“ Musim Haji, Order Sarung Tenun Goyor Meningkat Meski Tak Seramai Ramadan “
Jombang, Bhirawa
Aktivitas menenun tampak di sejumlah rumah produksi sarung yang berada di Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Selasa (5/5).
Di tengah menyambut momen musim haji 2026 ini, para perajin bersemangat menjemput rezeki. Mereka menenun benang untuk dijadikan sarung berkualitas. Dalam hal ini, sarung-sarung itu untuk kebutuhan souvenir khas jemaah haji asal Indonesia.
Meski tak seramai orderan saat bulan Ramadan dan Lebaran, namun menjelang musim haji 2026 ini, permintaan akan sarung tenun goyor di rumah produksi sarung di Penggaron, Mojowarno ini juga meningkat dari hari-hari biasa.
Di rumah produksi sarung milik Siti Khoirumah (41) di desa tersebut, tampak sibuk. Aktivitas menenun dengan alat tenun tradisional terlihat. Rupanya, kesibukan menjelang musim haji ini berbeda dengan suasana pada hari-hari biasa. Hal ini karena orderan sarung yang masuk mengalami peningkatan.
Atas meningkatnya orderan sarung tenun ini, Siti Khoirumah merasa bersyukur. Meski tak sebanyak saat Ramadan dan Lebaran, meningkatnya order sarung pada musim haji tetap disyukurinya.
“Alhamdulillah, untuk musim haji ini ada peningkatan permintaan, terutama untuk souvenir haji,” tutur dia.
“Memang tidak sebesar saat Lebaran kemarin yang naik sampai 200 persen, tapi ini cukup membantu. Banyak pesanan yang harus kami selesaikan untuk para jemaah yang akan berangkat,” tuturnya lagi.
Dia mengatakan, dalam sepekan, biasanya dia memproduksi sekitar 15 potong sarung.
Soal harga sarung, dia dia membandrol bervariasi. Mulai dari Rp250 ribu per potong untuk jenis tertentu.
Keistimewaan Sarung Tenun Goyor: Hangat saat Dingin, Dingin saat Panas
Siti membeberkan keistimewaan sarung tenun goyor buatannya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Menurutnya, keistimewaan sarung tenun goyor salah satunya adalah, ketika musim dingin jika dipakai terasa hangat.
“Sebaliknya, kalau musim kemarau atau panas, justru terasa dingin dan nyaman,” ujar dia.
Tak hanya memproduksi sarung. Usaha rumahan ini juga memproduksi songket, selendang, dan kain. Harganya, sangat tergantung pada bahan baku yang digunakan.
“Harga macam-macam. Kalau warna alam lebih mahal, rata-rata di atas Rp200 ribu per meter. Kalau kain sintetis sekitar Rp100 ribu per meter,” jelasnya.
Usaha ini juga kerap menghadapi kendala. Salah satunya adalah faktor cuaca. Hal ini karena proses penjemuran dan pewarnaan sangat bergantung pada sinar matahari.
Pemasaran sarung tenun goyor asal Desa Pengaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang telah merambah berbagai daerah di Indonesia.
Pesanan juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Banyumas, dan sejumlah pondok pesantren di sekitar Kabupaten Jombang.
Dikatakannya, dengan harga mulai Rp250 ribu per potong, kualitas sarung tenun goyor ini sebanding dengan proses pembuatan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
“Serta keunikan rasa nyaman yang tidak ditemukan pada sarung biasa,” pungkasnya. [rif.kt]


