28.9 C
Sidoarjo
Thursday, June 18, 2026
spot_img

Kunjungan Wisatawan Asing Tak Serta Merta Menguatkan Rupiah

Surabaya, Bhirawa
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) menangapi yang sedang ramai pada media sosial tentang ajakan netizen kepada wisatawan asing untuk memperkuat nilai tukar rupiah dengan liburan ke wisata-wisata Indonesia.

kunjungan wistawwan asing tersebut tidak secara langsung memberikan dampak terhadap kenaikan rupiah, perlu kolaborasi antara Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia untuk menguatkan nilai rupiah, itu dapat bermanfaat untuk mempromosikan pariwisata Indonesia yang sedang mengalami penurunan. Kamis, (18/6/2026)

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Prof Rossanto Dwi Handoyo, SE, MSi, PhD menjelaskan kedatangan WNA sebagai momentum pelemahan rupiah hingga hampir 30% sejak Januari 2025 menyebabkan daya beli mata uang asing meningkat signifikan hingga wisatawan asing bisa memperoleh rupiah jauh lebih banyak.

“Kemudahan akses antarnegara ASEAN melalui kebijakan bebas visa dan momen liburan sekolah pada bulan Mei hingga Juni turut mendukung kunjungan, dan situasi geopolitik di Eropa serta Timur Tengah masih tidak kondusif turut menjadi faktor wisatawan beralih ke destinasi regional terdekat, jadi motivasi mereka bukan sebab ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata,” jelasnya.

Lanjut Prof Rossanto mengukapkan bahwa tidak membantah pariwisata tetap berkontribusi terhadap penguatan rupiah, tapi penguatan rupiah melalui pariwisata membutuhkan kontribusi besar.

“Satu juta wisatawan harus membelanjakan seribu dolar hanya menghasilkan satu miliar dolar AS, jumlah tersebut jauh dari kebutuhan pasar valuta asing, bahkan momentum bisa jadi peluang mendorong promosi pariwisata seperti Mandalika, Labuan Bajo, dan Raja Ampat,” katanya.

Berita Terkait :  Komitmen Antikorupsi, UMSura Bangun Tata Kelola Kampus Bersih dan Transparan

Prof Rossanto menyampaikan strategi penguatan rupiah ditopang oleh kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi, BI menaikan suku bunga secara bertahap dari 4,75% hingga 5,5% guna mendorong capital inflow dari investor asing.

“Proses tersebut sesuai dengan logika ekonomi, investor bermodal satu miliar dolar AS meraup keuntungan 50 juta dari bunga 5% jauh lebih menggiurkan dari menaruh uang di luar negeri. Selain itu, intervensi pasar valuta dapat membantu kenaikan rupiah,” imbuhnya.

Dari sisi fiskal, tambah Prof Rossanto, pemerintah menerbitkan surat utang berdenominasi dollar sehingga pasokan dolar di pasar valuta asing bertambah.

“Danantara turut berkontribusi lewat penerbitan obligasi yang permintaanya meningkat hingga 5 miliar dolar AS, kombinasi kebijakan menjadi motor utama penguatan rupiah, tidak sekadar kunjungan wisatawan asing yang kontribusinya relatif terbatas,” pungkasya.[ren.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!