27.8 C
Sidoarjo
Wednesday, October 28, 2026
spot_img

Menuju Negeri Abai Mitigasi?

Oleh : Mukhlis Mustofa
Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Solo.

Double bencana, istilah ini sepertinya teramat layak dipersepsikan di negeri ini, manakala bencana mengemuka justru diindikasikan dikorupsi oleh segelintir pihak tidak bertanggung jawab menjadi keprihatinan tersendiri. Apakah negeri ini abai mitigasi menjadi pertanyaan pemantik ditengah euphoria Setiap 13 Oktober, dunia memperingati Hari Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana atau International Day for Disaster Risk Reduction. Pertanyaan ini pemantik ditengah hiruk pikiuk isu global tentang kebencaan menyangkut ranah semua kalangan deraan bencana di negeri ini penanganannya terasa kurang optimal.Gempa bumi flores, kebakaran hutan dan lahan serta latusan gunung anak Krakatau menjadi deretan musibah di negeri ini. Beragamnya kebencanaan ini secara tidak langsung menjadi banyak pertanyaan bagaimanakah selayaknya memposisikan antisipasi agar paparan bencana tidak menambah kisah sedih negeri ini.

Bencana (disaster) merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu(trigger), ancaman (hazard) dan kerentanan (vulnerability) bekerja bersama secara sistematis, sehingga menyebabkan terjadinya risiko (risk) pada komunitas sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana menjelaskan bahwa bencana adalah sebuah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam, mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerugian harta benda, dampak psikologis dan gangguan kesehatan mental yang lebih kompleks.

Amanat konstitusi diatas secara tidak langsung memposisikan bencana layak menjadi prioritas negeri ini. Kerja mitigasi tidak serta merta diemban oleh salah satu komponen penyelenghara negara. Memposisikan mitigasi hanya pada sisi edukasi sangatlah jauh panggang dari api Pertanyaan besar pun mengemuka bagaimanakah memposisikan kebencanaan dalam pengembagan konidisi alamiah dengan berwarnanya kebencanaan yang ada? Keprihatinan justru mengemuka manakala sebuah pola bencana hadir seakan tanpa daya selutruh komponen negara.

Berita Terkait :  Dinkes Situbondo Operasi Mata Katarak Gratis 1.500 Warga

Data empris menunjukkan secara Geografis Indonesia rermasuk kawasan rentan dimana pola penanganannya memerlukan penangangan proporsional persn secara stimulan. Beragamnya potensi kebencanaan di Pulau Jawa baik banjir, Tanah Longsor hinga gempa besar terbesar ini tidak sesederhana idiom wilayah supermarket bencana. Antisipasi kebencanaan beragam bencana ini tentunya memerlukan proporsionalitas peran dengan mitigasi bencana melalui memerlukan orientasi teknis dalam realisasinya. Beragamnya Potensi bencana ini menyisakan keprihatinan dan kewaspadaan dalam beragam aspek muncul pula warning potensi bencana ini semakin rumit manakala bencana ini berdampingan dengan masalah pelambatan ekonomi. Publik selayaknya mampu mempelajari manakala pendemi Covid-19 dimana seluruh energy harus dibangan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan beragam persepi.

Literasi mitigasi
Minimnya literasi kebencanaan secara tidak langsug menampakkan bahwasanya Mitigasi tidak pernah diserusi, bencana layaknya hari raya, semua euphoria menolong sesama namun ketika bencana mereda alpa mendera tanpa asa. Parahnya elemen ketealdanan mitigasi ini justru dipertontonkan kealpaannya oleh segelintir penguasa negeri. Beredarnya video salah satu kepala dinas Pendidikan terkait tidak dilaksanakannya pembelajaran daring dengan dalih mempengaruhi distribusi Makan Bersama Gratis (MBG) secara tidak langsung menunjukkan pengabaikan resiko kebencanaan dikalahkan program pembagian makanan bergizi. Statemen yang akhirnya diklarifikasi tersebut tak pelak menunjukkan pada khalayak banha permasalahan mitigasi kebencanaan belum menjadi prioritas utama..Mitigasi tidak seseksi perbaikan gizi namun esensi luput disentuh semua sisi.

