Kota Kediri, Bhirawa. – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri memperkuat penemuan kasus Tuberkulosis (TB) melalui tracing dan skrining yang diintegrasikan dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat deteksi sekaligus pengobatan penderita TB sebagai bagian dari upaya menuju eliminasi TB 2030.
Plt Kepala Dinkes Kota Kediri, dr Hamida SpP mengatakan, program tracing dan skrining menyasar 50 locus yang tersebar di sembilan puskesmas. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap mulai Agustus hingga September serta awal November 2026.
”Hingga penghujung Agustus ini, sudah dilaksanakan di 12 locus. Setiap locus targetnya 100 warga, terutama mereka yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TB,” kata Hamida, Kamis (27/8).
Menurut dr Hamida, penguatan tracing diperlukan karena kasus TB masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Di Kota Kediri sendiri, tercatat 1.240 kasus TB ditemukan sejak Januari hingga Agustus 2026. Semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan maka semakin cepat pula penderita mendapatkan pengobatan. Hal itu penting untuk mencegah penularan TB di lingkungan sekitar.
”Dengan masih tingginya kasus TB, diperlukan upaya untuk menemukan sebanyak mungkin kasus yang ada di masyarakat. Semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin cepat kita bisa melakukan pengobatan sehingga penularan dapat dicegah,” jelasnya.
Dalam kegiatan tracing, warga yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TB menjalani pemeriksaan di lokasi yang telah ditentukan. Pemeriksaan dilakukan secara terpadu, mulai dari skrining TB, CKG hingga pemeriksaan menggunakan perangkat X-ray portable.
Penggunaan X-ray portable memungkinkan pemeriksaan dilakukan langsung di lokasi sasaran. Dengan demikian, masyarakat yang memiliki risiko dapat menjalani pemeriksaan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan terlebih dahulu.
Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas dan Dinkes Kota Kediri, serta radiografer dari RS Kilisuci. Dari pelaksanaan tracing yang telah dilakukan, terdapat sejumlah peserta yang menunjukkan dugaan TB berdasarkan hasil pemeriksaan.
dr Hamida mengatakan, hasil X-ray yang menunjukkan kecurigaan TB selanjutnya dikonsultasikan dengan dokter spesialis paru. Jika pemeriksaan lanjutan memastikan pasien terdiagnosis TB, pengobatan akan diberikan melalui puskesmas.
dr Hamida juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala TB, terutama batuk yang tidak kunjung sembuh selama dua minggu atau lebih. Gejala tersebut dapat disertai penurunan berat badan dan nafsu makan, berkeringat pada malam hari, serta demam berkepanjangan.
dr Hamida menegaskan, pengobatan TB harus dilakukan sampai tuntas. Pemerintah telah menyediakan obat TB secara gratis sehingga pasien diharapkan disiplin mengikuti pengobatan.
”Obat TB sudah disediakan secara gratis dan ditanggung pemerintah. Yang paling penting adalah kepatuhan pasien untuk menjalani pengobatan sampai tuntas. Dukungan keluarga dan lingkungan juga sangat diperlukan,” ujarnya.
Selain tenaga kesehatan, dukungan masyarakat juga dibutuhkan untuk memastikan penderita menyelesaikan pengobatan. Pemerintah kelurahan, Bhabinkamtibmas, keluarga dan lingkungan sekitar diharapkan ikut mendukung proses pengobatan pasien.
Dinkes Kota Kediri berharap penguatan tracing dapat menemukan kasus TB yang selama ini belum terdeteksi. Dengan penemuan dan pengobatan lebih cepat, mata rantai penularan di masyarakat diharapkan dapat ditekan untuk mendukung target eliminasi TB pada 2030. [van.nov.fen]



