Surabaya, Bhirawa – Menjadi satu-satunya peserta yang masih berstatus pelajar tidak membuat langkah Siti Syahira Hasnainy Putri surut. Justru, posisi tersebut menjadi kekuatan bagi siswi kelas 12 SMA Negeri 15 Surabaya itu untuk membawa perspektif generasi muda dalam ajang Duta Bahasa Nasional 2026 di Jakarta, 16-18 September mendatang.
Siti Syahira merupakan Pemenang I Duta Bahasa Jawa Timur 2026. Di tingkat nasional, ia akan berhadapan dengan peserta dari berbagai provinsi yang memiliki latar belakang dan keunggulan masing-masing.
Bagi Siti, persiapan menuju tingkat nasional bukan sekadar berlatih untuk menghadapi kompetisi. Ia ingin memastikan misi kebahasaan yang dibawanya dari Jawa Timur dapat disampaikan dan memberikan kontribusi nyata. “Persiapannya cukup panjang karena di tingkat nasional ada banyak komponen yang dilombakan,” ujarnya, Selasa (8/9).
Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari krida kebahasaan, penulisan artikel dan pembuatan konten edukasi kebahasaan, memperdalam wawasan bahasa, sastra, dan literasi, hingga melatih kemampuan komunikasi untuk wawancara dan wicara publik.
Persiapan tersebut telah dilakukan sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Siti bersama tim juga terus mematangkan program yang akan dibawa untuk memperkenalkan kekayaan bahasa dan sastra Jawa Timur di tingkat nasional.
Namun, ada satu tantangan yang dirasakan Siti sebelum melangkah ke panggung nasional. Ia menjadi satu-satunya peserta yang masih berstatus pelajar. “Awalnya tentu ada rasa terintimidasi karena saya menjadi satu-satunya peserta yang masih berstatus pelajar,” katanya.
Alih-alih menjadikannya sebagai keterbatasan, Siti memilih mengubah kondisi tersebut menjadi peluang. Ia ingin membawa sudut pandang generasi muda yang menurutnya dapat menjadi pembeda dalam kompetisi. “Saya tidak ingin melihat status pelajar sebagai keterbatasan, tetapi sebagai kekuatan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Membawa Lontar Sri Tanjung
Salah satu misi yang akan dibawa Siti di tingkat nasional adalah memperkenalkan krida kebahasaan Monalisa, yakni pemodernan sastra kuno Lontar Sri Tanjung.
Melalui program tersebut, Siti ingin menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dan sastra daerah tidak harus berhenti sebagai upaya menjaga warisan masa lalu. Sebaliknya, warisan tersebut perlu dikemas agar tetap relevan dan dekat dengan generasi muda.
Krida Monalisa mengangkat sastra kuno Lontar Sri Tanjung dengan pendekatan yang menggunakan aksara Pegon dan bahasa Jawa dialek Using. Menurut Siti, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan bahasa dan sastra daerah kepada generasi seusianya.
“Kami berupaya mendekatkan bahasa dan sastra daerah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan. Jadi, saya ingin menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dan sastra bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membuatnya tetap hidup di generasi sekarang,” jelasnya.
Kecintaan Siti terhadap bahasa tidak muncul semata karena dirinya mengikuti ajang Duta Bahasa. Ia memandang bahasa sebagai bagian penting dari identitas dan budaya masyarakat. Baginya, bahasa bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tetapi juga menyimpan nilai, budaya, serta cara berpikir masyarakat.
Ia pun teringat pemikiran Nelson Mandela tentang pentingnya berbicara menggunakan bahasa seseorang untuk menyentuh sisi emosionalnya. “Dari situ saya menyadari bahwa bahasa daerah memiliki kedekatan emosional yang kuat. Karena itu, sebagai generasi muda, saya merasa perlu ikut menjaga agar bahasa daerah tetap dikenal dan digunakan,” ujarnya.
Merawat Bahasa Ibu
Upaya merawat bahasa daerah, menurut Siti, harus dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Karena itu, ia bersama tim berupaya mengenalkan bahasa daerah melalui berbagai media, termasuk artikel dan konten edukasi kebahasaan.
Pendekatan serupa diterapkan melalui Monalisa. Bahasa dan sastra daerah dikemas dengan pendekatan yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga sekaligus rasa ingin tahu generasi muda.
“Harapannya, melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka, tumbuh rasa bangga, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk terus menggunakan serta melestarikan bahasa daerah,” katanya.
Menariknya, Siti tidak ingin terlalu memikirkan siapa yang akan menjadi kompetitor terberat di tingkat nasional. Menurutnya, setiap daerah memiliki karakter dan keunggulan masing-masing. “Saya lebih fokus mempersiapkan diri dan tim sebaik mungkin. Setiap provinsi pasti memiliki keunggulan dan karakter masing-masing,” ungkapnya.
Bagi Siti, yang terpenting adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki Jawa Timur dan memberikan penampilan terbaik di tingkat nasional. Siti bukan nama baru dalam berbagai ajang prestasi. Sebelum menjadi Pemenang I Duta Bahasa Jawa Timur 2026, siswi kelahiran Palembang, 16 Desember 2007, tersebut pernah menerima beasiswa Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) 2024-2025.
Ia juga pernah meraih Medali Perak kategori Mixed Youth dalam Karangturi International Choir Competition ke-6 tahun 2023.
Kini, pengalaman tersebut menjadi bekal Siti untuk menghadapi tantangan baru. Di Jakarta, ia tidak hanya membawa nama pribadi maupun sekolah, tetapi juga membawa misi Jawa Timur untuk membuat bahasa dan sastra daerah tetap hidup di tengah generasi muda.
Baginya, menjadi Duta Bahasa bukan sekadar gelar, melainkan ruang untuk membuktikan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam merawat identitas budaya melalui bahasa. [ina.wwn]


