29.3 C
Sidoarjo
Wednesday, November 4, 2026
spot_img

Festival Mangrove ke-11, Lima Tahun Konsistensi Jatim Jaga Ekosistem Berbuah Rekor MURI


Gubernur Khofifah: Sedekah Oksigen dan Cadangan Karbon jadi Investasi Ekologis Jangka Panjang

Probolinggo, Bhirawa – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali menggalakkan gerakan sedekah oksigen melalui Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 Tahun 2026 di Bee Jay Bakau Resort, Kota Probolinggo, Selasa (3/11). Mengusung tema “Mangrove Lestari, Masyarakat Sejahtera”, festival ini diisi dengan penanaman 8.100 batang bibit mangrove.

Dalam kesempatan ini, Gubernur Khofifah turut melakukan penanaman bersama Kepala Dishut Jatim Jumadi, Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional Mayjen TNI Sriyanto, Wali Kota Probolinggo Aminuddin, Bupati Probolinggo Muhammad Haris, Kaka Slank, dan masyarakat.

Aksi tersebut juga melibatkan pelajar, mahasiswa, Kelompok Tani Hutan, komunitas, serta mitra pembangunan. Selain penanaman mangrove, kegiatan pemulihan ekosistem dirangkai dengan pelepasliaran enam ekor burung pecuk padi hitam dan 300 ekor kepiting.

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa kesadaran menanam dan melestarikan mangrove merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan iklim global. Gerakan sedekah oksigen, menurutnya, menjadi wujud kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.

“Ini adalah cara kita memperkuat ketahanan kawasan pesisir sekaligus investasi ekologis jangka panjang karena selagi yang ditanam tumbuh dan bisa menyerap karbondioksida berarti menghasilkan oksigen maka saat itu kita bersedekah oksigen,” kata Khofifah.

Hutan mangrove acapkali disebut sebagai pahlawan super dalam menjaga ekosistem pesisir karena kemampuannya yang luar biasa dibanding hutan daratan biasa. Khofifah menyebut di Jawa Timur upaya pelestarian mangrove menunjukkan trend positif. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas mangrove eksisting di Jawa Timur mencapai 31.067 hektare, meningkat 3.846 dibandingkan tahun 2021 seluas 27.221 hektare.

“Peningkatan ini merupakan hasil dari berbagai upaya pelestarian yang perlu terus dijaga. Festival mangrove turut menjadi wadah untuk mempertemukan para pihak, memperkuat dukungan, dan mendorong kesinambungan aksi perlindungan serta rehabilitasi mangrove,” jelasnya.

Berita Terkait :  Gus Fawait Tegaskan Sinergi Pemkab dan Polres Jadi Kunci Kebangkitan Ekonomi Jember

Meski menunjukkan hasil capaian yang baik, Khofifah mengatakan untuk tidak cepat berpuas diri. Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari bertambahnya luasan kawasan atau jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kualitas ekosistem dan keberhasilan pemulihannya.

“Rehabilitasi harus dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian lokasi, pemilihan jenis tanaman, kondisi lingkungan serta pemeliharaan dan pemantauan pasca tanam sehingga kita dapat memastikan mangrove tumbuh optimal dan fungsi ekologisnya tetap terjaga,” jelasnya.

Pelestarian mangrove juga sejalan dengan pengembangan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) di Jawa Timur. Ekosistem mangrove yang terjaga membuka peluang ekonomi melalui perikanan berkelanjutan, ekowisata, serta pengembangan usaha kreatif masyarakat pesisir.

Khofifah menggalakkan gerakkan sedekah oksigen melalui Festive Mangrove Jawa Timur. Salah satu bentuknya adalah penanaman bersama 8.100 batang Mangrove di Bee Jay Bakau Resort, Probolinggo.

Khofifah mencontohkan Bee Jay Bakau Resort di Kota Probolinggo yang diresmikan hari ini. Memadukan wisata, edukasi dan kepedulian lingkungan. Model pengembangan seperti ini menunjukkan pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal, tanpa mengabaikan daya dukung ekosistem.

“Saya mendorong sinergi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat, termasuk generasi muda terus memperkuat rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir,” jelasnya.

