Desa Doudo (dalam bahasa setempat dilafalkan “Ndhudha”) identik dengan gambaran Dou do (telanjang), namun cerita yang sebenarnya adalah nama Desa Doudo ini berasal dari bahasa Kawi, “doh” yang berarti jauh dan “uda” yang berarti air, mengingat keadaan alam Desa Doudo sendiri yang sulit didapati air tanah.
Oleh:
Achmad Tauriq Imani – Harian Bhirawa
Dengan luas wilayah 102 Ha terbagi menjadi 2 Rukun Warga (RW) dan 6 Rukun Tetangga (RT), Desa Doudo adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik dan berbatasan dengan Desa Sekapuk Kecamatan Ujungpangkah di sebelah utara, Desa Gedangan Kecamatan Sidayu di sebelah tenggara dan Desa Wotan Kecamatan Panceng di sebelah barat.
Dihuni oleh sekitar 1.530 jiwa yang terdiri dari laki-laki 778 jiwa dan perempuan 752 jiwa dengan sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, swasta dan pekerja di luar negeri. Desa Doudo telah bertransformasi menjadi desa mandiri dan membuat masyarakat sekitarnya sadar akan pentingnya kesehatan serta mengolah infrastruktur desa.
Bahkan, Desa Doudo dari desa yang tandus dan jauh dari air ini, kini sudah berubah dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh warganya serta bisa mengundang warga desa lain untuk berkunjung ke desa Doudo.
Sebelum tahun 2002, desa Doudo merupakan desa tertinggal dengan infrastruktur dan kesehatan yang kumuh. Dan untuk akses kesehatan, desa Doudo mulai melakukan pengadaan air bersih pada tahun 2003-2014, dilanjutkan dengan pembuatan sanitasi pada tahun 2013-2018 dan pada tahun 2014 hingga sekarang desa Doudo mulai fokus terhadap lingkungan.
Seiring dengan tercapainya program pembangunan infrastruktur dan pencapian akses air bersih, pemerintah desa menginisiasi gerakan masyarakat (GERMAS) yakni ‘PAKAI JAS MERAH’ yang kepanjangannya Pengelolaan Air secara Kreatif Aktif Inovatif Jadikan Sampah Menjadi Berkah.
Dalam gerakan masyarakat ‘PAKAI JAS MERAH’ ini ternyata dapat membetuk kampung tematik seperti, Kampung e-LINK (Edukasi Lingkungan Inovatif dan Kreatif), Kampung 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Kampung Toga, Kampung Sayur, Kampung Sicantik (Siap Cari Jentik Cegah Demam Berdarah Sekarang) dan Kampung Aloevera.
Perjuangan Kepala Desa Doudo, Sutomo, S.Pt dalam memimpin perubahan desa juga tidaklah mudah, selain merubah kebiasaan warga yang sulit diajak berkembang juga harus memperhatikan peran gizi balita yang ada di desa Doudo agar menjadi generasi masa depan yang lebih baik dan membawa manfaat bagi desa Doudo.
“Untuk itu, kami memperkuat peran dapur sehat dengan menjalin kerjasama tingkat Desa/Bumdes guna menyediakan menu bergizi. Selain itu, kami juga memanfaatkan bahan lokal berupa tanaman yang ditanam di pekarangan sebagai menu bergizi tambahan yang dapat untuk dijadikan sayur mayur bagi anak-anak,” tuturnya.
Selain memanfaatkan bahan lokal, Sutomo juga melakukan edukasi, pendampingan keluarga beresiko seperti ibu hamil dengan Kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), anak kurang gizi dan stunting dengan menyediakan telur, ikan serta ayam murah bagi Pemberian Makanan Tambahan (PMT),” ujar Kepala Desa Doudo, Sutomo, S.Pt yang telah berhasil merubah desa Doudo dari desa tandus menjadi desa mandiri.
