28.4 C
Sidoarjo
Tuesday, June 9, 2026
spot_img

Jatim Dorong IKM Ekspor Lewat Sertifikasi Perikanan

Surabaya Bhirawa
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan produk para Pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) terus dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Kali ini lewat kegiatan Sosialisasi Kebijakan Perdagangan Luar Negeri dengan tajuk Kelengkapan Sertifikasi & Potensi Ekspor Komoditi Perikanan dan Hortikultura yang digagas oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang digelar di Kantor Dinas di Jalan Siwalankerto Utara, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur, Dr. Iwan, S.Hut., M.M. yang diwakili oleh Lucky, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim.

Dalam sambutannya, Lucky mengatakan jika awal Bulan Mei yang lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kinerja perekonomian Triwulan I 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sebesar 5,61 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada TW I – 2026 ini mencapai 5,96 persen. lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur Pada Triwulan ke 1 Tahun 2026 mencapai angka 888,44 triliun Rupiah dan memberikan kontribusi sebesar 14,40 persen pada PDB nasional.

“Meskipun angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS ini cukup baik, namun kita tetap harus waspada. Struktur PDRB Jawa Timur didominasi utamanya oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan, dua sektor yang rentan terkena dampak kondisi geopolitik dunia,” cetus Lucky.

Berita Terkait :  Pemkot Malang Gempur Peredaran Rokok Ilegal dan Gencarkan Edukasi pada Masyarakat

Nilai ekspor Jawa Timur pada Bulan Januari – April mencapai USD 8,52 miliar, dengan komoditi utama meliputi tembaga/katoda, perhiasan/permata, lemak & minyak hewani/nabati, dan lain sebagainya. Sebesar 94,32 persen dari total ekspor Jawa Timur didominasi oleh produk industri pengolahan.

Nilai ekspor produk pertanian (HS 06 – 09) sendiri pada bulan Januari – April 2026 adalah sebesar USD 259,93 juta, sementara nilai ekspor produk perikanan (HS 03 dan 16) mencapai USD 658,62 juta.

Sementara itu, nilai impor Jawa Timur pada Bulan Januari – April 2026 mencapai USD 10,39 miliar. Sebanyak 79,4 persen dari total impor tersebut merupakan bahan baku dan bahan penolong bagi industri pengolahan.

“Ada fenomena yang cukup menarik perhatian, terutama pada data impor kita, dimana impor buah – buahan di Jawa Timur pada Januari – April 2026 yang mencapai nilai USD 517,56, mengalami peningkatan 40,95 persen secara c-to-c,” urainya.

Peningkatan impor buah ini terjadi juga secara nasional. Data BPS Nasional menunjukkan, nilai impor buah secara nasional pada Bulan April 2026 meningkat sebesar 109,32% dibandingkan April 2025.

Menurut Lucky, faktor meningkatnya impor buah ini antara lain disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama gaya hidup sehat masyarakat perkotaan yang banyak mengonsumsi buah, dan lebih memilih buah impor.

Kedua, rasa dan kualitas buah impor yang lebih enak, lebih manis, ukurannya seragam dan bisa tahan sepanjang tahun.

Berita Terkait :  Kapolda Jatim Letakkan Batu Pertama Pembangunan Mako Satpolairud Polres Malang

“Ketiga, influencer di media sosial yang banyak mempromosikan buah – buah impor seperti strawberry korea, anggur muscat, jeruk dari China dan lain sebagainya,” ujarnya lantas tersenyum.

Menurut data BPS, importasi buah tertinggi adalah apel dan pir. Sehingga untuk meyikapi fenomena tersebut, menurut Lucky, salah satu upaya pemerintah adalah memberlakukan Permendag No 11 Tahun 2026 (pada bulan Mei 2026) tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2025 Tentang Kebijakan Dan Pengaturan Impor Barang Pertanian Dan Peternakan, dimana importasi buah pir dimasukkan dalam kategori produk hortikultura yang dikenai lartas impor.

“Tujuan penyesuaian aturan ini antara lain adalah untuk merespon kenaikan impor buah dan untuk melindungi pasar buah lokal,” terangnya.

Ada beberapa faktor yang harus dioptimalkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, diantaranya adalah konsumsi rumah tangga atau domestik, pertumbuhan infrastruktur dan investasi, serta meningkatnya nilai dan volume perdagangan luar negeri, khususnya ekspor dan impor yang mendukung produktivitas industri manufaktur.

Dalam rangka promosi dan peningkatan daya saing produk lokal, Jawa Timur menggelar misi dagang, baik misi dagang antar provinsi maupun misi dagang luar negeri.

Sejak tahun 2019 hingga April 2026, Misi Dagang Antar Provinsi telah dilakukan sebanyak 51 kali di 29 provinsi, dan menghasilkan total komitmen transaksi senilai 38,32 triliun Rupiah.

Sedangkan Misi Dagang Luar Negeri yang dilaksanakan sejak tahun 2022 hingga Bulan April 2026 telah dilaksanakan sebanyak 7 kali pada 6 negara, dan mencapai nilai komitmen transaksi total sebesar 21,14 triliun Rupiah.

Berita Terkait :  Ketua DPD RI Puji Penandatanganan IEU-CEPA, Sultan: Rekor Diplomasi RI

“Tujuan Misi Dagang Luar Negeri berikutnya adalah Hong Kong. Kebetulan komoditi yang diminati oleh Hong Kong adalah produk pertanian dan perikanan,” urai dia menambahkan.

Dalam kondisi ekonomi global yang penuh tantangan seperti saat ini, menurut Lucky, sinergi yang erat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha serta asosiasi menjadi prioritas penting.

“Semoga kita dapat bersinergi dan bekerja sama, agar senantiasa memberikan manfaat dan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Jawa Timur,” tegasnya menutup. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!