Sejak 2022, festival mangrove Jawa Timur diselenggarakan secara berkesinambungan
sebagai wadah kolaborasi multipihak untuk menjaga ekosistem mangrove. Konsistensi penyelenggaraan festival mangrove Jawa Timur memperoleh pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas penyelenggaraan “Festival Mangrove secara Seri Terbanyak dalam Waktu 5 Tahun”.

“Pengakuan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas dan dampak gerakan pelestarian mangrove yang dibangun secara kolektif dan berkelanjutan mampu menjaga kesinambungan agenda dan memperkokoh kerja bersama lintas pihak,” jelasnya.

Berita Terkait :  DPRD Jatim Dorong Ekonomi Hijau Berbasis Kehutanan yang Berkeadilan

“Saya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima penghargaan, khususnya Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank atas penganugerahan Jer Basuki Mawa Beya sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam mendukung pelestarian lingkungan. Semoga penghargaan yang diterima menginspirasi banyak pihak agar mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam,” ungkapnya.

Khofifah berharap, Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 semakin memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan rehabilitasi mangrove yang terukur, berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. “Mari kita pastikan bahwa mangrove yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Mayjend TNI Sriyanto Muntasram mengapresiasi kegiatan festival mangrove mengingat di Jatim. Mengingat Jatim Benchmark mangrove dan rencananya lokasi Beejay Bakau direncanakan diajukan menjadi festival mangrove nasional. “Mangrove berdampak luar biasa bagi kehidupan,” ungkapnya.

Luas Mangrove Jatim Bertambah 3.846 Hektare, Capai 31.067 Hektare
Sementaru itu, Kepala Dishut Jatim. Jumadi menyebut saat ini luas ekosistem mangrove di Jawa Timur terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas mangrove eksisting di Jatim mencapai 31.067 hektare, meningkat 3.846 hektare dibandingkan 2021 yang tercatat seluas 27.221 hektare.

Ia menekankan peningkatan tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pelestarian dan rehabilitasi mangrove yang melibatkan banyak pihak. Konsistensi kolaborasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Mangrove Jawa Timur yang kini memasuki seri ke-11.

Gubernur Khofifah menyematkan Jer Basuki Mawa Beya kepada Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank atas kontribusinya mendukung pelestarian lingkungan, utamanya dalam keterlibatan Kaka Slank di Festival Mangrove Jawa Timur.

“Rekor MURI ini merupakan capaian bersama seluruh pihak yang selama ini konsisten mengambil bagian. Festival Mangrove telah berkembang menjadi ruang temu, ruang kolaborasi, sekaligus ruang aksi yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat pesisir,” ujar Jumadi.

Berita Terkait :  Sentuhan Akhir TMMD Ke-129 di Dusun Mundu, Asa Baru Warga Kesongo di Atas Jalan Beton

Ia menjelaskan, luasan mangrove Jatim tersebut setara sekitar 47,85 persen dari total mangrove eksisting di Pulau Jawa yang mencapai 64.932 hektare. Data tersebut merujuk pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional Tahun 2025.

Menurut Jumadi, capaian tersebut harus menjadi penyemangat untuk memperluas kerja sama sekaligus memastikan manfaat pelestarian benar-benar dirasakan melalui pemulihan ekosistem mangrove.

Ia menilai Festival Mangrove tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga wadah mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat dukungan terhadap perlindungan dan rehabilitasi kawasan pesisir secara berkelanjutan.

Jumadi berharap, kolaborasi yang telah terbangun terus diperluas sehingga perlindungan mangrove, rehabilitasi pesisir, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan festival diawali dengan perjalanan Gubernur Khofifah bersama Kaka Slank dan rombongan menggunakan sepeda motor listrik dari Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa menuju Bee Jay Bakau Resort.

Festival turut menampilkan inovasi Si Rupa Bumi atau Sistem Rumpun Pasak Bumi karya Zainur, penyuluh kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dari Sumenep. Inovasi tersebut meraih Juara II Lomba Inovasi Rimbawan 2026 kategori Inovasi Individu dari Kementerian Kehutanan.

Berbagai kegiatan pendukung juga dihadirkan, mulai dari pengobatan gratis, edukasi mangrove bagi pelajar, pameran kinerja perlindungan dan pengelolaan mangrove, hingga peragaan busana batik dengan pewarna alami mangrove.

Kaka Slank turut menggaungkan pesan pelestarian lingkungan melalui penampilan solo gitar serta keterlibatannya dalam rangkaian kegiatan festival. [ina*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!