29 C
Sidoarjo
Tuesday, May 5, 2026
spot_img

Belajar darl Gagalnya Kebijakan Diversifikasi Beras

Oleh :
M Chairul Arifin
Penulis senior, purnabakti di Kementerian Pertanian RI, Alumnus Universitas Airlangga (Unair), Surabaya

Kegagalan diversifikasi pangan adalah ironi terbesar dalam sejarah perjalanan kebijakan pangan kita.

Selama puluhan tahun, diversifikasi selalu menjadi jargon resmi-tercantum dalam dokumen perencanaan, pidato, hingga program kementerian-namun tidak pernah sungguh-sungguh menjadi arus utama kebijakan.

Pelaksanaan selama ini terus dilakukan hanya sebatas evaluasi tahunan yang menyangkut konsumsi beras namun belum terhubung dengan konsumsi pangan lainnya. Akibatnya sulit diambil suatu conclusi bahwa telah terjadinya diversifikasi beras.

Alih-alih memperkuat sagu, jagung, sorgum, umbi-umbian, dan pangan lokal lainnya sebagai basis kedaulatan konsumsi, sistem justru membiarkan homogenisasi karbohidrat berbasis beras dan kini bergeser ke gandum.

Diversifikasi berhenti sebagai slogan administratif, bukan sebagai strategi struktural.

Kegagalan ini bukan sekadar soal selera masyarakat, tetapi kegagalan desain insentif. Riset, subsidi, distribusi, promosi, bahkan kurikulum konsumsi publik tidak diarahkan untuk membentuk pola makan yang beragam dan sehat

Padahal sebuah Neraca Pangan dapat menunjukkan telah jenuh untuk komoditi karbohidrat dan gula misalnya . Tetapi negara tetap mendatangkan kebutuhannya dengan alasan kebutuhan industri dalam negeri yang sedang tumbuh.

Negara terlalu fokus pada stabilisasi satu-dua komoditas, sementara keberagaman hayati dan budaya pangan Nusantara terpinggirkan oleh logika efisiensi pasar global.

Padahal justru pada keberagaman itulah letak ketahanan dan kedaulatan sejati.

Berita Terkait :  Masyarakat Butuh Subsidi BBM

Akibatnya, ketika impor gandum mengalir deras dan industri hilir berkembang cepat, kita tidak memiliki bantalan diversifikasi yang kuat. UMKM pun mengikuti arus bahan baku termudah dan termurah, sehingga sekitar 70% berbasis gandum.

Ini bukanlah kesalahan mereka namun tidak pernah ditaati nya Neraca Pangan yang telah kita buat sendiri

Dan bukan kesalahan pelaku usaha kecil, melainkan konsekuensi dari struktur kebijakan yang tidak memberi ruang kompetitif bagi pangan lokal sehingga Neraca Pangan yang telah kita rancang di abaikan dengan cara yang mudah begitu saja

Sehingga wajar timbullah pertanyaan kita ini,ingin Berswasembada, didasarkan pada apa, ya Apa karena kebutuhan domestik belum terpenuhi atau memakai standar tertentu misal Pola seimbang dan Pola Pangan Harapan. Kepastian adanya metode ini berpengaruh kepada pencapaian swasembada.

Diversifikasi gagal karena tidak pernah didesain sebagai ekosistem, hanya sebagai proyek.

Di sinilah akar persoalannya: fragmentasi makna kedaulatan, penyimpangan tafsir swasembada, dominasi pendekatan produksi atas konsumsi, ketergantungan impor yang meminggirkan komoditas lokal, gandumisasi yang masif, serta kegagalan diversifikasi-semuanya saling terhubung.

Dampaknya menjalar dari ekonomi pertanian ke kesehatan publik, melahirkan epidemi penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit kardiovaskular, Diabetes Mellitus, tipe 2, dan gangguan metabolik yang menjadi pembunuh senyap bangsa.

ika tidak ada koreksi arah, maka yang kita wariskan bukan hanya ketergantungan pangan, tetapi juga generasi dengan beban kesehatan kronis yang mahal dan sulit dipulihkan.

Berita Terkait :  TPT Jatim Turun, Gubernur Terbitkan SE Larangan Tahan Ijazah dan Larangan Diskriminasi Loker

Sudah seharusnya alarm Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menjadi salah satu penbahasan untuk terjadinya diversifikasi. Diversifikasi bukan lagi pilihan kebijakan tambahan; ia adalah syarat keselamatan nasional.

————– *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!