Malang, Bhirawa – Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang berlangsung meriah, Minggu (4/10).
Sebanyak 1.500 lebih peserta memadati halaman kantor Bakorwil untuk mengikuti Lomba Peraturan Baris-Berbaris (LPBB) dan Festival Anak.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang perayaan seremonial, melainkan wadah pembentukan karakter generasi muda sekaligus wujud implementasi program Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Cerdas dan Jatim Sehat.
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, yang hadir membuka langsung acara tersebut menegaskan bahwa momentum hari jadi provinsi harus diarahkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini.
“Peringatan Hari Jadi Jawa Timur harus menjadi momentum untuk membangun optimisme dan semangat generasi muda. Anak-anak harus diberikan ruang untuk belajar, berkompetisi, berkreativitas, sekaligus membangun karakter,” ujar Asep di sela-sela kegiatan.
Asep menguraikan, pembentukan generasi unggul tidak cukup bertumpu pada kecerdasan akademik semata. Nilai kedisiplinan, sportivitas, keberanian, hingga kemampuan berkolaborasi menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Pembangunan daerah bukan hanya tentang infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi. Kita juga harus menyiapkan manusianya. Anak-anak hari ini adalah generasi yang kelak melanjutkan estafet pembangunan Jawa Timur,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat menonjol pada kompetisi LPBB yang diikuti 68 pleton lintas jenjang pendidikan dan kategori umum. Dengan estimasi 20 anggota per pleton, ajang ketangkasan baris-berbaris ini melibatkan sekitar 1.360 peserta.
Secara rinci, kategori SD diikuti 9 pleton, jenjang SMP 22 pleton, dan tingkat SMA mendominasi dengan 26 pleton. Selain pelajar aktif, kategori purna turut diramaikan oleh 8 pleton purna internal serta 3 pleton purna eksternal. Sepanjang lomba, para peserta diuji dalam hal keselarasan formasi, ketepatan aba-aba, konsentrasi, dan soliditas tim.
Pada saat bersamaan, panggung Festival Anak diikuti sekitar 150 peserta usia dini hingga sekolah dasar. Terdapat empat cabang lomba yang digelar untuk mengeksplorasi bakat anak, meliputi menyanyi solo, penyiar radio cilik, mewarnai, serta peragaan busana (fashion).
Asep menambahkan, integrasi kedua ajang tersebut mencerminkan keseimbangan antara olah disiplin fisik melalui baris-berbaris dan kebebasan berekspresi lewat seni budaya.
“Dukungan lintas elemen, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga komunitas, sangat diperlukan agar ruang tumbuh kembang positif bagi anak-anak di Jawa Timur semakin terbuka luas,” pungkasnya. [mut.gat]




