Gresik, Bhirawa – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mempertegas komitmennya dalam membangun Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, sebagai desa binaan melalui pendampingan berkelanjutan yang kini diperkuat dengan kolaborasi internasional bersama Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan International Joint Community Service bertema Optimizing the Productivity of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) Through Implementation of Information Technology yang berlangsung di Desa Srowo, Rabu (29/7/2026). Program ini menjadi lanjutan dari rangkaian pemberdayaan masyarakat yang telah dimulai sejak Juni lalu, ketika Untag Surabaya memperkenalkan berbagai teknologi tepat guna untuk mendukung proses produksi kerupuk ikan, komoditas unggulan desa tersebut.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami ingin memastikan teknologi, metode, maupun pelatihan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan masyarakat sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pelaku UMKM,” ujarnya.
Menurutnya, pendampingan di Desa Srowo tidak berhenti pada penyediaan teknologi produksi, tetapi berlanjut pada penguatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola usaha secara lebih modern melalui pemanfaatan teknologi informasi.
Kepala Desa Srowo, Moh. Anam, menyambut baik keberlanjutan pendampingan tersebut. Ia menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu kunci dalam mempercepat pengembangan potensi ekonomi desa.
“Desa Srowo memiliki potensi yang besar, tetapi kualitas sumber daya manusianya masih perlu terus ditingkatkan. Dengan adanya pendampingan dari Untag Surabaya dan UTHM Malaysia, kami optimistis UMKM kerupuk ikan akan semakin berkembang,” katanya.
Moh. Anam menjelaskan, pelaku UMKM di desanya telah memiliki kapasitas produksi yang cukup tinggi, bahkan mampu menghasilkan sekitar satu ton kerupuk ikan setiap hari. Sentra produksi dan berbagai peralatan pendukung juga telah tersedia sehingga tantangan berikutnya adalah memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
Selain itu, pemerintah desa juga berharap muncul inovasi dalam pemanfaatan limbah hasil pengolahan ikan.
“Produksi yang terus meningkat tentu diikuti limbah yang semakin banyak. Kami berharap ada solusi agar limbah tersebut bisa diolah menjadi pupuk atau produk lain yang bernilai ekonomi sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Kolaborasi internasional dalam program ini menghadirkan narasumber dari UTHM Malaysia, Prof. Dr. Zaki bin Noh, yang menilai produk kerupuk ikan Desa Srowo memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung peningkatan kualitas produksi dan strategi pemasaran digital.
Ia mendorong pelaku UMKM memanfaatkan berbagai platform digital agar produk lokal tidak hanya dikenal di tingkat regional, tetapi juga mampu menjangkau pasar internasional.
Sementara itu, dosen Untag Surabaya Ardy Januantoro, S.Kom., M.MT., memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembuatan materi promosi produk.
Menurutnya, teknologi AI memungkinkan pelaku UMKM menghasilkan konten promosi yang menarik hanya bermodal satu foto produk dan penyusunan prompt yang tepat, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk produksi konten.
Melalui pendampingan yang berkesinambungan tersebut, Untag Surabaya berharap Desa Srowo tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi kerupuk ikan, tetapi juga menjadi contoh desa yang mampu mengintegrasikan teknologi tepat guna, transformasi digital, dan inovasi dalam pengembangan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan mitra internasional itu diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya UMKM yang lebih adaptif, berdaya saing, dan siap memasuki pasar global. [why]


