27 C
Sidoarjo
Tuesday, August 18, 2026
spot_img

Saatnya Mereposisi Gerakan Pramuka

Oleh :
Mukhlis Mustofa
Dosen FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta Program Studi PGSD dan Konsultan Pendidikan Yayasan Pendidikan Jama’atul Ikhwan Surakarta

Hari jadi pramuka setiap tanggal 14 Agustus patut diposisikan sebagai reposisi peran sang pengusung kepanduan. Gerakan pramuka di Indonesia momen peringatan hari jadinya seakan sebatas seremonial semata. Rentetan perkemahan dari jenjang cabang hingga pada tingkat nasional, kegiatan estafet tunas kelapa nampaknya momen khusus tersebut terkesan hanyalah terhenti pada seremonial belaka.

Patut menjadi renungan bagi pihak dalam gerakan pramuka itu sendiri mengenai perananan gerakan kepramukaan dalam kehidupan kemasyarakatan. Masyarakat Indonesia secara tidak langsung pada saat ini senantiasa menunggu peran nyata gerakan pramuka. Opini yang terbentuk pada khalayak luas gerakan pramuka hanyalah gerakan pada remaja dengan keriangan, hal ini identik dengan gerakan pramuka sangat kaya akan lagu-lagu riang dan beragam variasi tepukan tangan anggotanya. Kesan ini akan nampak sehingga secara serta merta menjadikan masyarakat kita tidak respek dengan gerakan kepramukaan di Indonesia.

Militansi gerakan pramuka
Gerakan pramuka sebagai sebuah wadah aktivitas remaja tidaklah luput dari permasalahan kompleks. militansi dari gerakan pramuka hingga saat ini belum jelas terlihat. Permasalahan militansi dalam kepramukaan ini jelas terlihat dari model keanggotaannya. Keanggotaan dalam kepramukaan sangat bersifat struktural, ini dapat terlihat dari pola rekruitmen yang hanya mengandalkan pada dunia pendidikan semata dalam hal ini mengandalkan siswa pada jenjang pendidikan formal semata. Hal ini menjadikan gerakan kepramukaan hanyalah organisasi ” tempelan ” dalam dunia pendidikan. Usia keanggotaan dalam kepramukaan hanyalah seusia sekolah yang dijalankan. Kondisi ini mengakibatkan gerakan pramuka menjadi gerakan monoton dengan ruang lingkup sangat terbatas.

Berita Terkait :  SPMB Berkeadilan Bukan Impian

Sangat jarang ditemui di negeri ini organisasi kepramukaan dengan basis non kependidikan. Padahal gerakan pramuka sangat dituntut peran nyata di masyarakat. Kenyaataan ini semakin menjauhkan anggota pramuka dari nilai -nilai luhur gerakan yang berintikan pemberdayaan pada masyarakat luas.dengan kondisi ini tidaklah menggherankan jika gerakan pramuka mengalami “kejumudan” dan tidak berdaya menghadapi perkembangan kemasyarakatan.

Gerakan pramuka sebagi organisasi yang wajib diikuti siswa pada jenjang pendidikan formal semakin meredupkan militansi gerakan kepramukaan itu sendiri. Kewajiban siswa pada sebuah sekolah untuk mengikuti gerakan pramuka sebagai salah satu muatan pokok pendidikannya tidak menciptakan anggota pramuka yang militan, unsur keterpaksaan sangat nampak pada pola keanggotaan model ini, dampak nyata pada fenomena ini di suatu sekolah tidak jarang gerakan pramuka hanya menjadi syarat wajib adanya ekstra kurikuler.

Kecenderungan siswa untuk memilih kegiatan yang mendukung aktualisasi dirinya belum nampak pada gerakan pramuka di sekolah kita. Sehingga di beberapa sekolah pramuka bukan menjadi kegiatan ekstrakulikuler yang menonjol. Permasalahan militansi keanggotaan ini mutlak harus dipecahkan mengingat tujuan utama pendirian gerakan pramuka oleh Lord bodden Powell pada masa lalu salah satunya menciptakan generasi muda yang kreatif dan tangguh menghadapi tantangan fisik dan sosial.

