Survei Seismik Darat 2D Lamturo sebagai bagian dari upaya pencarian cadangan minyak dan gas bumi.
Pemkab Bojpnegoro, Bhirawa. – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendukung rencana pelaksanaan Survei Seismik Darat 2D Lamturo sebagai bagian dari upaya pencarian cadangan minyak dan gas bumi (migas) baru. Kegiatan eksplorasi tersebut akan dilaksanakan di wilayah Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban.
Khusus di Bojonegoro, survei direncanakan mencakup 17 kecamatan. Sosialisasi rencana kegiatan digelar di Ruang Angling Dharma, Jumat (28/8), dengan melibatkan pemerintah daerah, jajaran terkait, serta pemangku kepentingan.
Perwakilan SKK Migas, Misbachul Munir, Analis Senior Departemen Operasi, mengatakan survei seismik 2D merupakan bagian dari rangkaian panjang kegiatan eksplorasi untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi.
Data yang diperoleh nantinya menjadi dasar untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya potensi cadangan migas yang dapat ditindaklanjuti.
“Survei Seismik 2D ini salah satu ikhtiar dari rangkaian panjang pencarian cadangan minyak dan gas bumi. Tujuannya untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi dan melihat potensi-potensi yang bisa dieksplorasi lebih lanjut,” ujarnya.
Menurut dia, pelaksanaan survei akan bersinggungan langsung dengan masyarakat dan lingkungan. Karena itu, koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak menjadi hal penting agar kegiatan dapat berjalan aman dan lancar.
SKK Migas juga berharap dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, pemerintah desa, serta tokoh masyarakat dapat membantu menciptakan kondisi yang kondusif selama kegiatan berlangsung. Aspek keselamatan, kata dia, menjadi salah satu prioritas utama dalam seluruh kegiatan hulu migas.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat agar rencana kegiatan dapat dipahami secara utuh. Masyarakat perlu mengetahui metode, tahapan, waktu, hingga mekanisme pelaksanaan survei di lapangan.
Ia juga menekankan bahwa survei seismik masih merupakan tahap awal eksplorasi. Hasil survei belum dapat menjadi jaminan bahwa suatu wilayah memiliki cadangan migas yang kemudian dapat diproduksi.
“Survei ini hanya untuk mendeteksi berbagai kemungkinan kalau nantinya bisa menghasilkan. Karena itu, dalam sosialisasi perlu disampaikan metodenya apa, bagaimana, dan kapan, sehingga masyarakat memahami rencana kegiatan ini dengan baik,” jelasnya.
Nurul Azizah menilai kegiatan eksplorasi memiliki arti penting bagi keberlanjutan sektor migas di Bojonegoro. Terlebih, produksi minyak di daerah tersebut mengalami penurunan dibandingkan masa puncaknya.
Berdasarkan laporan yang disampaikan, produksi minyak Bojonegoro yang pada 2021 mencapai sekitar 231.000 barel per hari kini berada di kisaran 157.000 barel per hari. Penurunan produksi tersebut turut berdampak terhadap penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.
Pada masa puncak, penerimaan DBH Migas Kabupaten Bojonegoro tercatat sekitar Rp4,5 triliun. Sedangkan pada 2025–2026, penerimaan tersebut berada di kisaran Rp2,8 triliun.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Bojonegoro dalam menjaga kemampuan fiskal daerah sekaligus membiayai pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, Pemkab Bojonegoro berharap Survei Seismik 2D Lamturo dapat berjalan aman, lancar, dan menghasilkan data yang optimal. Jika hasil eksplorasi nantinya menunjukkan adanya cadangan migas yang layak dikembangkan hingga tahap produksi, keberadaan sumber daya tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi daerah dan masyarakat.
Manfaat tersebut antara lain melalui penerimaan negara dan daerah, tumbuhnya aktivitas ekonomi, serta terbukanya peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan penunjang sektor hulu migas.
Di Bojonegoro, wilayah survei meliputi Kecamatan Balen, Baureno, Kanor, Kedungadem, Kepohbaru, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberrejo, Bubulan, Dander, Gondang, Ngambon, Ngasem, Purwosari, Sekar, Tambakrejo, dan Temayang.
Pemkab menekankan agar seluruh tahapan survei mengedepankan keselamatan, kepatuhan terhadap ketentuan, perlindungan lingkungan, serta komunikasi yang terbuka dengan masyarakat.
Sinergi antara pemerintah daerah, SKK Migas, Pertamina EP, aparat keamanan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menjaga pelaksanaan survei tetap kondusif. Selain menjadi bagian dari upaya menemukan sumber energi baru, kegiatan tersebut diharapkan mendukung keberlanjutan sektor migas dan pembangunan ekonomi Bojonegoro. [bas.hel]