Berita Terkait :  KAI Daop 7 Madiun Kenalkan  Konekvisitas Transportasi yang Berintegrasi  Antarmoda Hingga Kereta Cepat Whoosh

Mitigasi bukanlah isu mendesak yang diusung kandidat penguasa sehingga manakala ada bencana kesempatan untuk unjuk muka alpa kerja nyata. Bukalah literasi politik janji janji manis adakah mitigasi menjadi rencana program kerja? Persepsi ini bukanlah isapan jempol, saya mencoba membuka Pustaka digital rekam jejak calon pemimpin bangsa pada tahun 2024 ternyata visi antisipasi dengan mitigasi kebencanaan belum tersaji secara tersirat maupun tersurat. Kondisi ini sangatlah meprihatinkan bagaimana tidak , negeri dengan tingkat tinggi potensi kebencaan program nya tidak serta merta ditampakkan. Manakala ada salah satu pasangan menganalogikan potensi kebencanaan hanya ditimpali olok -olokan di media sosial hingga isu tersbut tidak digarap serba serius. Bahkan mimpi pun tidak. Jika vulkanisme sudah mengemuka, gempa sudah terjadi karhutla didepan mata masihkah laku pencitraan di depan kamera? Edukasi mitigasi mendesak dilakukan, namun dari mana?,

Bencana akan menimbulkan implikasi luar biasa bernilai baik positif maupun negatif, pertanyaan yang mengemuka proporsionalitas peran harus dihadirkan bukan sekedar wacana cerdas semata. Sebagai urutan utama bisa dikedepankan Revolusimitigasi berbasis edukasi, pengambangan edukasi ini sangat strategis dan akanmenyentuh semua lini Pendidikan. Pengembangan pada Pendidikan formal dan non formal secara tidak langsung harus dilakukan. Pendidikan formal kerja kurikulum dan seluruh pendukung harus satu suara untuk mengantisipasi Segala rupa potensi. Kewaspadaan bukan lah menakutkan namun sadar diri jika bencana melanda. Berpijak dari banyaknya naskah penanggulangan bencana sudah mewarnai nalar ilmiah pendidikan tinggi saatnya menjadi dasar inisiasi untuk efektifitas peran.

Ratusan produk perguruan tinggi dengan rupa – rupa legacy ilmiah kebencanaan teramat elok untuk direalisasikan. Berselancar berbasis jurnal ilmah kebenacaan menunjukkan betapanya kayanya kaum cerdik pandai yang bisa dimanfaatkan untuk antisipasi kebencanaan ini. Roem topatimasang dalam bukunya sekolah itu candu berujar sekolah secara harafiah berasal dari kata yunani schoola yaitu waktu luang dengan persepsi sekolah sebauah oase pendidikan setelah anak melaksanakan tugas – tugas domestiknya. Persepsi ini menyiratkan sekolah sebagai lembaga menyenangkan dalam mengemban misi pencerdasan generasi mendatang. Publik masih memposisikan sekolah sedemikian serius sehingga perhatian lebih berkaitan pengembangan lingkungan sosial dibandingkan optimalisasi lingkungan alam. Konsekuensi inilah yang selama ini terlupakan oleh pegiat pendidikan dan mengesampingkan elemen lingkungan fisik dimana sekolah tersebut berada. Sekolah saat ini sebatas menjadi lembaga formal untuk transfer ilmu sekaligus ikhtiar penumbuhan mental bagi generasi mendatang namun tidak mencerdaskan secara sosial.

Berita Terkait :  Raih 3 Kursi di DPRD Surabaya, PPP Surabaya Gelar Syukuran

Pencerdasan sosial yang harus dikembangkan pada sebuah sekolah selayaknya didasarkan bagaimanakah mempersepsikan lingkungan sosial dimana sekolah tersebut berada. Pengembangan kecerdasan sosialpun secara mutlak harus memperhitungkan lingkungan alamiah dimana siswa tinggal.Pada sisi Pendidikan non formal mewarnai bukan menakuti dengan narasi liar tanpa dasar.

Sang pencipta telah memberikan pedoman untuk tidak merusak patuhi pedoman tersebut bukanlah menjustifikasi kenapa bencana melanda. Jika janji suci illahi ditiapkan pada kitab suci mengajak ciptaanNya Langkah cerdas manusia ditunggu tanpa syak wasangka. Bagi Sang penguasa hilangkan ego sektoral berganti energi sistematis, jangan baper jika publik mengkritik sarana penanggulangan bencana tak semewah negara manca namun berikan karya nyata untuk minimalisir korban. Bencana bukanlah ajang pamer di beragam media namun ujian untuk kebijakan solutif berbasis edukasi tanpa kenal kompromi.

———— *** ————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!