31 C
Sidoarjo
Friday, September 18, 2026
spot_img

Ayah, ATM yang Tak Pernah Tutup

Oleh:
Jenia Ghaziah
Adalah Mahasiswa Prodi PGSD-2024 FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar.

Ayah adalah bank paling aneh di dunia. Ia tidak punya gedung megah, tidak punya petugas keamanan, tidak punya bunga deposito, bahkan tidak pernah mengirim pesan, “Saldo Anda tidak mencukupi.” Sepanjang hidupnya, ia hanya punya satu kebijakan moneter: anak-anak harus tetap hidup. Selama tangan masih bisa bekerja, uang akan dicari. Kalau saldo menipis, utang menjadi jalan keluar. Kalau utang menumpuk, tenaga kembali digadaikan. Bank sentral boleh menaikkan suku bunga, tapi seorang ayah tetap saja dipaksa menurunkan harga dirinya.

Pagi-pagi ia berangkat mencari uang ketika rumah masih menguap. Malam hari ia pulang membawa tubuh yang sudah menjadi arsip kelelahan. Anak-anak mungkin sudah tidur, tapi tagihan belum. Besok sekolah harus dibayar, listrik harus menyala, uang kuliah harus dikirim, cicilan harus berjalan. Dan di tengah semua itu, ayah masih menjadi ATM yang paling sopan: tidak pernah bertanya uang itu untuk apa, selama menurutnya anak membutuhkan.

Masalahnya, kata “butuh” zaman sekarang makin elastis. Dulu butuh berarti makan, sekolah, pakaian, dan tempat tinggal. Kini kebutuhan bisa berubah menjadi telepon pintar terbaru karena teman-teman sudah punya, sepatu bermerek karena takut dianggap miskin, nongkrong karena gengsi, liburan karena media sosial menuntut bukti bahwa keluarga baik-baik saja. Kemiskinan bukan lagi sekadar tidak punya uang. Kadang-kadang ia juga berarti tidak mampu mengikuti gaya hidup tetangga.

Di situlah ayah masuk sebagai korban paling setia dari ekonomi gengsi. Anak berkata, “Ayah, teman-teman sudah punya.” Kalimat sederhana itu bisa menjadi surat keputusan pencairan dana. Ayah tidak bertanya apakah barang tersebut sungguh diperlukan. Ia hanya menghitung: cukupkah uang bulan ini? Kalau tidak cukup, mungkin ada teman yang bisa dipinjam. Kalau teman tidak punya, ada aplikasi pinjaman. Kalau semua pintu tertutup, tinggal satu pintu yang terbuka: ayah harus bekerja lebih keras.

Berita Terkait :  Tingkatkan Layanan Jelang Angkutan Lebaran, KAI Daop 7 Bekali Pegawai dengan Keterampilan Medis

Sosiolog Thorstein Veblen (1899) menyebut fenomena semacam ini sebagai conspicuous consumption, yakni konsumsi yang dilakukan bukan semata karena kebutuhan, tapi untuk menunjukkan status sosial. Lebih dari satu abad kemudian, teorinya terasa seperti baru ditulis pagi tadi. Bedanya, dahulu orang memamerkan kekayaan melalui pakaian dan rumah. Kini status sosial bisa dipamerkan melalui gawai, tempat makan, kendaraan, perjalanan, bahkan foto secangkir kopi yang harganya mungkin setara dengan belanja dapur beberapa hari.

Lucunya, anak sering tidak tahu bahwa satu unggahan mewah bisa memiliki cicilan yang sangat nyata di rumah. Foto liburan berlangsung beberapa detik, tapi cicilannya bisa berbulan-bulan. Sepatu baru hanya dipakai beberapa musim, sementara ayah mungkin harus mengambil lembur untuk membayarnya. Di media sosial semua terlihat happy. Di buku tabungan, ceritanya kadang lebih mirip novel tragedi.

Pierre Bourdieu (1984) menjelaskan bahwa selera, gaya hidup, dan pola konsumsi juga berkaitan dengan posisi sosial dan modal budaya. Karena itu, konsumsi bukan sekadar membeli barang; ia dapat menjadi cara seseorang menampilkan identitas dan kelas. Persoalannya, ketika anak mulai mengukur harga dirinya dari apa yang dimiliki, ayah perlahan berubah fungsi menjadi pemasok modal gengsi.