Kebijakan pemerintah dalam mengembangkan gerakan kepramukaan belum terlihat, hal ini nampak dari belum diprioritaskannya gerakan kepramukaan bagi pengembangan karakter generasi muda kita. kepedulian pemerintah selama ini pada gerakan kepramukaan kita belum terlihat secara nyata, bentuk perhatian pemerintah selama ini hanya menyentuh sisi seremonial semata tanpa memberikan solusi praktis pada gerakan kepramukaan kita. Kebutuhan gerakan pramuka pada saat ini adalah perhatian nyata dan pelibatan secara optimal gerakan pramuka pada pembangungan kemasyarakatan. Peran – peran inilah yang menjadi tuntutan dalam pergerakan kegiatan kepramukaan.

Berita Terkait :  Guru Inspiratif Tak Mudah Reaktif

Pola pendidikan dalam kepramukaan kita terkondisikan sebagai pola pendikan yang kental dengan nuansa indoktrinasi yang sangat dangkal. Pola ini nampak jika kita sedikit menelaah gerakan kepramukaan kita, pada gerakan kepramukaan kita banyak ditekankan pada perintah untuk menghafalkan lambang – lambang simbolik semata dengan keragamannya dan ditambah dengan tuntutan siswa untuk menghafal tri satya dan dasa darma. Pola – pola gerakan kepramukaan tidak nampak pada organisasi kepramukaan kita. Padahal tuntutan bagi gerakan kepramukaan adalah menjadi agen perubahan di masyarakat dengan segala keragamannya.

Langkah strategis
Kompleksitas permasalahan gerakan pramuka Indonesia memerlukan langkah strategis yang harus diambil sebagai reposisi gerakan kepramukaan agar lebih membumi diantaranyaDoktrinasi pada anggotaa pramuka secara riil dan sesuai dinamika masyarakat. Doktrinasi yang diberikan pada anggota pramuka selama ini sangat dangkal, sudah bukan masanya lagi anggota pramuka hanya berkutat pada mengerti lambang tunas kelapa saja dan menghapal dasa darma dan trisatya, anggota pramuka haruslah dipahamkan perkembangan masyarakat kita yang semakin dinamis. Pemahaman tentang keadaan masyarakat dengan segala dinamikanya ini mutlak diberikan mengingat lahan yang mereka hadapi pada nantinya adalah dunia kemasyarakatan. Selama ini pemahaman kemasyarakatan bagi gerakan kepramukaan sangat jarang disentuh.

Pola pendidikannya bisa dilakukan dengan langsung terjun di masyarakat luas, dengan menelaah kondisi masyarakat luas maka langkah strategis pemberdayaan masyarakat bisa terbangun secara optimal. Jika hal ini bisa dipahamkan dengan optimal secara tidak langsung gerakan pramuka akan menjadi wadah pelatihan kepemimpinan generasi mendatang.

Berita Terkait :  Guru Mencubit (Haruskah) Siswa Menjerit ?

Perluasan keanggotaan gerakan kepramukaanmenjadi langkah strategis lanjutan agar gerakan kepanduan ini tidak terhenti pada dunia pendidikan semata. Perlu mulai diwacanakan keanggotaan gerakan pramuka dengan basis masyarakat luas. Pada kalangan masyarakat luas tidak jarang kita temui generasi – generasi muda dengan pola pemikiran yang lebih membumi dan bisa diterapkan pada masyarakat luas. Jika hanya berkutat pada dunia pendidikan formal gerakan pramuka hanya menjadi gerakan prasyarat semata dan tidak akan berkembang. Belum optimalnya gerakan pramuka selama ini disebakan ruang lingkup gerakan yang sangat terbatas dan tidak jarang dihadapkan dengan kondisi akademik yang wajib untuk ditempuh.

Tidak Kalah pentingnya perlunya penyusunan pola kurikulum gerakan kepramukaan yang lebih membumi bagi masyarakat. Pola pendidikan pada gerakan kepramukaan kita selama ini hanyalah pola pendidikan dengan penekanan pada simbolik semata, hal ini patut dirubah mengingat gerakan pramuka bukanlah gerakan untuk menghafal semata tetapi gerakan yang bermanfaat bagi khalayak luas. Dengan pola pendidikan yang lebih aktual dan membumi niscaya gerakan pramuka Indonesia akan menemukan jati diri seseungguhnya.

Gerakan pramuka merupakan gerakan dengan tujuan mulia bagi pengembangan masyarakat luas, anggota pramuka dituntut memiliki kepekaan tinggi dan cepat tanggap menghadapi dinamika masyarakat yang semakin beragam. Reposisi gerakan pramuka dalam pendidikan generasi muda kita akan mencetak generasi muda sebagai agent of change sesungguhnya

Dirgahayu pramuka Indonesia

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!