28 C
Sidoarjo
Sunday, October 4, 2026
spot_img

Menguatkan Literasi Ruang Publik Jurnalistik, Menjaga Keajegan Koran Bhirawa 58 Tahun

HUT Bhirawa 58 Tahun

Oleh:
Yunus Supanto, Wartawan Senior

Tidak mudah menjaga eksistensi penerbitan koran selama hampir enam dekade. Koran Bhirawa telah melampaui era zaman manual, elektrikal sampai digital. Sekaligus menyokong model ke-informasi-an pemerintah daerah Jawa Timur. Sejak reformasi (1998) pemerintah lebih memberi keleluasaan insan pers mengelola Bhirawa.

Bersamaan dengan persaingan usaha penerbitan pers di Jawa Timur yang mulai ketat. Memasuki era abad millenium (2005) beberapa koran “kuning” tutup terbit, seiring jurnalisme kesopanan, dan kejujuran.

Ekosistem informasi pada ruang publik sudah berubah total, dan selalu berubah cepat. Yang tidak mampu berubah (menyesuaikan diri) akan tergilas. Bahkan teknologi informasi kini telah memiliki pilar utama perubahan, dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence).

Tetapi penemu AI, Geoffrey Hinton, me-warning seluruh dunia, bahwa AI sangat membahayakan. Akan lebih pintar dibanding manusia. Bisa lepas kendali turut berburu kekuasaan. Bahkan bisa menjadi petaka dunia yang mengorbankan jutaan sampai milyaran orang. Maka Geoffrey Hinton, menyatakan menyesal memperkenalkan AI. Memilih mundur dari pekerjaannya di Google.

Saat ini AI sudah mampu menciptakan “padanan” manusia super. Pada dunia maya, AI menciptakan artis, penyanyi, atlet, sekaligus penjahat tak terkalahkan. Bahkan AI juga bisa menjadi tenaga profesional. Bisa jadi dokter (dengan resep yang harus diwaspadai).

Juga bisa menjadi arsitek, dengan rancang-bangun yang belum teruji. Saat ini yang umum, AI menjadi analis. Serta menjadi wartawan! Yang bisa menulis cerita berita super cepat dalam hitungan detik. Yakni dalam bentuk ChatGPT yang tergolong AI generatif. Bahkan konon, seluruh pidato tokoh tokoh dunia di-konfirmasi lebih dulu dengan ChatGPT, sebelum di-rilis.

Dunia media sosial (medsos) menjadi sarana paling ampuh kinerja AI. Terutama WhatsApp (untuk komunikasi harian), Instagram (untuk berbagi foto, dan cerita), facebook (multiguna), YouTube (konten video panjang, dan informasi visul), dan TikTok (yang memilik idurasi tonton paling lama). Seluruhnya dengan penggunaan yang menarik.

Berita Terkait :  Barantin Resmikan Instalasi Karantina Terpadu BKHIT Jatim

Ditonton oleh anak balita usia 2 tahun (sampai ketagihan) hingga lansia usia 90-an tahun. Hanya butuh biaya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu sebulan untuk paket internet.

Dengan gadget (handphone) di genggaman, diperoleh seluruh informasi, hiburan, dan kepuasan. Juga ilmu pengetahuan melalui mesin pencari (google) yang sangat pintar.

Pengetahuannya komplet. Termasuk hafal kitab suci Al-Quran 30 juz komplet, dan hafal ribuan hadits shahih. Bahkan bisa menyatakan hadits hasan (hadits yang baik tetapi di bawah kategori shahih) atau hadits dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu). Seluruhnya bisa diperoleh secara mudah, dan murah.

Maka medsos menjadi “Raja” informasi. Namun tetap berbeda dengan media mainstream (koran, majalah, televisi, dan radio). Terasa tak lengkap sebelum mengikuti informasi melalui koran, dan televisi.

Bahkan suatu informasi (peristiwa) belum bisa dipercaya sebelum dimuat koran, dan ditayangkan di televisi. Serta kebiasaan, percaya pada medsos biasanya dicibir, sebagai kurang pendidikan. Namun hanya sebagian kecil masyarakat memerlukan “keyakinan” informasi melalui media mainstream.

Perubahan Ekosistem Pers
Usaha media pers mainstream saat ini dalam keadaan “tidak baik-baik saja.” Termasuk media berbasis elektronika (radio dan televisi) juga tak mampu bersaing menghadapi kemajuan teknologi informasi. Hampir 95% radio siaran swasta, sudah tidak meng-udara.

Bahkan perusahaan pers raksasa (yang padat modal dan padat teknologi) di Eropa, bertumbangan. Guncangan yang sama, sebenarnya, juga dirasa koran harian kita, Bhirawa. Dibutuhkan perjuangan fisik, mental, dan kebatinan. Sekaligus menjaga profesionalitas.

Keterpurukan usaha pers bukan hanya dialami lembaga pers skala nasional, dan skala kecil (koran daerah). Melainkan juga pers global, yang tergolong “raksasa” media.

Dampaknya, pemerintah kehilangan sarana sosialisasi. Program pemerintah tidak bisa menjangkau seluruh daerah. Begitu pula unit distribusi, dengan ribuan armada, menjadi sumber lapangan kerja. Sedangkan halaman opini dijadikan “kolom” pengaduan masyarakat. Bahkan beberapa profesor mempublikasikan penelitian melalui koran.

