33.7 C
Sidoarjo
Sunday, October 11, 2026
spot_img

Ajak Warga Dalami Kelayakan Kota Kreatif Batu Perspektif Sejarah dan Lokal

Kota Batu, Bhirawa – Warga Kota Batu diajak mendalami gastronomi melalui perspektif kesejarahan dan kekhasan lokal. Karena pengembangan gastronomi Kota Batu merupakan fondasi penguatan identitas daerah sekaligus pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Hal ini ditegaskan langsung sejarawan sekaligus penulis buku Sejarah Daerah Batu, Dr M Dwi Cahyono.

Ia menguraikan ada empat konteks utama dalam membaca gastronomi Kota Batu yaitu, ekologis, sosial, budaya, dan wisata. “Keempatnya menjadi landasan untuk memahami bagaimana sumber daya alam, tradisi masyarakat, perjalanan sejarah, serta perkembangan pariwisata membentuk karakter gastronomi daerah dari masa ke masa,” ujar Dwi Cahyono, Minggu (11/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa gastronomi di Kota Batu tidak cukup dipahami sebatas keberadaan makanan dan minuman khas. Pengembangannya perlu dimulai dengan menggali sejarah, memetakan ekosistem dan rantai nilai. Selain itu juga dipahami keterkaitan antara lingkungan, kehidupan sosial, kebudayaan, dan aktivitas pariwisata.

Secara hulu hingga hilir, Kota Batu dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan gastronomi. Pada sektor hulu, pertanian menjadi salah satu penopang utama kehidupan dan perekonomian masyarakat.

Khusus pada sektor hilir, pariwisata telah berkembang sebagai ikon sekaligus penggerak penting aktivitas ekonomi daerah. “Tantangan sekaligus peluang pengembangan gastronomi berada pada ruang penghubung antara kedua sektor tersebut,” jelas Dwi Cahyono.

Menurutnya, ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam mengolah potensi pertanian, sumber daya alam, dan kekayaan budaya menjadi produk autentik serta pengalaman wisata yang bernilai tambah.

Berita Terkait :  Pemangkasan Anggaran Pendidikan, Akar Ketimpangan Sosial

Melalui inovasi produk, penguatan cerita kuliner, pengemasan pengalaman gastronomi, dan strategi pemasaran, potensi lokal dapat dikembangkan. Dan pengembangan ini akan menjadi daya tarik yang memperkuat identitas Kota Batu sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ditambahkan dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB), Ary Budiyanto SS MA bahwa perspektif antropologi dapat ikut memperkaya pembacaan gastronomi Kota Batu. Dalam kajiannya, gastronomi Kota Batu bisa terbentuk melalui interaksi sosial dan pengaruh masyarakat pendatang.

Salah satu pengaruh yang disoroti berasal dari masyarakat Lamongan, yang turut memperkaya lanskap kuliner daerah.

“Soto Lamongan dan gado-gado dengan bumbu siram hangat menjadi contoh kuliner yang hadir dalam dinamika keseharian masyarakat,” ujar Ary.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa identitas gastronomi tidak selalu terbentuk dari satu tradisi yang berdiri sendiri. Gastronomi berkembang melalui perjumpaan budaya, mobilitas masyarakat, adaptasi bahan pangan, serta kebiasaan makan yang tumbuh dan diterima dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu pria yang kini digandeng menjadi tim penyusun Study/Kajian Kelayakan Batu Kota Kreatif Gastronomi merupakan warga asli Kota Batu yang berdomisili di Glonggong, Kelurahan Temas, Kota Batu.

Menurut kajiannya, gastronomi Kota Batu perlu menelusuri bukan hanya asal-usul makanan, melainkan juga proses sosial dan sejarah yang membentuk keberadaan serta keberlanjutannya.

Dan untuk memahami hal tersebut, pihaknya melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Pemerintah Kota Batu telah menggelar Forum Group Discussion (FGD) pada akhir pekan kemarin.

Berita Terkait :  Kolaborasi DPRD Gresik dan CKPKP Beri Wawasan Kepala Desa tentang BBK

FGD yang digelar di Rumah Kemasan PLUT KUMKM Agrokreatif membahas kelayakan Batu sebagai Kota Kreatif Gastronomi. Forum ini menjadi ruang partisipatif untuk menyamakan perspektif, menggali potensi, dan memahami karakter gastronomi Kota Batu melalui perjalanan lintas era peradaban.

Untuk itu, dalam FGD ini Diskumperindag melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas hexahelix. Dimulai mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku usaha dan pertanian, komunitas kreatif, pelaku seni dan budaya, hingga unsur pariwisata, pemandu wisata, media, dan tim penyusun kajian.

“Keragaman perspektif tersebut diharapkan mampu memperkaya identifikasi potensi sekaligus membangun kesepahaman mengenai arah pengembangan gastronomi Kota Batu,” tambah Ary.

Kajian kelayakan diharapkan mampu mengidentifikasi makanan dan minuman yang memiliki keberlanjutan dalam ruang sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Dokumen kajian nantinya diharapkan dapat memetakan keterhubungan potensi pertanian, narasi sejarah, praktik budaya, kreativitas masyarakat, serta kebutuhan industri pariwisata sebagai satu kesatuan ekosistem gastronomi.

Pendekatan lintas sektor menjadi penting agar pengembangan gastronomi tidak berhenti pada promosi produk kuliner. tetapi juga menjaga pengetahuan lokal, memperkuat rantai nilai, mendorong inovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. [nas.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!