Pasuruan, Bhirawa
Sebuah terobosan baru dilakukan oleh Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kabupaten Pasuruan. Untuk kali pertama dalam sejarah, mereka sukses menggebrak bumi daerah lewat ajang bergengsi, yakni Olimpiade Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Pasuruan.
Kompetisi tersebut menjadi panggung unjuk gigi bagi ratusan pelajar madrasah, baik negeri maupun swasta, yang selama ini memendam potensi akademik luar biasa.
Suasana kompetisi begitu terasa sejak pagi di Kompleks Kantor Bupati Pasuruan. Pihak panitia sengaja memilih tempat paling terhormat di pemkab, yakni Auditorium Mpu Sindok, sebagai arena pertempuran otak di babak final.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketegangan dan konsentrasi tinggi menyelimuti ruangan sejak pukul 08.00 WIB hingga peluit akhir berbunyi pukul 11.00 WIB. Ketua KKMI Kabupaten Pasuruan, Hariyono, menyampaikan nimo madrasah dalam menyambut gelaran perdana ini benar-benar meledak.
Pada babak penyisihan, tercatat lebih dari 200 peserta dari berbagai pelosok kecamatan saling sikut untuk memperebutkan tiket ke kabupaten. “Ketat sekali. Masuk ke babak final ini, mekanismenya hanya Juara I, II, dan III dari masing-masing perwakilan kecamatan yang bisa lolos. Jadi, total yang bertarung di babak final di Auditorium Mpu Sindok ini menyusut menjadi 69 anak,” ujar Hariyono, Rabu (17/6) sore.
Hariyono merinci, ada enam mata pelajaran (mapel) yang diadu dalam olimpiade kali ini. Dari masing-masing mapel, panitia menyaring tiga peserta terbaik. “Jadi, total ada 18 anak yang berhasil keluar sebagai jawara utama,” tambah Hariyono.
Langkah berani KKMI menggelar kompetisi sains dan agama ini bukan tanpa alasan. Selama ini, image madrasah sering kali dipandang sebelah mata dalam urusan kompetisi akademik dibanding sekolah umum. Citra itulah yang ingin didobrak lewat ajang ini.
Hariyono menegaskan, potensi anak-anak madrasah di Kabupaten Pasuruan sebenarnya sangat melimpah dan tidak kalah bersaing dengan sekolah umum. Masalahnya, mereka kerap kekurangan panggung.
“Dan tujuan utama kami semata-mata untuk mendongkrak motivasi anak-anak agar terus belajar dan berani mengejar prestasi akademik. Potensi mereka ini luar biasa hebat, makanya kami wadahi dengan olimpiade ini,” kata Hariyono.
Kemeriahan acara memuncak saat prosesi penyerahan penghargaan. Bupati Pasuruan, HM Rusdi Sutejo, hadir langsung untuk memberikan piala kepada para pemenang. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan itu pun menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi para siswa dan guru pendamping.
Bupati yang akrab disapa Mas Rusdi ini mengaku sangat bangga melihat etos juang para santri cilik tersebut. Ia berharap, raihan prestasi ini tidak membuat para siswa cepat puas. “Selamat kepada seluruh pemenang. Semoga ilmunya terus bermanfaat dan prestasi mentereng yang diraih hari ini bisa terus dipertahankan ke depan,” ujar Mas Rusdi di sela-sela penyerahan hadiah.
Tak lupa, politisi muda ini juga membakar semangat para finalis yang belum berkesempatan membawa pulang piala. Bagi Mas Rusdi, mentalitas tidak boleh ambruk hanya karena satu kekalahan.
“Bagi yang belum menang, jangan patah arang. Tetap semangat, belajar, dan berlatih lebih keras lagi sampai nanti kalian kembali dan berdiri di sini sebagai jawara yang sesungguhnya,” seru Mas Rusdi disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Sebagai bentuk apresiasi nyata atas kerja keras para siswa, Mas Rusdi membuat kejutan di akhir acara. Secara spontan, ia menambahkan bonus uang pembinaan sebesar Rp 10 juta bagi para pemenang olimpiade. “Semoga bonus ini bermanfaat sebagai pemantik motivasi mereka agar semakin rajin mengasah kemampuannya,” ucap Mas Rusdi. [hil.wwn]


