Oleh:
Nuraini Santika
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya sedang menempuh mata kuliah Komunikasi Pariwisata
Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya yang melimpah, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata unggulan dunia. Namun, potensi tersebut tidak akan optimal tanpa didukung oleh strategi komunikasi pariwisata yang tepat. Di era yang serba digital ini, komunikasi bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga membangun narasi, menciptakan pengalaman, dan menjalin hubungan emosional dengan wisatawan.
Artikel ini akan mengupas penerapan komunikasi dalam industri pariwisata Indonesia melalui studi kasus kesuksesan Rustic Market Trawas di Mojokerto, yang berhasil menarik perhatian wisatawan dengan konsep unik dan pemanfaatan media sosial yang cerdas.
Komunikasi Pemasaran di Sektor Pariwisata
Pada intinya, komunikasi pemasaran pariwisata adalah seni menyampaikan nilai dan pesona sebuah destinasi kepada calon pengunjung. Di Indonesia, strategi ini sangat krusial mengingat keberagaman destinasi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah gencar mengadopsi strategi pemasaran digital, meliputi penggunaan media sosial, optimisasi mesin pencari (SEO), pemasaran konten, hingga kolaborasi dengan influencer, untuk memperkenalkan destinasi wisata dan berinteraksi langsung dengan wisatawan. Langkah ini sejalan dengan program prioritas Kemenpar di tahun 2026 yang berfokus pada penguatan digitalisasi tata kelola pariwisata melalui program Tourism.
Rustic Market Trawas dan Penerapan Komunikasi yang Sukses.
Contoh nyata penerapan komunikasi pariwisata yang efektif dapat kita lihat dari kesuksesan Rustic Market Trawas di Mojokerto, Jawa Timur. Destinasi yang berlokasi di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas ini adalah sebuah kafe yang mengusung konsep pedesaan ala Eropa dengan bangunan kayu dan lanskap persawahan yang hijau. Sejak dibuka pada Juli 2021, tempat ini langsung viral dan terus menjadi primadona hingga tahun 2026.
Kesuksesan Rustic Market Trawas tidak lepas dari penerapan strategi komunikasi yang mumpuni dengan mengandalkan tiga pilar utama.
Pertama, pemanfaatan media sosial dan konten kreatif. Viralitas Rustic Market Trawas tidak terjadi begitu saja. Kafe ini dengan cerdik memanfaatkan platform seperti TikTok dan Instagram untuk menyebarkan daya tarik visualnya. Konsep “Switzerland nya Mojokerto” yang ditampilkan pengunjung dan content creator menjadi narasi ampuh yang menarik rasa penasaran wisatawan. Di era digital, Kemenparekraf terus mendorong pembuatan konten kreatif di media sosial untuk membangun branding destinasi yang positif di tengah persaingan yang ketat. Rustic Market adalah bukti nyata bagaimana konten visual yang kuat mampu menciptakan keajaiban pemasaran.
Kedua, membangun interaksi dan komunitas. Keberhasilan komunikasi juga diukur dari interaksi yang terbangun. Rustic Market Trawas tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga pusat aktivitas sosial, mulai dari tempat berkumpul keluarga hingga lokasi photoshoot. Ini menciptakan user generated content yang sangat berharga. Selain itu, keterlibatan komunitas lokal seperti Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di berbagai desa wisata Indonesia telah terbukti efektif dalam mempromosikan potensi lokal meskipun dengan sumber daya terbatas.
Ketiga, penyampaian pesan yang konsisten dan autentik. Keunikan Rustic Market Trawas adalah konsistensinya dalam membangun “rasa” Eropa dengan latar belakang alam pegunungan dan persawahan. Meski mengusung tema asing, tempat ini tidak meninggalkan kearifan lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata. Strategi komunikasi budaya berbasis kearifan lokal yang dikombinasikan dengan narasi digital, seperti yang diterapkan di Desa Segarajaya, Bekasi, menjadi model paling efektif untuk membangun identitas destinasi yang autentik. Pendekatan ini juga menjadi kunci untuk menciptakan emotional resonance dengan wisatawan.
Kunci Keberlanjutan
Komunikasi dalam pariwisata tidak bisa hanya berpusat pada pengelola saja. Program-program seperti “Kajii Go Digital” yang menguatkan promosi digital desa wisata atau pelatihan public speaking untuk generasi muda di desa wisata menunjukkan pentingnya pemberdayaan masyarakat. Komunitas lokal adalah ujung tombak layanan dan duta merek ( brand ambassador ) paling autentik bagi sebuah destinasi. Ketika masyarakat lokal mampu bercerita dengan bangga tentang desanya, pesan yang disampaikan akan jauh lebih kuat dan dipercaya.
Namun, peluangnya sangat besar. Pemerintah terus berupaya meningkatkan digitalisasi, salah satunya dengan program Kampung Internet yang terbukti mampu mendorong kebangkitan sektor pariwisata di pedesaan. Kemenparekraf juga telah meluncurkan MaiA, sebuah tonggak penting dalam transformasi digital pariwisata Indonesia pada tahun 2026. Tantangan lainnya adalah perlunya adaptasi terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai jembatan komunikasi internasional. Jika semua elemen ini dapat diatasi, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi destinasi wisata digital terdepan di Asia Tenggara.
Penerapan komunikasi dalam industri pariwisata di Indonesia telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, terutama melalui pemanfaatan media sosial dan keterlibatan komunitas. Suksesnya Rustic Market Trawas menjadi bukti nyata bahwa konsep yang unik dikombinasikan dengan strategi komunikasi yang tepat dapat menciptakan destinasi yang viral dan berkelanjutan. Ke depan, tantangan yang harus diatasi adalah pemerataan infrastruktur digital dan peningkatan literasi digital SDM pariwisata. Dengan terus beradaptasi terhadap teknologi baru dan memperkuat kolaborasi semua pihak, komunikasi pariwisata Indonesia akan mampu mengangkat potensi lokal ke panggung dunia. Inilah saatnya bagi seluruh insan pariwisata untuk terus berinovasi dan berkisah, karena setiap tempat di Indonesia memiliki cerita yang layak untuk didengar dunia. Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Komunikasi Pariwisata, Kelas (R), di bawah bimbingan Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. [*]


