Surabaya, Bhirawa – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Percepatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah wilayah Jawa yang membahas akan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, bahwasanya kegiatan ini sangat penting sehingga nantinya bisa mengecastingkan serta membuat semacam promaps bagaimana termasuk terkait dengan kreatif financing.
“Saya berharap dalam diskusi nanti, kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh di awal kemudian nanti di bagian pembahasan diskusi yang nanti dibagi menjadi tiga sesi kemudian akan saya tutup dengan suatu kesimpulan. Sehingga kita bisa mendapatkan insert yang betul-betul kita bisa bawa pulang ke daerah kita masing-masing dan kemudian bisa kita aplikasikan di wilayahnya masing-masing,” terangnya, di Westin Hotel, Selasa (11/8).
Ibrahim menjelaskan bahwa tantangan ekonomi global setelah pasca dan mungkin belum selesai disusul dengan gejolak di Timur Tengah di selat Hormuz membuat tantangan yang semakin tinggi belum kemudian ditambah terkait dengan gejolak atau tantangan pengelolaan kebijakan termasuk monoter ekonomi dunia.
Dan inilah tantangan-tantangan yang kemudian perlu disikapi, baik gejolak perang teluk yang berdampak kepada Global value.
Adalagi distribusi harga minyak yang sempat bergejolak yang dialami dari berbagai negara tidak kecuali sampai kepada Indonesia.
“Kita lihat untuk perekonomian di sepanjang tahun 2020 ini, kita masih yakin ekonomi nasional maupun Jawa kita perkirakan masih cukup kuat di 4,9 sampai 5,7%. Tentu saja ini mempunyai implikasi kuat bagaimana nanti konsumsi investasi konsumsi pemerintah termasuk di dalamnya dan ekspor harus tetap kita jaga,” jelasnya.
Ibrahim menegaskan bahwa ada beberapa hal penting yaitu bagaimana hubungan investasi kalau dalam struktur PDRB khususnya di Jawa hingga nasional saat ini masih cukup kuat.
Karena ada dua komponen besar yakni yang pertama adalah konsumsi rumah tangga dan investasi yang dikisaran 30% untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
“Mau tidak mau porsi investasi harus kita pertahankan bahkan di atas 30% inilah tantangan utama dukungan investasi tentu tidak hanya berasal dari swasta tetapi bagaimana peran APBN APBD Ini bisa memberikan kemungkinan dan memberikan stimulasi bagi sektor swasta untuk terus bergerak,” paparnya.
Momentum pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun Jawa, meskipun Jawa adalah kunci memang kalau dilihat trend-nya masih lebih baik dibandingkan nasional.
“Jadi dengan PDB 60% dari porsi ekonomi nasional yang ada di Jawa tentu ini menjadi dukungan baik bagi ekonomi nasional secara keseluruhan,” tuturnya.
Menurut Ibrahim peranan investasi terutama tantangan investasi dari fiskal terkait dengan penyesuaian atau relokasi anggaran dengan adanya program prioritas nasional maka tantangan ini juga harus dihadapi oleh semua.
“Kalau kita lihat sebetulnya dari dukungan fiskal yang ada saat ini sudah mulai bervariasi yaitu bagaimana APBN kemudian didukung oleh APBD juga bagaimana gabungan dari berbagai investasi yang ada di daerah dan bagaimana kemudian mensiasati sumber pembiayaan yang mungkin sebelumnya itu masih relatif kecil dan sekarang ke depan menjadi motivasi bagi kita mencari sumber pembiayaan yang lebih kreatif,” jelasnya.
Ibrahim menegaskan meskipun ada tantangan pihaknya yakin masih memiliki potensi yang kuat yang kompetitif di pulau Jawa yang dengan PDB 60% tadi berkontribusi terhadap ekonomi nasional tentu harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
“Sebenarnya dari enam komponen dasar ini kita mempunyai keunggulan yang lebih baik tentu ini menjadi modal dasar bagaimana kita tetap memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi melalui sektor APBN maupun APBD, oleh karena itu melalui kerangka alur-alur langkah strategis, kami coba melihat bagaimana adanya penyelesaian TKD sehingga ini memberikan tantangan dan kita tidak akan mundur untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. [riq.gat]