Maka keluarga pun memiliki sistem ekonomi yang sangat unik. Ayah bekerja sebagai produsen, anak sebagai konsumen, dan rasa bersalah sebagai auditor. Ketika uang tersedia, semuanya lancar. Ketika uang habis, auditor mulai bekerja: “Masa begitu saja tidak bisa?” Tidak ada rapat direksi. Tidak ada laporan keuangan. Tidak ada audit independen. Hanya satu kesimpulan: ayah harus mengusahakan.

Berita Terkait :  Tingkatkan SDM, Puluhan Karyawan Perumda Tugu Tirta Kota Malang Dikuliahkan Gratis

Padahal ayah juga punya kebutuhan. Ia mungkin ingin membeli sepatu baru, mengganti motor yang sudah sering mogok, berobat ketika tubuh sakit, atau sekadar duduk minum kopi tanpa memikirkan tagihan. Tapi kebutuhan ayah biasanya ditempatkan paling akhir. Anak mendapat prioritas, istri mendapat kebutuhan rumah tangga, sementara ayah mendapat sisa. Dalam neraca keluarga, dirinya sering tercatat sebagai akun “lain-lain”.

Ironi paling pahit adalah ketika anak merasa ayah kurang memberi karena ayah tidak mampu memenuhi standar hidup yang dilihatnya di media sosial. Anak membandingkan keluarganya dengan keluarga orang lain, tapi tidak pernah membandingkan siapa yang membayar. Ia melihat mobil, tapi tidak melihat cicilan. Melihat rumah besar, tapi tidak melihat utang. Melihat liburan, tapi tidak melihat kartu kredit. Media sosial memang pandai menunjukkan kemewahan tanpa pernah menunjukkan bunga pinjamannya.

John Bowlby (1988), melalui teori keterikatan, mengingatkan bahwa anak membutuhkan rasa aman dan hubungan emosional dengan orang tua. Artinya, anak tidak tumbuh sehat hanya karena kebutuhan materialnya dipenuhi. Ia juga membutuhkan kehadiran. Ironisnya, ayah justru sering kehilangan waktu bersama anak karena bekerja lebih lama untuk memenuhi kebutuhan material yang terus berkembang.

Akhirnya, ada sebuah paradoks yang layak kita renungkan. Ayah bekerja agar anak mempunyai kehidupan lebih baik, tapi anak yang terlalu dimanjakan oleh hasil kerja itu bisa tumbuh menjadi manusia yang tidak pernah tahu arti cukup. Ayah ingin memberi masa depan, tapi tanpa sadar mungkin sedang mengajarkan bahwa cinta selalu berbentuk pemberian.

Berita Terkait :  TNI Panen Raya Tebu

Ayah, maafkan kami. Kami terlalu sering memasukkan kartu ke ATM-mu tanpa bertanya apakah mesin itu masih kuat. Kami meminta saldo, tapi tidak pernah melihat baterainya. Kami meminta transfer, tapi tidak pernah menghitung berapa jam kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya. Kami bahkan kadang kecewa ketika permintaan ditolak, seolah-olah ayah memang diciptakan untuk mengabulkan semua keinginan.

Kini kami sadar, tidak semua yang bisa dibeli harus dibeli. Tidak semua yang dimiliki teman harus dimiliki. Tidak semua kemewahan perlu dipamerkan. Dan tidak semua cinta harus dibuktikan melalui transfer uang.

Sebab suatu hari ATM itu akan berhenti. Bukan karena jaringan bermasalah, kartu kedaluwarsa, atau saldo tidak mencukupi, melainkan karena manusia memang memiliki batas. Ketika itu terjadi, kami mungkin baru menemukan fakta paling menyakitkan dalam laporan keuangan keluarga: saldo ayah ternyata bukan tidak terbatas; yang tidak terbatas selama ini adalah pengorbanannya.

Dan ketika layar kehidupan akhirnya menampilkan tulisan “Transaksi Gagal – Saldo Waktu Tidak Mencukupi,” barangkali kami akan sadar bahwa yang paling mahal bukan uang yang pernah ayah keluarkan, tapi waktu yang tidak pernah bisa kami transfer kembali kepadanya. Utang kepada bank bisa dilunasi dengan uang. Utang kepada ayah tidak. Sebab bank hanya mencatat bunga, sementara ayah membayar semuanya dengan umur.

———– *** ————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!