“Kesehatan setiap tahunya menjadi perhatian utama dalam penyusunan RKPDes dan anggaran difokuskan untuk program kesehatan baru ke program yang ada, seperti PMT balita, PMT bumil KEK, kelas ibu hamil dan ibu balita, pemberian vitamin A, pemantauan pertumbuhan di Posyandu hingga sanitasi air bersih,” paparnya.
Untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi maupun stunting, pemerintah desa Doudo telah mengalokasikan dana desa untuk bidan dan para kader. Juga untuk penjaringan serta pemantauan balita dan dari Dinas Kesehatan berupa bantuan PMT lokal dan pemberian vitamin A.
“Kami juga aktif menggelar pelatihan kader dan mengoptimalkan peran aktif setiap bulannya. Selain itu untuk langkah kedepannya, kami juga pemantauan PMT balita stunting, PMT posyandu tiap bulan dan mendukung program nasional yakni MBG,” tegas Sutomo.
Peran Sekolah dalam Pemenuhan Gizi Anak
Sekolah memiliki peran yang penting dalam pemenuhan gizi anak, baik melalui edukasi gizi seimbang, pengawasan kantin sehat hingga penerapan program makan bersama atau makanan bergizi.

Kepala Sekolah UPT SD Negeri 215 Gresik, Yayuk Suprehatin,S.Pd.M.Pd mengungkapkan bahwa sekolah berperan aktif dalam memberikan sosialisasi kepada seluruh siswa tentang pemenuhan gizi bagi siswa.
“Sosialisasi bekal makanan anak-anak tentang menu sehat dilakukan pada waktu sekolah mengadakan sosialisasi program sekolah dan dilakukan secara berkala. Selain itu juga dilakukan pemantauan oleh wali kelas masing-masing terhadap bekal makanan yang dibawa oleh anak didiknya,”tegasnya.
Karena, di sekolah sendiri masih belum ada program penyediaan menu sehat bagi para siswa. “Hanya ada menu dari MBG setiap hari Senin sampai Jumat. Untuk gizi sudah cukup terpenuhi dari MBG, tapi untuk kriteria makanan 4 sehat 5 sempurna masih belum terpenuhi, karena untuk susu masih kadang-kadang diberikan ke siswa,” jelasnya.
Bagi Yayuk, peran para guru juga sangat besar dalam memberikan pengertian kepada para orangtua agar menyiapkan bekal ke putera dan puterinya yang penuh dengan gizi terutama susu, setidaknya bisa dibawakan susu kotak setiap harinya.
“Bekal bergizi tambahan ini sangat penting dibawa oleh anak-anak agar tidak mengandalkan adanya MBG. Bekal tambahan tersebut bisa berupa susu atau buah-buahan,” katanya.
Gubernur Perkuat Gizi Masyarakat
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memperkuat pembangunan gizi masyarakat pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) Tahun 2026.

Melalui program Jatim dalam Nawa Bhakti Satya, penguatan gizi masuk menjadi program prioritas sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Gubernur Khofifah menyampaikan, gizi merupakan pilar membentuk manusia Jawa Timur yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Karena itu, penguatan gizi tidak dapat dipandang semata sebagai urusan sektor kesehatan, melainkan sebagai investasi pembangunan jangka panjang.
“Melalui Jatim Sehat, kami memastikan pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang menjadi prioritas utama. Gizi yang baik adalah investasi jangka panjang bagi generasi masa depan dan penentu terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
Gubernur Khofifah menegaskan, dalam membangun generasi emas harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Pola konsumsi dan kebiasaan makan sehat di rumah menjadi fondasi utama pembentukan perilaku hidup sehat masyarakat.
“Sehat itu tidak harus mahal, membangun generasi emas bisa dimulai dari piring makan di rumah. Dari sanalah kebiasaan hidup sehat dibentuk, dari piring kita sendiri,” tegasnya.
