Pemkab Nganjuk, Bhirawa. – Masuknya Bulan November yang sejatinya menjadi gerbang awal musim hujan justru disambut dengan cuaca panas yang luar biasa di Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan catatan dan laporan BMKG Nganjuk, suhu udara di wilayah ini telah menembus angka 36,8 derajat Celsius, namun serasa seperti 41 derajat celsius dan di perkirakan masih berpotensi meningkat akibat minimnya tutupan awan, gerak semu matahari, serta dampak kemarau panjang.
Tercatat hingga awal November ini, hujan baru turun satu kali, meninggalkan hari-hari dengan sengatan matahari yang menyengat tajam di atas bumi Anjuk Ladang. Kondisi ini praktis mengubah pola aktivitas harian masyarakat. Di tengah kepungan panas terik dan aspal perkotaan, sejumlah warga memilih beraktifitas dan berkegiatan di berbagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Mulai dari kawasan Alun-alun Nganjuk, Taman Nyawiji, Taman Pintar, Taman Pandan Wilis, hingga sejumlah spot hutan kota seperti Kartoharjo, warga memanfaatkannya untuk berteduh, beristirahat, atau sekadar menghindari paparan radiasi matahari langsung di bawah keteduhan rindangnya pepohonan yang ada.
Fenomena suhu ekstrem ini menjadi momentum penting untuk menguji sejauh mana fungsi RTH di perkotaan bekerja secara nyata. Keberadaan RTH tidak sekadar berfungsi sebagai pemanis estetika lanskap kota. Lebih dari itu, RTH memikul tanggung jawab ekologis yang besar sebagai paru-paru kota yang memproduksi udara bersih dan menjadi daerah resapan air yang krusial.
Di sisi lain, langkah pemerintah daerah yang didukung tokoh seperti Marhaen Djumadi-dalam memperbanyak ruang publik (public area space) dan RTH hingga ke tingkat ibu kota kecamatan patut diapresiasi. Upaya ini sangat sejalan dengan komitmen pengembangan Kabupaten Nganjuk menuju Kota Layak Anak (KLA), di mana anak-anak dan keluarga membutuhkan ruang interaksi sosial yang sehat, sejuk, dan terlindung dari cuaca ekstrem.
Kendati fungsi ekologis dan sosial RTH sangat diandalkan saat cuaca panas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sarana dan prasarana pendukung masih menyisakan sejumlah catatan. Kendati Dinas Kominfo telah sigap menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis terbuka di berbagai area publik untuk mendukung kebutuhan warga, fasilitas dasar lainnya masih dirasa kurang memadai.
Sejumlah fasilitas penunjang yang mendesak untuk dibenahi dan ditambah di antaranya seperti tempat parkir khusus sepeda angin yang aman guna mendukung mobilitas hijau warga. Ketersediaan dan kebersihan toilet umum yang layak pakai bagi pengunjung termasuk para penyandang difabel dan lansia.
Ujian cuaca panas ekstrem yang melanda Nganjuk memberikan pesan tegas bahwa keberadaan RTH dan fasilitas publik bukan sekadar pelengkap tata kota, melainkan garda terdepan adaptasi terhadap perubahab iklim. Ketika hari menjelang sore ruang ruang publik tersebut juga semakin banyak dimanfatkan warga untuk berolah raga seperti basket, jogging maupun bersepeda.
Tofan Aldi, penggiat pelestari kawasan wilis (perkawis) mengatakan bahwa “urgensi dialakukannya reboisasi dan konservasi sumber mata air di daerah pegunungan Wilis dan Gunung Pandan sebagai daerah penyangga kawasan perkotaan Nganjuk”. terang Tofan demikian akrab ia disapa.
”Perubahan iklim sudah bukan peringatan lagi sekarang, namun sudah naik level menjadi ancaman serius,tidak hanya di Nganjuk namun sudah menjadi masalah dunia”. pungkasnya saat di temui di pelataran Candi Lor pada Rabu (4/11).
Perawatan vegetasi, perluasan area hijau, serta pemerataan fasilitas penunjang yang inklusif menjadi kunci agar warga Nganjuk tetap dapat hidup sehat, nyaman, dan terlindungi di ruang-ruang publik kotanya sendiri. [dro.fen]


