Pemprov, Bhirawa – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Jawa Timur mencatat sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) signifikan pada penutupan anggaran 2025.
Kepala Bidang Pembangunan & Peningkatan Jalan dan Jembatan, Ahmad Faathir Wicaksono, menjelaskan sejumlah faktor penyebab tingginya Silpa mulai dari penundaan realisasi gaji ASN hingga perbedaan estimasi harga tanah dan mekanisme pengadaan barang dan jasa.
” Jadi terkait dengan silpa tahun anggaran 2025 itu yang tidak terserap. Itu terdiri dari beberapa Silpa,” kata Faathir menjelaskan, Rabu (29/7).
Menurut Faathir, Silpa DPU Bina Marga bukan berasal dari satu sumber tunggal, melainkan sejumlah berkategori.
Yaitu, gaji dan tunjangan ASN, terjadi ketika realisasi pembayaran bergeser. “Itu karena direncanakan bulan April baru terrealisasi misalkan bulan Juli,” katanya.
Kemudian, kewajiban kantor dan perencanaan serta pengawasan, anggaran yang disiapkan untuk fungsi administratif dan pengendalian yang belum terserap.
Selain itu ada faktor pemeliharaan infrastruktur jalan dan jembatan, pekerjaan yang belum terealisasi penuh atau penundaan kontraktual.
Kemudian ada faktor pengadaan barang dan jasa melalui metode mini kompetisi, selisih antara penawaran awal dan penawaran pemenang menjadi sisa anggaran.
“Karena kita sekarang memakai metode mini kompetisi, jadinya kan disesuaikan dengan penawaran penyedia. Jadi misalkan mini kompetisinya itu kita punya 100 gitu ya, ditawar 80, yang 20 jadinya Silpa,” ujarnya menambahkan.
Kemudian ada pengadaan tanah, perbedaan antara anggaran awal dan hasil appraisal lapangan.
“Waktu perencanaan anggaran itu sudah menganggarkan harga tanah sesuai dengan estimasi, tapi dari hasil appraisal itu estimasinya berbeda. Ini juga menjadi faktor terjadinya silpa,” terangnya menambahkan.
Penggunaan mini kompetisi, kata Faathir, membuat harga pemenang sering lebih rendah dari perencanaan sehingga muncul sisa. “Misalkan mini kompetisinya itu kita punya 100, lalu ditawar 80, yang 20 jadinya silpa,” cetus dia.
Menurutnya, bila pelaksanaan pekerjaan tepat waktu dan biaya, mekanisme ini justru efektif dan efisien. Namun di sisi lain, penurunan penawaran yang besar menghasilkan angka silpa yang terlihat besar dalam laporan realisasi.
Saat diminta angka, Faathir memaparkan estimasi kasarnya, pagu anggaran DPU Bina Marga sekitar Rp1,58 triliun, dengan realisasi sekitar Rp1,268 triliun, atau realisasi sekitar 80,05 persen meninggalkan silpa di kisaran Rp 200 miliyar. [aya.gat]