Adapun upaya penguatan gizi di Jawa Timur dilaksanakan secara komprehensif melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif. Program tersebut meliputi penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, optimalisasi peran Posyandu, pemantauan asupan gizi balita, pemenuhan gizi remaja, serta edukasi gizi lintas siklus kehidupan.
Seluruh program dijalankan secara kolaboratif bersama pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam pembangunan gizi.
Gubernur Khofifah juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam pembangunan gizi, khususnya dalam percepatan penurunan stunting di Jawa Timur.
Tantangan pertama berkaitan dengan daya beli dan akses ekonomi masyarakat. Meskipun inflasi relatif terkendali, harga pangan sumber protein hewani masih dirasakan cukup berat oleh sebagian keluarga prasejahtera. Oleh karena itu, tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dinilai sangat relevan dan strategis.
Tidak hanya, Khofifah menguraikan Jawa Timur memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari padi, jagung, umbi-umbian, ikan, telur, sayur, buah, hingga kacang-kacangan. Jika dikelola dan dikonsumsi secara seimbang, pangan lokal tersebut sesungguhnya telah mencukupi kebutuhan gizi keluarga.
Tantangan berikutnya adalah literasi gizi masyarakat. Masih banyak yang memaknai makan cukup sebatas kenyang, tanpa memperhatikan komposisi gizi sesuai konsep Isi Piringku. Selain itu, berbagai mitos pangan juga masih berkembang di masyarakat.
Padahal, pangan seperti ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak secara optimal. Edukasi gizi yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengubah pola pikir dan perilaku konsumsi masyarakat.
Prevelansi Stunting Terbaik
Di tengah berbagai tantangan tersebut, capaian pembangunan gizi Jawa Timur menunjukkan hasil yang sangat positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Jawa Timur turun signifikan dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terbaik di Pulau Jawa dan salah satu yang terendah secara nasional. Meski demikian, masih terdapat beberapa kabupaten/kota dengan prevalensi relatif tinggi sehingga memerlukan intervensi yang lebih terfokus dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah, ini prestasi yang membanggakan. Namun ini bukan akhir perjuangan. Pencegahan stunting harus dilakukan secara konsisten sejak masa remaja, kehamilan, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi menyangkut kualitas masa depan anak bangsa,” tegasnya.
Makan Bergizi Anak
Menurut Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Wahyu Kuncoro, ST.M.MCD.KOM, Pemerintah telah mulai meng-gelontor program pelaksanaan awal makan bergizi gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Selanjutnya MBG akan tercantum menjadi prioritas RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional).
“Sekaligus sebagai realisasi janji politik saat kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. MBG Indonesia akan menjadi yang paling kolosal di seluruh dunia, melibatkan 15 juta jiwa sasaran. Bahkan sampai 82,9 juta penerima manfaat sampai tahun 2029,” katanya.
Penerima manfaat MBG terdiri dari Balita, santri, dan siswa PAUD, TK, SD hingga SLTA. Berikutnya akan menyasar ibu hamil dan menyusui. Tidak tanggung-tanggung, MBG disokong alokasi anggaran sebesar Rp 71 triliun, bersumber dari APBN 2025.
Sekaligus menjadi program pertama dalam tema Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran. Pada tahap awal, MBG digelontor serentak 190 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 26 propinsi.
Pemberian (dan jaminan) pangan pada anak, merupakan hak utama yang diakui dalam Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walau sudah di-umum-kan sejak tahun 1954, tetapi baru ditabalkan pada tahun 1989, melalui Konvensi Hak-Hak Anak. Pemerintah me-ratifikasi Konvensi Hak anak melalui Keputusan Presiden nomor 36 Tahun 1990. Tetapi realitanya, masih banyak anak Indonesia menderita kekurangan pangan (kelaparan).
Di Indonesia, konstitusi menjamin hak asasi anak. Tertulis dalam UUD pasal 28-B ayat (2), mengamanatkan: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi.” Juga telah terdapat mandatory lex specialist, berupa UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pada pasal 19, dinyatakan, “Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan terjangkau.”
