Surabaya, Bhirawa – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) kembangkan pendidikan kedokteran dengan menerima 10 mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang terdiri atas Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
Penyelenggaraan PPDS tidak sekadar bentuk komitmen kampus meningkatkan kualitas sumber daya manusia kesehatan, tapi juga amanah pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Kesehatan kepada perguruan tinggi yang dinilai memiliki kapasitas dan mutu pendidikan yang baik, Selasa (7/7).
Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono, Kepercayaan mengatakan menyelenggarakan PPDS harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab sebab amanah dari pemerintah pusat.
“Fakultas Kedokteran Unusa telah meraih akreditasi Unggul, sehingga berkewajiban menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi menjawab kebutuhan nasional akan dokter spesialis,” ujar Prof Tri Yogi.
Lanjut Prof Tri Yogi menyampaikan bahwa pembukaan PPDS Paru dan PPDS Obstetri dan Ginekologi merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga medis.
“Unusa tidak hanya berfokus pada kualitas pendidikan, tapi memastikan lulusannya memiliki komitmen untuk kembali mengabdi di daerah asal,” katanya.
Ia mengatakan bahwa terlihat dari seluruh mahasiswa angkatan pertama yang telah menandatangani surat pernyataan untuk kembali bertugas di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan spesialis. “Berharap memberi dampak nyata terhadap pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur maupun Indonesia secara lebih luas,” tuturnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof Budi Santoso, menjelaskan mahasiswa angkatan pertama PPDS berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, bahkan dari wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan dalam pemenuhan tenaga dokter spesialis.
“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar. Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Keberadaan peserta dari Masalembu, salah satu wilayah kepulauan di Jawa Timur, jadi gambaran bahwa akses terhadap dokter spesialis masih menjadi tantangan di sejumlah daerah.
“Program PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi serta PPDS Obstetri dan Ginekologi ini diselenggarakan dengan dukungan rumah sakit pendidikan, dosen, dan dokter pendidik klinis berpengalaman,” Ceritanya.
Prof Budi menambahkan bahwa kurikulum dirancang menghasilkan dokter spesialis yang unggul dalam kompetensi klinis, penelitian, pendidikan, serta memiliki kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Penerimaan angkatan pertama menjadi tonggak penting perjalanan Fakultas Kedokteran Unusa dalam mengembangkan pendidikan dokter spesialis, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis per tahun, sementara kebutuhan ideal mencapai sekitar 32.000 dokter spesialis per tahun, kondisi ini mendorong pemerintah memberikan kepercayaan kepada fakultas kedokteran yang memiliki kapasitas dan mutu pendidikan yang baik,” Imbuhnya. [ren.wwn]


