Surabaya, Bhirawa — Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sedang mempersiapkan Misi Dagang ke Timor Leste sebagai bagian dari upaya memperluas pasar produk unggulan daerah ke pasar internasional. Misi ini menjadi kelanjutan strategi Pemprov Jatim untuk mendorong produk Jawa Timur semakin dikenal dan bersaing di pasar global.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Lucky, yang mewakili Kepala Disperindag Jatim Iwan, menjelaskan bahwa Misi Dagang ke Timor Leste merupakan program Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri. Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda promosi, melainkan bagian dari upaya mengglobalisasi produk-produk Jawa Timur.
“Misi dagang ini program dari Pemprov Jatim, karena kita berupaya untuk mengglobalisasi produk dari Jawa Timur. Itu benar-benar menjadi concern dari Ibu Gubernur agar produk kita mendunia,” ujar Lucky kepada Bhirawa, Jumat (9/10/2026).
Menurut Lucky, Timor Leste dipilih karena memiliki kedekatan geografis dan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan barang dari Indonesia, khususnya Jawa Timur. Ia menyebut sekitar 80 persen produk yang beredar di Timor Leste berasal dari Indonesia.
“Timor Leste selama ini, pasarnya itu produk-produk Jawa Timur kurang lebih 80 persen, atau produk Indonesia kurang lebih 80 persen ke sana,” katanya.
Lucky menjelaskan, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menjadi pelabuhan pemasok utama barang ke Timor Leste. Dari Tanjung Perak, barang dikirim melalui jalur tol laut ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pelabuhan Atambua, kemudian didistribusikan ke Dili, Timor Leste.
“Dari Tanjung Perak ada tol laut ke NTT, tepatnya di Atambua. Di situ barang dibongkar, lalu naik ke Dili. Atambua ke Dili itu kurang lebih dua sampai tiga jam,” ujarnya.
Posisi tersebut menjadikan Jawa Timur bukan hanya pusat produksi, tetapi juga simpul distribusi utama bagi kebutuhan pasar Timor Leste. Kondisi itu sejalan dengan peran Tanjung Perak yang melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional dan memasok hampir 80 persen kebutuhan logistik 19 provinsi di Indonesia Timur.
Lucky mengungkapkan, nilai ekspor Jawa Timur ke Timor Leste saat ini telah mencapai lebih dari Rp2 triliun. Komoditas yang dikirim meliputi kendaraan, produk olahan tepung, lemak, mesin, tembakau, serta berbagai barang olahan lainnya.
“Ekspor kita ke Timor Leste itu kurang lebih dua triliun lebih. Komoditinya ada kendaraan, olahan tepung, lemak, mesin, tembakau, dan berbagai macam olahan lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, produk-produk Indonesia telah masuk hingga ke warung dan supermarket di Timor Leste. Perbedaannya, menurutnya, hanya pada mata uang yang digunakan masyarakat setempat.
“Barangnya masuk sampai ke warung atau toko supermarket di sana. Persis seperti yang ada di Surabaya, cuman mata uangnya dolar,” ujar Lucky.
Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Kadin Jatim juga menunjukkan tren positif. Ekspor Jatim ke Timor Leste naik dari USD 206,61 juta pada 2021 menjadi USD 256,99 juta pada 2024, dengan surplus perdagangan konsisten. Hingga Oktober 2025, ekspor tercatat USD 241,56 juta dengan surplus USD 238,29 juta.
Lucky menilai, Misi Dagang ke Timor Leste juga memiliki dimensi kemanusiaan dan persahabatan antarnegara. Ia menyebut pimpinan daerah ingin memastikan hubungan ekonomi tidak hanya menguntungkan satu pihak, terutama di tengah kenaikan harga barang global akibat konflik di sejumlah wilayah, termasuk Timur Tengah.
“Pimpinan melihat kita ini menjaga agar persahabatan dan perekonomian menjadi satu. Kita sebagai warga serumpun tetap menjaga persaudaraan, jangan sampai ada paham yang tidak sama terkait kondisi global,” ujarnya.
Menurutnya, Jawa Timur perlu terus menjaga ketersediaan pasokan ke Timor Leste agar masyarakat di negara tetangga tersebut tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
“Kita menjaga jangan sampai kita hidup makmur sementara di tempat lain ternyata serba kekurangan,” katanya.
Dari sisi jangka panjang, Lucky memperkirakan sektor makanan dan minuman akan tetap menjadi komoditas utama dalam hubungan dagang Jawa Timur–Timor Leste. Hal ini karena Timor Leste masih bergantung pada pasokan dari luar negeri, terutama dari Jawa Timur.
“Yang pasti, komoditas makanan dan minuman itu Timor Leste masih tergantung dengan pasokan dari luar negeri, khususnya dari Jawa Timur,” ujarnya.
Ia berharap Misi Dagang yang akan dilaksanakan dapat meningkatkan nilai transaksi, memperluas jenis komoditas, serta memperkuat kerja sama antara pelaku usaha Jawa Timur dan mitra dagang di Timor Leste.
“Kita berharap transaksi ke depan lebih besar, karena pelabuhan utama yang terkait itu Tanjung Perak. Potensinya sangat besar sekali ke Timor Leste,” pungkasnya.
Potensi tersebut juga diperkuat oleh kebutuhan Timor Leste terhadap produk Indonesia, termasuk bahan bangunan, makanan, obat-obatan, kosmetik dan alat berat, serta peluang kerja sama di sektor UMKM dan daur ulang.
Selain Timor Leste, Lucky menyebut Pemprov Jatim juga merencanakan agenda Misi Dagang berikutnya ke Taipei.
Kegiatan tersebut akan menjadi pembahasan tersendiri karena memiliki karakter pasar, sektor komoditas, dan kebutuhan mitra dagang yang berbeda dengan Timor Leste.
Pemprov Jatim sendiri telah menegaskan bahwa Misi Dagang ke Timor Leste dijadwalkan pada Oktober 2026, sebagai bagian dari agenda perluasan pasar produk unggulan daerah. [aya.kt]






