28.4 C
Sidoarjo
Wednesday, August 12, 2026
spot_img

Lima Megatren yang Mengubah Wajah Kawasan Bisnis Asia Pasifik, Dari AI sampai Keamanan Energi

Surabaya, Bhirawa

Laporan baru dari Colliers menunjukkan bahwa investasi cepat pada kecerdasan buatan (AI) dan tekanan pada sistem energi sedang mengubah real estat komersial, tenaga kerja, dan strategi bisnis di Asia Pasifik.

Dengan ketidakpastian yang meningkat dan perubahan yang makin cepat, perusahaan dipaksa menata ulang cara mereka bekerja: mulai dari strategi talenta dan desain tempat kerja hingga rantai pasok dan perencanaan risiko jangka panjang.

Asia Pasifik diperkirakan akan menyumbang sekitar 60 persen pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade ke depan, sehingga wilayah ini semakin menentukan keputusan lokasi, investasi, dan strategi talenta perusahaan global.

Colliers merangkum lima megatren yang saling terkait dan memengaruhi strategi real estat korporat. AI-enabled workforces (Tenaga kerja berbekal AI), Integrasi otomatisasi, analitik, dan AI ke dalam fungsi bisnis mengubah cara organisasi beroperasi dan mengambil keputusan. Asia Pasifik muncul sebagai pusat penting investasi infrastruktur digital dan berkembangnya kumpulan talenta teknologi.

Seismic demographic shifts (Perubahan demografis besar), artinya ada pasar yang mengalami penuaan populasi sementara ekonomi lain dipimpin oleh populasi muda yang tumbuh cepat. Perubahan ini mengubah dinamika tenaga kerja dan memengaruhi dari mana perusahaan mencari talenta, banyak organisasi menyeimbangkan pasar matang dan pusat talenta berkecepatan tinggi di Asia Pasifik.

Energy scarcity and security (Kelangkaan dan keamanan energi). Permintaan yang meningkat dari teknologi yang membutuhkan daya besar, ditambah keterbatasan infrastruktur, menjadikan ketersediaan energi faktor kritis dalam keputusan lokasi dan investasi. Tekanan ini terasa kuat di kawasan yang mengalami urbanisasi cepat dan ledakan pembangunan pusat data.

Berita Terkait :  Kios Pasar Ambruk, Pemkot Pasuruan Segera Relokasi Pedagang Terdampak

Climate risks (Risiko iklim), frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang meningkat dan regulasi yang berkembang mendorong pendekatan baru terhadap ketahanan (resilience). Beberapa lokasi di Asia Pasifik menghadapi paparan lebih besar terhadap gangguan terkait iklim, sehingga keberlanjutan lokasi menjadi pertimbangan strategis.

Shifting global order (Perubahan tatanan global), perubahan hubungan perdagangan, penataan ulang rantai pasok, dan pola pertumbuhan ekonomi memaksa perusahaan menilai kembali model lama dan berekspansi ke pasar baru. Asia Pasifik diperkirakan akan semakin berperan sebagai pusat pertumbuhan, penghubung rantai pasok penting, dan sumber talenta terampil.

Amit Oberoi, Head of Enterprise Clients Asia di Colliers, menekankan bahwa tren ini menuntut perusahaan berpikir ulang tentang perencanaan menghadapi ketidakpastian dan memasukkan ketahanan ke dalam strategi.

“Kombinasi perubahan teknologi, demografi, dan tekanan infrastruktur mengubah cara klien Colliers membuat keputusan real estat. Perusahaan yang bertindak proaktif akan lebih siap menghadapi gangguan dan membuka nilai jangka panjang,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Laporan ini juga menunjukkan peluang jelas bagi organisasi yang siap beradaptasi, dengan berinvestasi pada fleksibilitas, memperkuat kapabilitas tenaga kerja, dan menanamkan prinsip ketahanan dalam pengambilan keputusan, bisnis dapat memposisikan diri untuk sukses berkelanjutan.

Colliers berharap riset ini menjadi panggilan untuk bertindak. Mereka menegaskan bahwa percepatan perubahan menuntut organisasi segera memperkuat ketahanan agar dapat beradaptasi dan berkembang.[aya.kt]

Berita Terkait :  UIT JBM Pastikan Kondisi Sistem Transmisi Jawa Timur Andal Selama Ramadan dan Idul Fitri

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!