27 C
Sidoarjo
Tuesday, August 18, 2026
spot_img

Protes Minimnya Perhatian Pemdes, Warga Kabupaten Pasuruan Swadaya Bangun Jembatan Shirotol Mustaqim

Kabupaten Pasuruan, Bhirawa. – Warga Desa Rebono, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, melakukan aksi unik bernada sindiran dengan menamai jembatan bambu swadaya mereka sebagai ‘Jembatan Akhirat Shirotol Mustaqim’.

Aksi itu dipicu oleh kekecewaan mendalam atas minimnya perhatian pemerintah desa terhadap infrastruktur vital yang menjadi tumpuan mobilitas warga.

Jembatan darurat berbahan bambu tersebut membentang di atas Sungai Glendangan, menghubungkan Dusun Rebono Barat dan Dusun Asem Jajar.

Nama ‘Shirotol Mustaqim’ sengaja disematkan karena kondisi jembatan dinilai sangat berbahaya dan menguji nyawa pengguna jalan, khususnya anak-anak sekolah yang melintas setiap hari.

“Jembatan ini sangat penting, khususnya akses anak-anak sekolah dari Dusun Asem Jajar untuk pergi sekolah ke Dusun Rebono Barat dan sorenya anak-anak Rebono Barat melintas untuk ngaji ke Asem Jajar,” tegas Rohasi, salah satu warga setempat, Selasa (18/8).

Meskipun bukan satu-satunya akses jalan, warga dan anak-anak sekolah lebih sering memilih melewati jalur ini lantaran jaraknya jauh lebih dekat dan efektif.

Sebelum jembatan swadaya ini berdiri, warga bahkan terpaksa menyeberangi dasar sungai yang curam dan berbahaya, terutama saat debit air meningkat di musim hujan.

Kendati demikian, karena material jembatan sepenuhnya terbuat dari bambu, struktur bangunan tersebut rentan mengalami kerusakan.

Warga mencatat jembatan ini telah beberapa kali diperbaiki secara swadaya meski usianya belum genap dua tahun.

Berita Terkait :  Kodim Surabaya Timur Gelar Karya Bakti Bersih-bersih Sungai Wonokromo

Selain melayani ratusan kepala keluarga di Dusun Rebono Barat dan Asem Jajar, jalur ini juga berfungsi sebagai jalan alternatif menuju Desa Candi Rubuh di Kecamatan Rembang.

“Material jembatan ini semuanya terbuat dari bambu, jadi cepat sekali rusak dan belum dua tahun dibangun tapi sudah beberapa kali perbaikan swadaya,” jelas Arifin, warga setempat lainnya.

Ketiadaan langkah konkret dari pemerintah desa untuk membangun jembatan permanen memaksa warga terus merogoh kocek secara mandiri melalui patungan setiap kali struktur bambu mulai lapuk.

Aksi penamaan yang sarat sindiran ini diharapkan mampu membuka mata pemerintah desa maupun Pemkab Pasuruan agar segera merealisasikan infrastruktur jembatan yang layak.

Masyarakat Desa Rebono kini mendambakan akses jalan yang kokoh dan aman, tanpa harus terus mempertaruhkan keselamatan jiwa setiap kali harus menyeberangi sungai. [hil.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!