Sidoarjo, Bhirawa. – Sejumlah warga Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, mengakui menjual kembali beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang diterima gratis dari pemerintah.
Alasan yang disampaikan beragam. Warga mengeluhkan aroma beras tidak sedap, tidak mengembang saat dimasak, dan ditemukan kutu beras kecil berwarna hitam.
Salah seorang warga yang mengaku baru di rumahkan setelah apotek tempatnya bekerja bangkrut menuturkan, 30 kg beras SPHP atau tiga sak miliknya ditukar di Toko Sembako hanya dihargai 1 sak beras premium yang rasanya lebih enak.
”Itupun saya harus menambah sedikit uang,” katanya, belum lama ini.
Warga lain memilih memberikan beras SPHP kepada tukang becak. Meski sudah dicampur daun pandan dan beras lain, aroma apek tetap tercium saat dimasak. Ada pula yang menjualnya setelah menerima bantuan. Beras SPHP ukuran 10 kg dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per sak. Ada yang menjual ke pembuat lontong dan warga lain dengan alasan untuk kebutuhan lain.
Berdasarkan data Dinas Pangan dan Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, penyaluran beras SPHP di Sidoarjo kuartal III Tahun 2026 berlangsung Juli-September 2026. Distribusi dilakukan 20 Agustus hingga 25 September 2026 melalui Perum Bulog Cabang Surabaya.
Bupati Sidoarjo, Subandi terakhir menyerahkan beras SPHP di Kecamatan Sedati pada 24 September, diantaranya di Desa Betro dengan 232 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Desa Kwangsan 375 KPM, dan Desa Pulungan 168 KPM.
Subandi rutin melakukan monitoring penyaluran beras SPHP gratis ke desa-desa agar tepat sasaran. Bupati juga berpesan agar KPM tidak menjual kembali beras bantuan tetapi mengonsumsinya sendiri untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.
Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, termasuk desa penyangga kota, karena berbatasan langsung dengan Kecamatan Waru dan akses Bandara Juanda.
Di Kecamatan Gedangan, Desa Sawotratap, termasuk banyak warga desa yang protes paling keras. Karena banyak warga desa, dari Desil 1 loncat ke Desil 9, otomatis Bansos beras, PKH, BPJS PBI terancam putus. Di sini masih ada warga yang untuk makan saja sulit, sehingga terpaksa menjual beras SPHP Rp80-100 ribu/sak, untuk kebutuhan tunai. [kus.fen]




