilayah bahkan antar negara sehingga dinyatakan pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Oleh karena itu setiap potensi ancaman penyakit harus diwaspadai meski tidak panik. Potensi penularan dan penyebaran ke depan sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni apakah terjadi mutasi besar yang membuat virus menjadi benar-benar baru, apakah tingkat penularan dan keparahan meningkat tajam, serta apakah penularan antarnegara terjadi secara luas. Perilaku pencegahan dan antisipatif menjadi kunci terutama ketika berada dalam kerumunan dan diruang tertutup.

Berita Terkait :  Potret Problem Etik Profesi Medis

———— *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!