Surabaya, Bhirawa – Program Studi S1 Akuakultur Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) gelar Aqua Nexus 2026 di Auditorium Gedung FKP, Kampus 3 Unesa Gubeng.
Kegiatan bertema “Connecting Science, Nature, and Innovation” ini menjadi wadah edukasi sekaligus pengenalan potensi sektor akuakultur kepada pelajar SMA, SMK, dan MA di Jawa Timur, Selasa (7/7).
Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKP Unesa, Isnawati, mengatakan kegiatan tersebut diikuti 21 sekolah dengan lebih dari 50 peserta, dimana mereka mengikuti seminar dan Aquaculture Expo yang menampilkan beragam inovasi budidaya perairan hasil karya mahasiswa.
“Komitmen FKP Unesa dalam mendukung terwujudnya kedaulatan pangan nasional. Program Studi Akuakultur menjadi salah satu pilar penting dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul sekaligus inovasi di bidang budidaya perairan,” jelasnya.
Koordinator Program Studi S1 Akuakultur Unesa, Reni Ambarwati, menjelaskan kurikulum prodi dirancang dengan memadukan dasar-dasar sains, teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), serta Internet of Things (IoT) dalam sistem produksi budidaya. Dengan kurikulum tersebut, lulusan dipersiapkan menjadi wirausaha, peneliti, maupun tenaga ahli di industri perikanan.
“Sebagian besar karya yang dipamerkan dalam Aqua Nexus merupakan hasil pembelajaran mahasiswa sejak semester awal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberi ruang untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkenalkan identitas Program Studi Akuakultur Unesa kepada masyarakat luas,” pungkasnya.
Reni berharap Aqua Nexus dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dengan menghadirkan inovasi-inovasi baru. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana hilirisasi produk mahasiswa dan dosen, sekaligus memperluas minat generasi muda terhadap bidang akuakultur dan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa.
Pada sesi seminar, dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Mohsan Abrori, menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset agar dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Peluang usaha di bidang ini sangat terbuka, termasuk melalui konsep urban farming dan budidaya di lahan terbatas,” ujarnya.
Tidak hanya seminar, peserta juga diajak mengunjungi Aquaculture Expo yang menampilkan sekitar 90 poster edukasi dan berbagai inovasi mahasiswa. Salah satu yang menarik perhatian adalah AquaFarm, sistem terpadu yang mengombinasikan akuaponik dan hidroponik sebagai bagian dari Program Mahasiswa Wirausaha.
Salah satu peserta dari SMA Wijaya Putra, Emerald Bilqis Syarifa, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia memahami bahwa ikan tidak selalu diperoleh dari hasil tangkapan laut, tetapi juga dapat dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat.
Hal serupa disampaikan Anjani Makfira Sari dari MAN 1 Ngawi. Ia mengaku baru mengetahui bahwa limbah budidaya lele dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman dalam sistem akuaponik, sehingga menunjukkan keterkaitan erat antara budidaya ikan dan pertanian. [ren.wwn]


