28.3 C
Sidoarjo
Sunday, June 21, 2026
spot_img

Belajar Berbasis Audio Kinestetik, Pelajar Disabilitas Tunanetra Alunkan Pesona Tetabuhan Gamelan Jawa


Oleh:
Wiwieko Dh, Kabupaten Tulungagung

Raut wajah mereka penuh antusiasme. Bahkan, di antaranya ada yang tidak sabar untuk segera memukul alat musik kendang atau saron.

“Saya tahu. Ini (alat musik) jaranan,” teriak Aldi, salah satu dari mereka saat diperkenalkan bentuk dan bunyi instumen musik gamelan, musik tradisional Jawa.

Keantusiasan memukul alat musik tradisional ini kemudian melahirkan tetabuhan gamelan yang cukup memesona. Ada tujuh pelajar yang saat itu memainkan sejumlah alat musik gamelan secara bersama. Semuanya penyandang disabilitas tunanetra.

Menakjubkan memang. Mereka dapat menggetarkan Gedung Balai Budaya Tulungagung di hari Jumat (19/6) yang penuh berkah. Apalagi, mereka baru belajar dan mengenal alat musik Jawa dalam waktu relatif singkat. Hanya satu jam saja.

“Mereka mampu memainkan alat musik gamelan hanya dalam waktu satu jam pengenalan. Ini sungguh luar biasa,” ujar sang pelatih, Aulia Renata. Wajahnya terlihat berbinar senang.

Ia menyebut, pembelajaran instrumen gamelan untuk memperkenalkan kesenian Jawa pada para penyandang disabilitas tunanetra. Terlebih selama ini mereka lebih banyak mengenal dan memainkan alat-alat musik Barat (modern).

“Harapannya, selain memberikan varian pembelajaran musik, karena anak-anak tunanetra itu lebih sensitif dan peka terhadap bunyi dan perabaan. Ini juga saya berikan sebagai bentuk memperkenalkan khasanah budaya lokal Jawa terhadap anak-anak,” paparnya.

Aulia Renata mengakui tidak terlalu kesulitan dalam menularkan ilmu musik tradisional Jawa pada anak-anak inklusi itu. Ia menggunakan pelatihan dengan metode audio kinestetik. Yakni, pendekatan belajar yang mengandalkan indra pendengaran yang dipadu dengan Gerakan fisik atau sentuhan.

Berita Terkait :  Kisah Suradi Tak Lagi Khawatir Harga Padi Jatuh saat Panen

Pertama. diawali dengan mengenalkan alat musiknya. Semua, satu per satu, diminta untuk meraba alat musik gamelan, seperti kendang, saron, kenong, gong, demung, bonang dan kempul.

“Melalui perabaan sensorik saya berusaha mengenenalkan setiap alat musik gamelan. Tujuannya agar mereka mengetahui alat musik yang akan dimainkan,” tuturnya.

Setelah itu, baru kemudian para penyandang disabilitas tunanetra itu diminta untuk memainkan alat musik gamelan dan sekaligus menghafal nadanya.

Aulia Renata membeberkan untuk lebih mempercepat pengenalan gamelan dan mudah memainkannya, dirinya coba mempelkan angka braille di instrumen saron dan demung.

“Pemberian tanda angka braille di alat musik satron dan demung memang disengaja untuk bantuan perabaan agar lebih memudahkan mempelajari nada,” jelasnya.

Sebelumnya, Aulia Renata yang dikenal luas di Tulungagung sebagai seniman, penggiat seni tari dan dosen ini mengungkapkan pula jika dalam pengenalan musik gamelan pada pelajar disabilitas tunanetra diawali dengan pengenalan nada terendah.

“Dari nada terendah menuju atas. Seperti nada ro (loro/dua), kemudian lu (telu) tiga, naik ke lima (mo) dan terakhir nem (enem/enam). Jadi dari nada terendah ke tinggi,” pungkasnya. [wed.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!