Berita Terkait :  Puncak HKG PKK Ke-54, Arumi Bachsin Tegaskan Perkuat 10 Program Pokok PKK untuk Dukung Indonesia Emas 2045

Fungsi pers nasional, menyokong pemerintah membangun peradaban (kemasyarakatan) yang egalitarian. Di seluruh daerah koran-koran juga tumbuh dan berkembang dalam pengelolaan “putra daerah.”

Di Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera, masing-masing memiliki koran daerah yang cukup maju. Lebih dari setengah abad, sejak era 1950-an hingga tahun 2010, media mainstream (terutama koran, radio, dan televisi) tumbuh pesat. Terutama pada sisi literasi, dan ke-ekonomi-an.

Tiras koran pusat (Jakarta) bisa mencapai 800 ribu eksemplar per-hari. Misalnya, oplah terbesar Harian Kompas yang pernah dicapai adalah sekitar 750 ribu eksemplar pada edisi khusus saat ulang tahun ke-100 Soekarno.

Di Amerika Serikat (USA), oplah terbesar yang pernah tercatat untuk surat kabar adalah 3,6 juta eksemplar. Yakni yang dicetak oleh USA Today pada 12 September 2001 untuk edisi yang meliput peristiwa Serangan 11 September.

Namun serasa percaya tak percaya, oplag besar koran, tiba-tiba meredup sangat cepat. Banyak usaha pers (cetak dan elektronik) yang tutup, sebagai fenomena transformasi menuju media online.

Konon pemerintah sedang berupaya mem-fasilitasi supaya terbangun ekosistem yang tidak mematikan salahsatu pihak. Perlu keseimbangan baru sehingga media di tanah air dapat terlindungi melalui berbagai aturan. Pemerintah bisa hadir dalam perlindungan usaha pers.

Upaya perlindungan harus ditegakkan sendiri oleh perusahaan pers. Seperti Bhirawa telah beberapa kali melakukan regenerasi bidang redaksi dan pengelolaan perusahaan.

Walau pemerintah juga menyokong menanggung biaya ekspor kertas koran. diantaranya melalui Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Tetapi upaya pemerintah tidak cukup manjur. Kini pers nasional, dalam ancaman ke-tidak layak-an usaha penerbitan.

Keajegan 58 Tahun Bhirawa
Pada masa kini setiap orang bisa menjadi “wartawan” menulis berita di media sosial (medsos). Sekaligus memalsukan informasi, data dan pembelokan fakta sejarah. Tak terkecuali informasi palsu (hoax) kenegaraan. Tak jarang, kalangan pemerintahan (dan daerah) merilis informasi data palsu. Maka bersabar dalam “Pancaroba” tata informasi global, menjadi pilihan wajib seluruh insan pers media cetak.

Berita Terkait :  Pemkot Borong 3 Penghargaan Inotek Award 2025 Dari Pemprov Jatim

Tetapi masih banyak wartawan kukuh bekerja melaksanakan “jurnalisme perjuangan.” Terus maju menulis walau tanpa garansi kesejahteraan. Sehingga wajib ditempuh metode (kesabaran) survival.

Harus mampu bertahan hidup pada era Pancaroba informasi global. Bahkan beberapa koran besar kelas dunia, runtuh. Tidak terbit. Yang pertama runtuh, adalah, majalah ternama asal Amerika Serikat, Newsweek. Tidak terbit lagi sejak akhir tahun 2012. Padahal usianya sudah 80 tahun. Hampir seluruh koran daerah di AS, yang ber-tiras di atas 500 ribu eksemplar, telah gulung tikar.

Era digital telah mengubah model pemberitaan global, menjadi lebih cepat, lebih luas, dan murah. Usaha penerbitan pers, menghadapi tantangan “luar-dalam.” Tantangan penerbitan pers semakin ketat. Karena setiap orang, dan badan hukum, boleh menerbitkan surat kabar.

Sehingga usaha penerbita pers, nyaris tanpa perlindungan usaha. Padahal rantai usaha pers merupakan lapangan kerja yang cukup luas. Akibatnya, puluhan koran, tabloid, dan majalah berdedikasi telah tutup cetak.

Usaha pers yang memiliki fungsi strategis berdasar UU 40 Tahun 1999, seolah-olah dibiarkan berkinerja tanpa perlindungan. Dampaknya, pemerintah bisa kehilangan sarana sosialisasi (dan komunikasi dengan masyarakat).

Hingga kini nasib pers harus diperjuangkan sendiri secara spartan (kukuh). Pengalaman 58 tahun Bhirawa, menjadi pelajaran sangat berharga. Sekaligus menjadi kajian nasional. Kini hampir seluruh media mainstream, “meng-adopsi” metode bertahan Bhirawa. Terutama advertensi pariwara ke-pemerintahan.

Bhirawa, sebagai model literasi khas, akan tetap terbit. Karena masyarakat masih menunggu, (dan percaya) pada peliputan pers yang cerdas serta jurnalisme dedikatif yang biasa dipikul media mainstream.

Terutama berkait pers sebagai fungsi kontrol sosial. Bahkan Bhirawa telah meraih penghargaan jurnalistik, Anugerah Jurnalistik Adinegoro (Penghargaan Tertinggi Karya Jurnalistik Tingkat Nasional), satu-satunya dari Jawa Timur.

Maka segenap karyawan Bhirawa bertekad akan berupaya meningkatkan kinerja melayani informasi masyarakat. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!