28.9 C
Sidoarjo
Monday, June 22, 2026
spot_img

Ramai Pengetahuan, Sunyi Kebijaksanaan

Oleh:
Jenia Ghaziah
Mahasiswa PGSD-2024 FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar

Selamat datang di zaman paling pintar sekaligus paling panik dalam sejarah manusia. Kita membawa perpustakaan dunia di dalam saku, tetapi sering kehilangan kesabaran membaca tiga paragraf. Kita dapat berbicara dengan siapa saja di berbagai belahan bumi dalam hitungan detik, tetapi semakin kesulitan berbincang dengan orang yang duduk di sebelah kita. Kita hidup di era informasi tanpa batas, namun diam-diam mengalami kelaparan pemahaman. Kemajuan memang kadang punya selera humor yang gelap.

Pada 2026, Indonesia memiliki lebih dari 235 juta pengguna internet. Angka itu sering dibacakan dengan nada bangga, seolah-olah semakin banyak warga yang terhubung berarti semakin maju kualitas kehidupan sosial kita. Padahal internet hanya menyediakan jalan. Ia tidak menjamin orang akan berjalan ke arah yang benar. Faktanya, semakin padat lalu lintas komunikasi digital, semakin sering kita menemukan kemacetan akal sehat.

Setiap hari jutaan orang membagikan pendapat. Tidak ada yang salah dengan itu. Demokrasi memang memberi ruang bagi setiap warga untuk bersuara. Masalah muncul ketika semua orang ingin menjadi pembicara, tetapi tidak ada yang bersedia menjadi pendengar.

Akibatnya, ruang digital kita menyerupai rapat raksasa tanpa moderator. Semua orang berbicara bersamaan. Tidak ada yang mendengar. Lalu masing-masing pulang dengan keyakinan bahwa dirinya telah memenangkan perdebatan.

Dalam filsafat pendidikan, keadaan seperti ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Pendidikan bukan sekadar proses mengumpulkan informasi. Pendidikan adalah proses menjadi manusia yang lebih matang. Manusia yang mampu mendengar, mempertimbangkan, meragukan dirinya sendiri, lalu belajar kembali. Sayangnya, keraguan kini menjadi barang langka. Yang laris justru kepastian.

Berita Terkait :  Kunjungan Kerja Presiden Prabowo Subianto ke Jawa Timur

Media sosial mengajarkan bahwa semakin yakin seseorang, semakin besar peluangnya menjadi viral. Tidak penting apakah ia benar. Yang penting ia terdengar meyakinkan. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membangun citra sebagai orang yang selalu tahu daripada menjadi orang yang sungguh-sungguh mau belajar. Di titik inilah kita berhadapan dengan ironi yang menarik. Semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit menemukan kebijaksanaan.

John Dewey (1916) pernah mengingatkan bahwa pendidikan tumbuh melalui pengalaman dan interaksi sosial. Belajar berarti membuka diri terhadap pandangan lain. Belajar berarti menerima kemungkinan bahwa pemahaman kita belum lengkap.

Namun algoritma digital tampaknya tidak terlalu menyukai gagasan semacam itu. Algoritma bekerja seperti pelayan yang terlalu baik sekaligus terlalu berbahaya. Ia terus-menerus menyajikan apa yang kita sukai, apa yang kita setujui, dan apa yang membuat kita nyaman. Ia tidak bertanya apakah kita membutuhkan pandangan berbeda. Ia hanya memastikan kita tetap betah berada di dalam gelembung sendiri.

Lama-kelamaan, kita hidup dalam dunia yang terasa sangat masuk akal karena hanya berisi orang-orang yang sepakat dengan kita. Lalu suatu hari kita bertemu pendapat berbeda. Kita marah. Bukan karena pendapat itu salah, melainkan karena kita sudah terlalu lama tidak berlatih mendengarnya.

Paulo Freire (1970) menyebut dialog sebagai inti pendidikan yang membebaskan. Dialog menuntut keberanian untuk mendengar dan kesediaan untuk belajar dari orang lain. Tetapi budaya digital hari ini lebih sering menghasilkan monolog berjamaah. Semua orang berbicara. Semua orang menyiarkan. Semua orang mengunggah. Tidak banyak yang benar-benar berdialog. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, gejalanya semakin mudah ditemukan.

Berita Terkait :  Ikuti Pemerintah Pusat, Pemkab Tulungagung Perpanjang Kebijakan WFH ASN

Di meja makan keluarga, misalnya. Dulu orang tua bertanya tentang kegiatan anaknya di sekolah. Hari ini yang sering terjadi adalah setiap anggota keluarga sibuk memandangi layar masing-masing. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada perdebatan. Tidak ada pula percakapan.

Keheningan seperti ini terlihat damai. Padahal belum tentu sehat. Kita sering mengira teknologi mendekatkan manusia. Dalam banyak hal, memang demikian. Tetapi teknologi juga menciptakan ilusi kedekatan. Kita mengetahui ulang tahun teman yang tinggal ribuan kilometer jauhnya, tetapi lupa kapan terakhir kali bertanya kabar tetangga sebelah rumah. Kita memberi tanda suka pada ratusan unggahan, tetapi semakin jarang memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada orang-orang di sekitar.

Mungkin inilah bentuk baru kesepian modern: tidak kekurangan koneksi, tetapi kekurangan relasi. Jürgen Habermas (1989) mengingatkan bahwa masyarakat demokratis membutuhkan ruang publik yang sehat, tempat warga bertukar gagasan secara rasional. Yang menarik, ancaman terbesar terhadap ruang publik hari ini bukan lagi sensor atau pembungkaman. Ancamannya justru kebisingan.

Terlalu banyak suara. Terlalu sedikit pemahaman. Terlalu banyak reaksi. Terlalu sedikit refleksi. Dalam suasana seperti itu, pendidikan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat daripada sekadar mengajarkan literasi digital. Yang harus diajarkan bukan hanya cara menggunakan teknologi, melainkan cara menjaga kemanusiaan ketika teknologi menguasai hampir seluruh ruang hidup.

Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dalam lima detik. Bahwa tidak semua perbedaan harus berubah menjadi pertengkaran. Bahwa tidak semua pendapat yang berbeda merupakan ancaman.

Berita Terkait :  Was-Was Megathrust

Mereka perlu belajar bahwa mendengar bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, mendengar adalah bentuk kecerdasan yang semakin langka. Sebab pada akhirnya, masalah terbesar masyarakat digital bukanlah kekurangan informasi. Kita sudah kebanjiran informasi. Masalah terbesar kita adalah kekurangan perenungan.

Kita mengetahui semakin banyak hal, tetapi memahami semakin sedikit hal. Kita terhubung dengan semakin banyak orang, tetapi semakin jarang bertemu secara sungguh-sungguh. Kita berbicara lebih sering daripada generasi mana pun dalam sejarah, tetapi belum tentu lebih bijaksana.

Barangkali itulah lelucon paling gelap dari zaman digital ini. Ketika teknologi akhirnya berhasil menghubungkan hampir seluruh manusia di planet ini, yang justru hilang bukan sinyal internet, bukan jaringan komunikasi, melainkan kemampuan sederhana yang selama ribuan tahun menjadi dasar pendidikan dan peradaban: mendengarkan orang lain. Dan ketika kemampuan itu hilang, kita mungkin masih menjadi masyarakat yang sangat terkoneksi. Tetapi belum tentu lagi menjadi masyarakat yang benar-benar belajar.

————– *** ——————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!