Surabaya dikenal sebagai salah satu kota metropolitan paling bersih dan hijau di Indonesia. Namun, di balik keindahan taman-taman kota, kita saat ini tengah menghadapi ancaman serius yang krusial bagi keberlangsungan hidup kota ini. Masalah tersebut adalah krisis ruang pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, yang lahannya semakin menyempit seiring tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
TPA Benowo menerima ribuan ton sampah harian yang mayoritas didominasi oleh limbah domestik atau rumah tangga. Jika pola konsumsi dan pembuangan kita tetap dibiarkan tanpa adanya perubahan signifikan, penampungan tersebut diprediksi tidak akan mampu lagi menampung gunungan limbah dalam waktu dekat. Kita tidak bisa terus mengandalkan perluasan lahan karena keterbatasan geografis kota. Oleh karena itu, solusi jangka panjang yang paling efektif harus dimulai dari hulu, yaitu dari dalam rumah tangga kita masing-masing.
Saya ingin mengimbau seluruh keluarga di Surabaya untuk menerapkan prinsip pengelolaan sampah mandiri demi mengurangi beban TPA. Langkah awal yang paling mendasar adalah melakukan pemilahan sampah dari dapur. Kita perlu memisahkan sampah organik (sisa makanan dan daun) dengan sampah anorganik (plastik, kertas, botol, dan kaleng). Pemilahan yang disiplin sejak dini akan mempermudah proses daur ulang selanjutnya di tingkat lanjutan.
Langkah berikutnya adalah memaksimalkan pemanfaatan sampah organik. Sampah dapur dapat diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman pekarangan, atau memanfaatkan metode lubang biopori serta ember tumpuk yang hemat lahan. Sementara untuk sampah anorganik bernilai ekonomis, kita dapat menyalurkannya ke Bank Sampah terdekat yang sudah banyak tersebar di berbagai RW di Surabaya. Selain mengurangi volume limbah ke TPS, langkah ini memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil dalam keluarga. Menipisnya lahan pembuangan akhir bukan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup belaka, melainkan tanggung jawab moral kita bersama. Mari ubah paradigma lama yang menganggap sampah sebagai material buangan tidak berguna, menjadi material berharga yang harus dikelola secara bijak. Melalui kepedulian dari rumah, kita menjaga Surabaya tetap layak huni bagi anak cucu kita.
Aminudin Hasbi
Warga Surabaya Peduli Lingkungan


