Situbondo, Bhirawa – Pemerintah Desa Tribungan bekerja sama dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Situbondo (PPIDS) menggelar pelatihan membatik khusus bagi warga penyandang disabilitas. Kegiatan yang berlangsung di Desa Tribungan ini diikuti oleh 16 peserta dengan berbagai ragam disabilitas yang berasal dari wilayah Kecamatan Mangaran dan Panji.
Menurut Kepala UPT BLK Situbondo, Bahtiar Santoso, pelatihan ini diselenggarakan untuk memberikan pembekalan keterampilan agar para peserta mampu berwirausaha secara mandiri dan berkelanjutan.
“Melalui program ini, diharapkan dapat lahir karya batik berkualitas tinggi yang memiliki ciri khas unik dari Desa Tribungan,” tutur Bahtiar Santoso.
Mantan Kepala UPT BLK Sumenep Madura itu itu menambahkan, guna memastikan keberlanjutan program pascapelatihan, penyelenggara turut melibatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Situbondo serta akademisi dari Universitas Abdurachman Saleh (UNARS) Situbondo.
“Kolaborasi ini ditujukan untuk mendampingi perajin dari sisi pencitraan produk (branding) hingga perluasan jangkauan pemasaran,” aku Bahtiar Santoso.
Mantan PLT Kepala UPT BLK Jember itu juga berharap kegiatan ini bisa berkesinambungan dan para peserta terus berkarya menghasilkan batik khas Desa Tribungan.
“Makanya kami libatkan Disnaker dan UNARS Situbondo untuk membantu dari sisi branding maupun pemasarannya agar mereka bisa mendapatkan pesanan,” ujar Bahtiar Santoso.
Meski memiliki keterbatasan fisik, aku Bahtiar Santoso, hasil karya para peserta mendapat apresiasi tinggi karena dinilai memiliki keindahan dan kualitas yang luar biasa.
“Adanya sinergi antara pemerintah desa, komunitas, dinas terkait, dan perguruan tinggi ini diharapkan dapat membangun ekosistem usaha inklusif yang mampu mengangkat perekonomian warga disabilitas di Situbondo,” pungkas Bahtiar Santoso.
Sementara itu pendamping kegiatan disabilitas, Farida Hasanah, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan terobosan pertama yang digelar secara inklusif dan terfokus bagi kelompok disabilitas. Pada kegiatan-kegiatan sebelumnya, partisipasi warga disabilitas biasanya hanya terbatas dua hingga tiga orang yang digabung dalam kelas umum.
”Ini pertama kalinya BLK memfasilitasi pelatihan kelompok khusus disabilitas secara penuh. Peserta diajarkan proses pembatikan dari dasar, mulai dari perancangan pola kain, teknik mencanting wax yang presisi, pewarnaan, hingga proses pelorotan atau perebusan kain,” ujar Farida.
Ia juga mengapresiasi kesabaran instruktur pelatihan, Suroso, yang mampu memberikan instruksi secara aksesibel dan ramah bagi seluruh peserta, termasuk bagi penyandang disabilitas rungu (tuli).
“Sinergi Pemerintah Desa dan Kecamatan Guna menjamin keberlanjutan produk pasca pelatihan, pihak penyelenggara tengah merancang skema kerja sama dengan Pemerintah Desa Tribungan, Desa Tanjung Glugur, serta pihak Kecamatan Mangaran,” aku Farida.
Adanya kolaborasi lintas sektor ini, lanjut Farida, diharapkan mampu mendorong penyerapan produk di pasar lokal sekaligus mengukuhkan karya batik tersebut sebagai ikon kerajinan khas Kecamatan Mangaran.
“Melalui pendampingan berkelanjutan dan penguatan peran pemerintah desa, program ini ditargetkan dapat mencetak wirausahawan disabilitas yang mandiri serta berdaya saing tinggi dalam industri kreatif daerah,” kupas Farida [awi.kt]



