Gresik, Bhirawa — Kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian situs bersejarah di Kabupaten Gresik kembali ditunjukkan melalui kegiatan gerakan Langit Biru Indonesia Asri. Kawasan makam dan situs bersejarah menjadi sasaran utama kegiatan bersih-bersih lingkungan yang digelar DPC Partai Demokrat Gresik.
Ketua Panitia Made Agus menyerahkan piagam penghargaan kepada Pengurus Yayasan Syeikh Maulana Malik Ibrahim Gresik yang diwakili Ibrahim Hamid. Penghargaan serupa juga diberikan kepada Pengurus Yayasan Poesponegoro melalui Juru Kunci Makam K.T. Poesponegoro, Solikin.
“Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan kedua yayasan dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya kawasan makam yang bernilai sejarah sekaligus menjadi tujuan peziarah,” ujar Made Agus.
Juru Kunci Makam K.T. Poesponegoro, Solikin, menyampaikan terima kasih atas kepedulian DPC Partai Demokrat Gresik yang turun langsung membersihkan lingkungan situs sejarah.
“Terima kasih kepada DPC Partai Demokrat Gresik atas perhatiannya. Kegiatan bersih-bersih ini membuat kawasan makam menjadi lebih asri dan tertata,” ujar Solikin.
Ia menambahkan, pelestarian situs sejarah tidak hanya soal menjaga bangunan fisik semata, namun kebersihan lingkungan juga bagian penting agar tetap nyaman dikunjungi. Apresiasi senada disampaikan Ibrahim Hamid, perwakilan Yayasan Syeikh Maulana Malik Ibrahim Gresik.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat menjaga kawasan tetap bersih, asri, dan membuat para peziarah merasa nyaman berkunjung,” kata Ibrahim.
Namun, kebersihan situs sejarah dinilai tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar pembagian piagam penghargaan. Yang jauh lebih penting adalah keberlanjutan. Kawasan situs sejarah membutuhkan perawatan rutin, bukan hanya saat ada kegiatan tertentu. Pemerintah, pengelola yayasan, organisasi, komunitas, hingga masyarakat perlu bersinergi menjaga kelestariannya.
Situs sejarah di Gresik bukan sekadar penanda masa lalu, melainkan ruang yang terus dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Jika lingkungannya kumuh dan tidak terawat, nilai luhur yang hendak diwariskan pun berpotensi kehilangan daya tariknya. Oleh karena itu, gerakan kebersihan ini seharusnya menjadi pemantik kepedulian yang konsisten, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Ibrahim menegaskan, merawat situs sejarah pada akhirnya mencerminkan bagaimana masyarakat memperlakukan warisan leluhurnya. Apakah cukup sekadar mengenang, atau benar-benar merawatnya agar tetap hidup, bersih, nyaman, dan layak diwariskan kepada generasi mendatang. [kim.kt]


