“Melihat kondisi lingkungan desa yang waktu itu gersang, terutama di area pesisir pantai yang minim pohon dan tumbuhan, membuat saya dan teman -teman ingin menjadikan Pantai Labuhan sebagai destinasi wisata di Bangkalan,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning, Muhammad Syahril selaku pengelola Taman Wisata Laut (TWL) Labuhan, Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabuapaten Bangkalan.
Achmad Tauriq Imani – Harian Bhirawa
Kawasan seluas delapan hektare ini dulunya merupakan pesisir yang gersang juga area rawan abrasi dan tempat pembuangan sampah. Kini telah diubah menjadi ruang hijau serta menjadi pusat konservasi pesisir.
Namun berkat perjuangan Pokdarwis Payung Kuning bersama pemerintah dan BUMN menjadikan wilayah ini sebagai Taman Wisata Laut yang indah alami. Bahkan konservasi magrove dan transplantasi terumbu karangnya menjadi daya tarik utama.
“Hampir rata-rata warga disini adalah orang perantauan ke luar negeri. Saya juga sebenarnya orang perantauan di Malaysia. Saya memilih kembali ke tanah kelahiran dan mengabdi sebagai perangkat desa pada tahun 2009, sejak itu saya ingin merubah pesisir ini menjadi destinasi wisata,” ujarnya.
Peran pemerintah dan BUMN inilah yang diharapkan Pokdarwis Payung Kuning untuk melakukan pengembangan TWL Labuhan agar bisa cepat bertransformasi menjadi destinasi wisata yang layak dikunjungi.
Pada periode April hingga Juni, pengunjung dapat menikmati kawasan pesisir dengan berkeliling menggunakan perahu milik warga dengan tarif wisata perahu Rp50 ribu per orang untuk sekali perjalanan. Dari tarif tersebut, Rp40 ribu diberikan kepada pemilik perahu dan Rp10 ribu masuk ke kas Pokdarwis.
Mendukung keamanan pengunjung juga disiapkan 30 unit jaket pelampung. Dengan berkembangnya aktivitas wisata membuat sumber penghasilan masyarakat semakin beragam. Terlebih saat libur Lebaran, jumlah pengunjung dan permintaan terhadap makanan maupun kebutuhan wisata ikut meningkat.
“Alhamdulillah, kami ikut Program Pengembangan Masyarakat (PPM) binaan Pertamina Hulu Energy (PHE) West Madura Offshore (WMO). Untuk pengembangan wisata di desa, kami memiliki tiga konsep yaitu konsep konservasi, konsep edukasi dan konsep pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Untuk konsep konservasi inilah, pihak PHE WMO melakukan penyemaian serta penanaman cemara dan magrove. “Mulai dari studi banding dengan pakarnya dan sekaligus dipraktekkan di sini. Alhamdulillah sampai sekarang berlanjut dan sudah banyak desa-desa atau Kabupaten yang sudah bersinergi dengan kami hingga konservasi ini jadi,” ujarnya.
Adapun pengembangan yang sudah dilakukan di TWL Labuhan diantaranya, pengembangan kawasan ekowisata terintegrasi. Laboratorium Alam Terpadu: Kawasan ini dikembangkan dari yang awalnya merupakan lokasi abrasi parah menjadi destinasi wisata edukatif (ekowisata pesisir). Wilayah timur difokuskan pada Taman Pendidikan Mangrove dan wilayah barat difokuskan pada Taman Wisata Laut.
Fasilitas pemantauan, selain mangrove dan karang, kawasan ini menjadi pusat riset pemantauan keanekaragaman hayati, seperti metode bird banding (pencincinan burung) dan penyediaan kolam sentuh (touch pond).
Inovasi metode penanaman (Kombesitesa), sistem tetes air menerapkan teknologi Kombesitesa (Kompos Blok Sistem Tetes Air) untuk mendukung penghijauan dan keberhasilan penanaman vegetasi pantai di area pesisir Labuhan yang cenderung kering.
Juga pemberdayaan masyarakat dan pembentukan Pokdarwis Payung Kuning guna memfasilitasi pembentukan serta memberikan pembinaan berkelanjutan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning selaku pengelola resmi TWL Labuhan.
Adapun dampak ekonomi selanjutnya adalah mengubah mata pencaharian warga setempat yang sebelumnya banyak menjadi TKI ke luar negeri kini dapat mandiri mengelola sektor pariwisata berbasis lingkungan di desa mereka sendiri.
Serta pemanfaatan Energi terbarukan, sebagai bagian dari komitmen green energy, juga menyuplai instalasi energi terbarukan (seperti pemanfaatan panel surya/solar panel) untuk memberikan fasilitas pencahayaan di area TWL Labuhan guna mengurangi emisi karbon sekaligus menekan biaya operasional wisata
Syaril berharap apa yang sudah dilakukan selama ini bisa bermanfaat dan terjaga. “Semoga tetap terjaga dan terpelihara untuk mengembangkan potensi sumber daya alam kami yang tidak mudah prosesnya hingga sampai saat ini menjadi desa wisata yang berbasis konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat serta kearifan lokal yang berkelanjutan,” harapnya.
Sementara itu, dalam kegiatan konservasi penyemaian dan penanaman magrove yang ditanam di zona pesisir pantai Labuhan ternyata ada jenis magrove yang bijinya bisa dicampur dengan kopi Robusta.
“Jenis Avicennia marina atau biasa disebut mangrove api-api putih, hasil dari penelitian oleh tim ahli yang mendampingi kami. Selanjutnya dipatenkan menjadi produk unggulan desa kami yaitu kopi magrove Labuhan,” kata Syahril.
Kopi Magrove Labuhan
Desa Labuhan di Madura memang terkenal dengan konservasi mangrovenya yang berhasil, akan tetapi desa ini juga memiliki produk unggulan yang terbuat dari magrove.

Berkat kreativitasnya, Pokdarwis Payung Kuning ini berhasil mengembangkan produk bernama Kopi Labuhan, kopi ini merupakan olahan lokal yang dicampur dengan biji mangrove. Dengan inovasi ini, mangrove tak hanya dimanfaatkan sebagai wahana konservasi dan edukasi, tapi juga peningkatan ekonomi kreatif di desa ini.
Menurut Rosila salahsatu anggota Pokdarwis Payung Kuning, olahan kopi mangrove ini sudah dimulai sejak tahun 2014 lalu. “Awalnya dulu itu, biasa orang-orang mencoba biji kopi dicampur sama biji magrove dan ternyata bisa dinikmati,” katanya.
Ada rasa khas ketika menikmati kopi Labuhan ini, selain memiliki tampilan seduhan hitam pekat menyerupai kopi pada biasanya. Perpaduan unik rasa pahitnya memiliki sentuhan rasa yang mirip nuansa rempah atau herbal/jamu.
Selain itu juga aromanya tidak sepenuhnya seperti biji kopi murni (arabika/robusta), melainkan bercampur dengan aroma bumi dan tanaman mangrove yang diproses melalui penyangraian. “Saat ini masih belum begitu banyak diproduksi, kami hanya menerima pesanan saja. Selain itu juga dibantu anak-anak muda disini untuk dimasukan ke online,” ujar Rosila.
Untuk perbandingan campuran kopinya satu kilo dicampur dengan satu ons biji magrove dengan kemasan 100 gram dijual Rp25 ribu. “Paling banyak yang beli ya 5 kilo, tapi ada juga yang 7 sampai 8 kilo. Harapanya bisa lebih banyak lagi yang terjual karena sampai sekarang masih dijual terbatas ke kenalan saja,” pungkasnya. [*]