Berdasar data Global Hunger Index (GHI) pada tahun 2024, indeks kelaparan Indonesia adalah yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. Indeks kelaparan Indonesia mencapai 16,8 atau termasuk dalam kategori moderate. Indeks ini diukur berdasarkan jumlah populasi yang mengalami kurang gizi, jumlah anak dengan stunting, jumlah anak yang mengalami wasting, dan jumlah kematian pada anak.
“Karena bersifat program unggulan (Program Hasil Terbaik Cepat), maka MBG dibarengi dengan pengawasan teknis, dan fungsional. Sehingga standar kebersihan, kecukupan gizi, dan pengelolaan limbah, sesuai peraturan yang berlaku. Serta terdapat jaminan keberlanjutan program,” ucapnya.
Sehingga setiap dapur wajib memiliki kepala SPPG, yang ditunjuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Maka setiap unit SPPG wajib memiliki (bekerjasama) dengan seorang ahli gizi dan seorang akuntan.
Pada awal pelaksanaan MBG, tak bisa abaikan kritisi. Termasuk nyaris mustahil dilakukan oleh kalangan usaha mikro dan kecil. Begitu pula konsep trickle-down effect (keuntungan usaha besar akan meluruh pada usaha mikro) belum bisa diharapkan.
MBG pada tahap awal saat ini, juga belum bisa diharapkan untuk tujuan mengurangi stunting, dan wasting (badan kurus kurang gizi). Karena stunting harus dimulai saat ibu hamil sampai balita berusia 2 tahun.
Ahli gizi sedunia meyakini pemberian asupan makanan sehat dan bergizi pada anak, bukan hanya bisa mencegah terjadinya penyakit. Melainkan juga kemanfaatan lain. Diantaranya, menjaga berat badan tetap ideal, dan menyehatkan suasana hati (mood). Juga mencegah masalah kesehatan mental, seperti cemas atau depresi.
Pemerintah sejak lama telah berupaya melindungi kesehatan anak. Termasuk menyelenggarakan pencegahan penyakit (imunisasi). Di seluruh dunia, kinerja kesehatan anak di-nomor satu-kan, melebihi program memajukan ekonomi. Sehingga setiap anak harus dihindaran dari berbagai ancaman penyakit.
18 tahun, JAPFA for Kids
Selama 18 tahun, JAPFA for Kids telah mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak.
“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” terang Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya.
Rachmat menjelaskan kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Kami berharap sinergi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah dan masyarakat dapat terus diperkuat demi mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.
Sementara itu, tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5-12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Adapun data yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Hingga tahun 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.
“Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” papar Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti.
Edukasi Publik terhadap Gizi
Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H menilai edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. “Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Sosialisasi memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini,” ujar Prof. Sandra Fikawati.
Prof Sandra menekankan bahwa nutrisi pada bayi seharusnya diberikan pada 8.000 hari pertama. “Masalah stunting ini, penyakit karena tidak cukup gizi dan kurang cukup makan. Generasi 170 ini, generasi optimis dan realistis, saya senang dengan program ini. Soal stunting ini, bukan hanya nutrisi 1.000 hari pertama yang diperhatikan, perlu ditambah lagi 7.000 hari lagi,” ucap Guru Besar Gizi Masyarakat FKM UI Ini.
Selain itu, pemberian protein hewani sangat penting ketimbang hanya mengutamakan protein nabati dari tahu ataupun telur. Sedangkan protein hewani, seperti daging merah, daging putih (ayam dan ikan), telur, susu mengandung asam essensial yang lebih lengkap ketimbang makanan dari protein nabati.
Dengan pemberian makanan dengan protein hewani lebih baik diberikan beragam setiap harinya. “Semisal hari ini telur, besok susu, besok daging, besok ikan. lebih baik dibandingkan hanya konsumsi ikan atau daging saja,” pungkasnya. [*]


