33.8 C
Sidoarjo
Saturday, October 31, 2026
spot_img

Dindik Gelar Seminar International, Kupas Teknologi AI dalam Perubahan Metode Pembelajaran Vokasi


Hadirkan Pemateri Juri WorldSkill Tekankan Kreativitas Siswa Jadi Kunci

Dindik Jatim, Bhirawa – Perkembangan kecerdasan buatan atau _artificial intelligence (AI) mulai mendorong perubahan metode pembelajaran pendidikan vokasi. AI tidak lagi sekadar dimanfaatkan untuk mempercepat penyusunan materi ajar, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, mengeksplorasi gagasan, hingga memecahkan persoalan secara mandiri.

Wakil Presiden BOKE Technology, Wang Cen, mengatakan, kehadiran AI menuntut dunia pendidikan vokasi untuk menata kembali pendekatan pembelajaran. Penguasaan teknis yang sebelumnya menjadi salah satu fokus utama kini perlu diimbangi kemampuan berpikir kreatif, inovasi, dan pengembangan potensi diri.

Hal tersebut disampaikan Wang Cen dalam International Seminar Featuring Speakers From Three Continents: AI Powered Creative Ecosystems yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Jumat (30/10). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas guru, kepala SMK, dan kepala cabang dinas pendidikan wilayah di Jawa Timur.

Menurut Wang Cen, perubahan metode pembelajaran berbasis AI dapat diterapkan melalui sejumlah pendekatan. Salah satunya dalam pembelajaran desain, ketika guru memberikan tema kepada siswa, kemudian memanfaatkan rancangan awal yang dihasilkan AI sebagai bahan evaluasi dan pengembangan karya.

Dalam metode tersebut, siswa tidak sekadar menerima tugas untuk kemudian dinilai guru. Mereka juga diajak mengkritisi rancangan AI, memberikan masukan, serta memperbaikinya berdasarkan gagasan masing-masing.

Berita Terkait :  BBW X-Xtraordinary Bangun Gerakan Literasi dan Menjadi Destinasi Literasi

Dengan demikian, AI membantu proses teknis awal, sedangkan kreativitas dan kemampuan siswa dalam mengembangkan ide tetap menjadi bagian penting dari pembelajaran.

Wang Cen menilai pendekatan ini dapat membuka ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang lebih beragam. Guru juga dapat mengarahkan pembelajaran pada proses eksplorasi dan pengembangan gagasan, bukan hanya menilai hasil akhir sebuah karya.

“Penguasaan teknologi itu sendiri tidak lagi menjadi yang utama, melainkan bagaimana menemukan potensi diri, jati diri kemanusiaan kita, dan daya inovasi kita. Bagaimana kita menggunakan AI untuk menemukan cara agar kita bisa menjadi lebih manusiawi di era ini,” ujarnya.

Selain bidang desain, AI juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran penulisan skenario dan penyuntingan film. Siswa dapat menyusun draf awal, kemudian berdialog dengan AI untuk mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki atau dikembangkan.

Pendekatan tersebut memungkinkan siswa memperoleh masukan lebih terarah sesuai kebutuhan masing-masing. AI menjadi alat bantu untuk memperluas sudut pandang, sementara keputusan kreatif tetap dikembangkan melalui proses berpikir siswa.

Wang Cen juga mencontohkan pembelajaran berbasis diskusi. Guru dapat memberikan pengantar mengenai suatu teori, kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi materi melalui AI sebelum mendiskusikan hasil pemahamannya di kelas.

Dalam praktik ini, siswa didorong untuk aktif mencari informasi, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pendapat. Guru berperan mengarahkan diskusi sekaligus membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam.

Berita Terkait :  Belasan Prodi ITS Raih Akreditasi Nasional LAM

Metode lain yang dinilai potensial ialah pembelajaran personal atau personalized learning. Melalui bantuan AI, materi dan latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing siswa, sehingga pembelajaran tidak harus menggunakan pendekatan seragam untuk seluruh peserta didik.

“Setelah hadirnya AI, tugas pengajaran justru menjadi lebih penting dan beban kerja menjadi lebih besar,” kata Wang Cen.

Ia menegaskan, perkembangan teknologi tidak berarti mengurangi pentingnya peran guru. Sebaliknya, guru dituntut semakin mampu merancang pengalaman belajar yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.

Perlu Penataan Pembelajaran dan Kesiapan Guru
Pandangan serupa disampaikan Dekan School of Design Bennett University, India, Dr. Manisha Mohan, yang juga menjadi pemateri dalam seminar tersebut. Ia menilai penerapan AI di dunia pendidikan perlu melampaui pemanfaatan teknologi untuk efisiensi administrasi.

Menurut Manisha, terdapat tiga tahapan penting dalam pemanfaatan AI di sekolah, yakni efisiensi, personalisasi, dan desain ulang pembelajaran. Efisiensi dapat dicapai melalui percepatan penyusunan rencana pelajaran dan administrasi. Namun, manfaat yang lebih besar muncul ketika AI digunakan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa serta menata kembali kurikulum dan sistem penilaian.

Ia mengingatkan, keberhasilan penerapan AI bergantung pada kesiapan sekolah, kompetensi guru, ketersediaan perangkat, dan kebijakan yang jelas. Tanpa pemerataan akses, penggunaan AI justru berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan.

“Investasi terbesar kita bukan pada perangkat, melainkan waktu bagi guru untuk belajar,” ujarnya.

Berita Terkait :  Berkat Inovasi Pencacah Sampah Organik, Ubah Sampah Menjadi Berkah Berbasis Teknologi Tepat Guna

Manisha juga mendorong sekolah merancang penilaian yang mengukur proses belajar, bukan sekadar hasil yang dapat dihasilkan AI. Guru dapat meminta siswa menunjukkan draf, refleksi, dan mempresentasikan cara berpikirnya agar pemahaman serta kontribusi individual tetap terukur.

Sementara itu, Dindik Jatim menghadirkan seminar internasional tersebut sebagai bagian dari pengembangan kompetensi pendidikan vokasi dalam menghadapi perkembangan industri kreatif berbasis AI.

Sebagai informasi, kerja sama Boke Technology dengan Dinas Pendidinan Jawa Timur telah berjalan sejak Mei 2026. Salah satu hasilnya terlihat melalui pelatihan guru yang menghasilkan karya animasi bertema Pahlawan Jawa Timur. Dari karya ini, tim Boke Technology menilai para peserta mampu menghasilkan karya kompetisi tersebut dalam waktu sekitar 20 hari setelah pelatihan.

Melalui pengembangan kompetensi guru dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran, pendidikan vokasi diharapkan semakin mampu menyiapkan siswa menghadapi kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang. Tidak hanya terampil menggunakan teknologi, lulusan SMK juga diharapkan mampu menghasilkan gagasan orisinal, beradaptasi, dan menciptakan solusi melalui karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. [ina]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!